Produksi Padi Terkendala Air dan Hama, IPB University Dorong Penguatan Ekosistem Beras Merauke

Fikri Rahmat Utama • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 11:48 WIB
Pelatihan Penguatan Kapasitas Petani dalam Pengendalian Hama Penyakit Padi Berkelanjutan yang digelar Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University. (Foto: IPB for Radar Bogor)
Pelatihan Penguatan Kapasitas Petani dalam Pengendalian Hama Penyakit Padi Berkelanjutan yang digelar Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University. (Foto: IPB for Radar Bogor)

RADAR BOGOR - Produksi padi di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, menghadapi sejumlah kendala. Persoalan air hingga hama dan penyakit turut memengaruhi produktivitas petani.

Kondisi itu mengemuka dalam pelatihan “Penguatan Kapasitas Petani dalam Pengendalian Hama Penyakit Padi Berkelanjutan” yang digelar Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University di Balai Kampung Yasa Mulya (SP2), Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Kamis 10 September 2026.

Kegiatan itu diikuti sedikitnya 100 petani dari sejumlah kampung di Distrik Tanah Miring. Pelatihan menghadirkan Swastiko Priyambodo, dosen Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB University.

Dalam kegiatan tersebut, petani mendapat materi tentang hama dan penyakit. Mereka juga menyampaikan berbagai persoalan dalam budidaya padi.

Air Jadi Kendala Petani

Ketersediaan air menjadi salah satu persoalan yang banyak disoroti. Kondisi itu dinilai berdampak langsung terhadap hasil panen.

Supiono, petani dari Kampung Yasa Mulya, mengatakan persoalan air bahkan menyebabkan gagal panen. Ia berharap sarana pengelolaan air mendapat perhatian.

Baca Juga: Jelang Persija Jakarta vs Persib Bandung, Shin Tae-Yong Sampaikan Hal Ini

“Keluhannya masalah air yang mengakibatkan gagal panen. Harapannya pembersihan dan pembaruan embung serta parit. Semua pihak yang terlibat bisa bertanggung jawab,” ujar Supiono.

Keluhan serupa disampaikan Ahyani dari Kampung Yabamaru. Ia berharap sistem irigasi diperhatikan agar aliran air dapat menjangkau wilayah Tanah Miring secara optimal.

Koordinator Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University, Doki, mengatakan embung dan parit penting untuk mengatur ketersediaan air.

“Tentunya embung dan parit menjadi penting agar air dapat dikelola sesuai kebutuhan tanaman, terutama ketika kondisi cuaca berubah dan ketersediaan air tidak menentu,” katanya.

Pemupukan dan Kondisi Tanah

Selain air, petani juga menghadapi persoalan pemupukan dan kondisi tanah. Ahmad Saepul dari Kampung Yabamaru menyampaikan pengalamannya setelah menggunakan pupuk urea dan NPK.

Pengalaman penggunaan pupuk kandang sapi yang telah difermentasi juga menjadi bahan diskusi. Pembahasan tersebut menyoroti pentingnya pengelolaan bahan organik dan pemupukan sesuai kondisi tanah.

Pelaku usaha Rice Milling Unit (RMU) di Merauke, Ardian Simanullang, menilai peningkatan kapasitas petani penting untuk menghadapi persoalan produksi.

“Pelatihan sangat penting bagi petani di Merauke. Kekeringan ekstrem membuat produksi pertanian padi menurun. Belum lagi petani harus bertarung dengan hama dan penyakit,” kata Ardian.

Menurut dia, petani perlu mengikuti perkembangan pengetahuan dan teknologi. Hal itu diperlukan agar petani dapat menghadapi berbagai persoalan produksi.

Hama dan Penyakit Padi

Persoalan berikutnya yakni hama dan penyakit tanaman. Swastiko menjelaskan sejumlah hama utama tanaman padi.

Baca Juga: Cara Mudah Daftar Akun Aplikasi Cek Bansos, Panduan Cek Desil, Fitur Usul dan Sanggah

Di antaranya wereng, penggerek batang, walang sangit, tikus, keong emas, dan burung pemakan bulir. Ia juga menjelaskan sejumlah penyakit tanaman.

Swastiko menekankan pentingnya mengenali gejala sebelum menentukan tindakan pengendalian. Dengan begitu, petani dapat memilih penanganan sesuai kondisi tanaman.

Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University menilai berbagai persoalan tersebut saling berkaitan.

Pengelolaan air, pemupukan, kondisi lahan, teknologi, serta pengendalian hama dan penyakit perlu disesuaikan dengan kebutuhan petani.

Anggota Tim 5, Laila Azizah Syukur, mengatakan persoalan tersebut dapat memengaruhi hasil produksi.

“Ketika pengelolaan pupuk dan lingkungan tidak tepat, pertumbuhan tanaman juga dapat terganggu,” jelas Laila.

Kegiatan tersebut menjadi tindak lanjut dari FGD “Analisis Rantai Nilai dalam Penguatan Ekosistem Bisnis Beras Lokal Merauke” yang digelar Tim 5 pada 29 Agustus 2026.

Baca Juga: Rujak Uleg Ci Lian Hadir di Bogor, Ada Rujak Bumbu Kacang Mete yang Medok

Pelatihan ini dipimpin Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University yang diketuai Dr. Doni Sahat Tua Manalu.

Masukan petani dalam FGD kemudian ditindaklanjuti melalui kegiatan peningkatan kapasitas. Upaya itu diarahkan untuk memahami persoalan produksi di tingkat lahan.

Penguatan produksi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem beras lokal Merauke. Ekosistem tersebut mencakup produksi hingga pengolahan dan pemasaran. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
merauke pelatihan ipb university