Jarak Pandang Cuma 10 Meter, Cerita Srikandi SalamAid Dikepung Asap Kebakaran Hutan dan Lahan

Muhamad Rifki Fauzan • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 21:51 WIB
Srikandi SalamAid saat menceritakan pengalamannya memadamkan api di kebakaran hutan dan lahan Kalimantan.(Raissa/Magang Radar Bogor)
Srikandi SalamAid saat menceritakan pengalamannya memadamkan api di kebakaran hutan dan lahan Kalimantan.(Raissa/Magang Radar Bogor)

RADAR BOGOR - Kobaran api membentang luas di hadapan Adel. Kakinya berdiri tegap di tengah insiden Kebakaran Hutan dan Lahan Kalimantan. 

Selang air nyaris tak pernah lepas digenggamnya. Alat itu sudah seperti teman, yang membersamainya selama pengabdian. 

Momen itu menjadi salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Srikandi SalamAid tersebut. Untuk pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan kebakaran

“Ketika bertemu api di hadapan mata, apinya bener-bener beberapa ratus hektare dan kita hanya sebuah manusia yang kecil, apalagi perempuan kita berlima. Kita memegang selang yang berat,” kata Adel.

Selama dua pekan berada di Kalimantan, tugas Adel bersama tim bukan hanya memadamkan api. Mereka juga memberikan pelayanan kesehatan hingga pendampingan psikososial kepada masyarakat yang terdampak karhutla.

Baca Juga: Kantornya Digeledah Polda Metro Jaya, Ini Penjelasan BPN Kabupaten Bogor

Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian. Sambil mengajak mereka mewarnai dan bercerita, Adel justru menemukan kisah-kisah yang menggambarkan betapa dekatnya kebakaran dengan kehidupan mereka.

Salah satunya ketika seorang anak menggambar langit berwarna oranye. Ketika ditanya alasannya, jawaban polos sang anak membuat hati Adel tersentuh.

“Kenapa langitnya warna oranye?” aku tanya. Kata dia krena kebakaran, di situ rada tersentuh hati aku,” tuturnya.

Ada pula anak yang menggambar seekor monyet dengan warna hitam. Ketika ditanya, lagi-lagi jawabannya berkaitan dengan kebakaran yang mereka saksikan di lingkungan sekitar.

“Ketika mewarnai ada monyet, dia mewarnainya dengan warna hitam. ‘Karena monyetnya terbakar,’ kata dia gitu ceritanya,” ujar Adel.

Bagi Adel, cerita sederhana itu menunjukkan bagaimana karhutla tidak hanya meninggalkan asap dan lahan terbakar. Kebakaran juga ikut membentuk cara anak-anak melihat lingkungan dan kehidupan di sekelilingnya.

Kondisi di lapangan sendiri jauh dari kata mudah. Asap pekat membuat jarak pandang menjadi sangat terbatas, bahkan pohon yang berada beberapa meter di depan mata bisa tidak terlihat.

“Asapnya tuh bener-bener kita melihat dari sini ke pohon itu aja tuh udah enggak kelihatan. Mungkin kurang dari 10 meter, lima meter bahkan, jarak pandang ya itu di kota. Sudah full asap,” ungkapnya.

Saat berada semakin dekat dengan titik api, kondisinya lebih parah. Jarak pandang antarorang bahkan hanya sekitar dua meter, sementara asap membuat mata terasa perih.

“Apalagi ketika memang dekat api itu jarak pandang orang ke orang tuh dua meter. Itu udah enggak kelihatan, udah bener-bener tebal dan perih ke mata asapnya,” katanya.

Di Lintang Batang, api yang besar membuat Adel dan tim harus menggunakan perlengkapan pelindung. Mulai dari kacamata hingga masker berlapis dikenakan untuk mengurangi dampak asap.

Namun, perlengkapan tersebut tidak sepenuhnya membuat mereka terbebas dari asap. Mata tetap terasa perih dan memerah, bahkan rasanya seperti terkena gas air mata.

“Pakai kacamata juga agar aman, pakai masker dobel segala rupa, tetap masuk dan perih mata kita, mata merah kayak kena gas air mata,” tuturnya.

Pengalaman lain yang tak kalah mengejutkan adalah ketika Adel pertama kali memegang selang pemadam. Selama ini, ia mengira proses pemadaman tak jauh berbeda dengan menyiram tanaman menggunakan air.

Ternyata tekanan air yang keluar dari nozzle begitu kuat. Tubuh harus memiliki kuda-kuda yang kokoh agar selang tidak bergerak liar dan membahayakan orang di sekitarnya.

“Pas kita pertama kali megang selang dan megang nozzle, itu bener-bener berat banget. Badan kita tuh harus kuda-kudanya kuat, tangan kita posisinya sudah pas, baru kita bisa memadamkan,” jelas Adel.

Dampak kebakaran juga dirasakan langsung masyarakat. Di Lintang Batang, tim menemukan tiga rumah yang terbakar dan warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.

“Ada korban, cuma enggak parah sih. Korbannya bukan terbakar, tapi kayak sesak napas dan sudah ISPA,” ungkapnya.

Pemandangan itu membuat Adel bertanya-tanya. Baginya, kebakaran yang terus berulang setiap tahun seharusnya tidak hanya dihadapi ketika api sudah muncul, tetapi juga dicari akar persoalannya.

“Kenapa ini harus terulang setiap tahun? Kenapa enggak dicari solusinya bagaimana biar ini tidak terulang,” ucapnya.

Tak hanya manusia, hewan-hewan juga menjadi korban. Salah satu yang ditemukan Adel adalah anak ular kecil yang berada di area terdampak kebakaran.

Melihat hewan tersebut, ia teringat bagaimana seharusnya satwa hidup di lingkungan yang asri. Namun, kebakaran membuat mereka kehilangan tempat tinggal dan harus ikut menghadapi panasnya api.

“Kadang sedih gitu ya rasanya. Mereka harusnya hidup di hutan yang asri, tapi mereka harus merasakan tempat tinggal dia terbakar,” katanya.

Dua pekan berada di lapangan akhirnya memberikan banyak pelajaran bagi Adel. Salah satunya tentang bagaimana masyarakat setempat sudah begitu terbiasa menghadapi asap dan kebakaran yang datang berulang.

Ketika membagikan masker, misalnya, seorang warga justru menolak dengan santai. Ia mengatakan sudah terbiasa dengan kondisi tersebut dan meminta Adel yang menggunakan masker.

“‘Kami sudah terbiasa, Kak. Kakak aja yang pakai masker,’ katanya gitu. Jadi kan kita langsung mundur, kita langsung mengevaluasi bahwa mungkin warga Kalimantan sudah terbiasa dengan asap ini,” tuturnya.

Berbagai tantangan itu tidak membuat Adel berpikir untuk menyerah. Seorang rekannya bahkan sempat terjeblos ke lahan gambut, sehingga mereka harus tetap memperhatikan keselamatan di tengah tugas.

Namun, bagi Adel, menjadi relawan berarti menyelesaikan tanggung jawab yang sudah dimulai. Selama masih dibutuhkan, meninggalkan lokasi sebelum tugas selesai bukan pilihan.

“Kalau untuk menyerah tentu tidak. Karena kita memang tujuan awal kita datang ke sana untuk membantu. Sukarelawan tuh harusnya tidak pernah keluar kata menyerah ketika kita dapat tantangan apa pun,” tegasnya.

Keberangkatan Adel ke Kalimantan sendiri mendapat restu penuh dari kedua orang tuanya. Pengalaman sering mendaki gunung membuat sang ayah dan ibu memahami bahwa Adel sudah terbiasa menghadapi aktivitas yang membutuhkan fisik dan mental.

Saat meminta izin untuk ikut memadamkan karhutla, jawaban orang tuanya justru singkat. Mereka mempersilakan Adel berangkat dan menjalankan tugas kemanusiaannya.

“Ketika aku izin, aku ingin ke Kalimantan untuk memadamkan karhutla di Kalimantan, ‘Silakan.’ Langsung. Karena mungkin Ayah dan Mama juga melihat latar belakang diri aku, fisik dan mental,” pungkasnya (bay)

Editor : Eka Rahmawati
SalamAid hutan kebakaran