RADAR BOGOR - Semangat pagi sobat Radar Bogor.
Mungkin tak banyak yang tahu, tiap tanggal 14 September adalah Hari Kunjung Perpustakaan.
Salah satu momentum klasik, di tengah masyarakat yang nyaris tak pernah lepas dari gawai.
Ya, sekarang mencari informasi sangat mudah, cukup mengetik beberapa kata di mesin pencari, tanpa perlu repot mendatangi rak-rak buku.
Baca Juga: Warga Datangi Polsek Megamendung Bogor Terkait Bank Emok
Informasi pun langsung bermunculan.
Cepat.
Mudah.
Praktis.
Tapi, apakah kita benar-benar menjadi lebih berpengetahuan?
Pertanyaan itu, menurut saya sih penting.
Sebab di tengah derasnya arus informasi, persoalan masyarakat hari ini bukan lagi kekurangan informasi.
Justru sebaliknya, kita kebanjiran informasi.
Setiap hari, layar gawai menyajikan berita, opini, video, potongan pernyataan, hingga berbagai klaim yang belum tentu benar.
Hebatnya, semua datang bersamaan.
Baca Juga: Terungkap, Ini 7 Penyebab PPPK Paruh Waktu Diberhentikan Tahun 2026
Ironisnya, kita lebih rajin membagikan daripada membaca dan memahaminya.
Cepat Membaca, Cepat Percaya
Kebiasaan membaca kita pun, perlahan berubah.
Judul dibaca, isinya dilewati.
Potongan video ditonton beberapa detik, lalu kesimpulan dibuat.
Satu unggahan dapat ribuan tanda suka, lantas dianggap sebagai kebenaran.
Padahal, banyak hal dalam kehidupan tak sesederhana judul berita atau durasi video pendek.
Di sinilah, perpustakaan menemukan relevansinya.
Perpustakaan tak bisa mengalahkan kecepatan media sosial.
Baca Juga: Bansos PKH BPNT September Masih Cair, 10 Daerah Ini Sudah Masuk Status SI
Tapi, memang tak perlu juga sih.
Sebab, perpustakaan memiliki tugas yang berbeda.
Ya, mengajarkan kita untuk tak selalu tergesa-gesa.
Pertama, membaca buku membutuhkan waktu.
Baca Juga: Bantuan Keuangan Cair, Jalan Kampung Pancawati Bogor Mulai Dibangun
Kedua, memahami gagasan butuh kesabaran.
Ketiga, menelusuri pengetahuan butuh ketekunan.
Dan justru tiga hal itulah, yang semakin mahal di era digital.
Kita hidup dalam zaman ketika semua orang bisa berbicara, tetapi tidak semuanya mau membaca sebelum berbicara.
Semua orang bisa menyebarkan, tetapi belum tentu mau memeriksa kebenarannya.
Semua orang bisa berkomentar, tetapi belum tentu memahami persoalannya.
Perpustakaan Bukan Masa Lalu
Karena itu, keliru jika perpustakaan dianggap sebagai simbol masa lalu yang akan ditinggalkan karena teknologi.
Perpustakaan, justru harus menjadi bagian penting dari masa depan.
Baca Juga: Lahan Kosong Seluas 1.500 Meter Persegi di Rumpin Bogor Kebakaran, Diduga Dipicu Puntung Rokok
Bukan hanya sebagai tempat menyimpan buku, melainkan sebagai ruang publik untuk bertemu dengan pengetahuan.
Tempat anak-anak mengenal dunia lebih luas.
Tempat pelajar memperdalam ilmu.
Tempat masyarakat menemukan perspektif, yang mungkin tidak mereka dapatkan dari linimasa media sosial.
Perpustakaan juga harus terus beradaptasi.
Koleksi digital, layanan berbasis teknologi, ruang kreatif, kegiatan literasi, hingga berbagai program yang membuat anak muda merasa nyaman berada di dalamnya, adalah bagian dari kebutuhan zaman.
Namun, secanggih apa pun fasilitasnya, tujuan akhirnya tetap sama, membangun masyarakat yang gemar membaca dan mampu berpikir kritis.
Jangan Puas Hanya Karena Punya Gawai
Hari Kunjung Perpustakaan, semestinya menjadi momentum untuk mengoreksi cara kita memperlakukan informasi.
Jangan sampai kita merasa sudah pintar, hanya karena setiap hari berselancar di internet.
Baca Juga: Ratusan ASN Pensiun Tahun Ini, Pemkot Bogor Semakin Kekurangan SDM
Jangan sampai kita merasa sudah tahu banyak hal, hanya karena mengikuti berbagai akun.
Dan jangan sampai, banyaknya informasi yang masuk ke kepala justru membuat kita kehilangan kemampuan untuk membedakan fakta dan opini.
Sebab, literasi bukan sekadar kemampuan membaca huruf.
Baca Juga: Summarecon Bogor Perkuat Ekosistem Kawasan, Hunian dan Fasilitas Makin Lengkap
Literasi adalah kemampuan memahami apa yang kita baca, mempertanyakan apa yang kita terima, dan menggunakan pengetahuan itu secara bertanggung jawab.
Maka, mengunjungi perpustakaan bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang.
Perpustakaan adalah latihan untuk 'memperlambat' diri di tengah dunia yang serba cepat.
Latihan untuk membaca, sebelum menyimpulkan.
Latihan untuk memahami, sebelum menghakimi.
Dan latihan untuk berpikir, sebelum ikut menyebarkan.
Baca Juga: Terakhir Besok, Ini Persyaratan Usulan Perpanjangan PPPK Paruh Waktu 2026
Pada akhirnya, Hari Kunjung Perpustakaan tak semestinya hanya menjadi perayaan satu hari.
Perpustakaan harus menjadi pengingat, masa depan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh gedung-gedung tinggi, jalan yang semakin lebar, atau teknologi yang semakin canggih.
Masa depan juga ditentukan oleh seberapa banyak masyarakatnya mau membaca, belajar dan berpikir. (*)
Lucky Lukman Nul Hakim, Pemred radarbogor.jawapos.com
Editor : Siti Dewi Yanti