RADAR BOGOR - Limbah kulit kopi dan kotoran ternak di Desa Sumberdem, Kabupaten Malang, mulai dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Tim Revolusi Kopi dari IPB University bersama Universitas Negeri Malang (UM) memasang biodigester sekaligus memberikan pelatihan penggunaannya kepada masyarakat.
Teknologi tersebut mengolah bahan organik melalui proses anaerobik untuk menghasilkan biogas.
Tak hanya menjadi sumber energi, proses itu juga menghasilkan bioslurry yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik untuk pertanian.
Ketua tim Revolusi Kopi, Ir. Yessie Widya Sari dari Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University mengatakan, program tersebut tidak hanya ditujukan untuk mengenalkan teknologi kepada masyarakat.
“Melalui Revolusi Kopi, kami berharap dapat membangun ekosistem kopi yang lebih berkelanjutan, tetapi solusinya benar-benar lahir, diuji, dan dikembangkan bersama masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga: Kawasaki Ninja H2 2027 Resmi Meluncur, Mesin Dirombak dan Tenaga Makin Buas
Desa Sumberdem sendiri diposisikan sebagai living lab. Melalui konsep tersebut, perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah desa, hingga mitra lainnya bersama-sama mengembangkan solusi berdasarkan persoalan yang ditemukan di lapangan.
Teknologi biodigester yang digunakan berupa tipe kantong atau bag digester. Bentuknya relatif sederhana, portabel, serta mudah dipasang dan dipelihara.
Pemasangan dan pelatihan dilakukan dengan dukungan Sustainability dan Resilience (su-re.co).
Organisasi itu bergerak dalam pengembangan solusi keberlanjutan dan ketahanan iklim.
Teknologi tersebut juga telah dikembangkan untuk memanfaatkan limbah organik, termasuk limbah kopi, menjadi energi bersih dan pupuk.
Kepala Desa Sumberdem, Purwati, S.E. berharap program Revolusi Kopi tidak berhenti pada kegiatan tersebut.
Ia ingin teknologi yang diperkenalkan dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi masyarakat.
“Kami berharap kegiatan Revolusi Kopi tidak berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi masyarakat Sumberdem, termasuk dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Selain pengolahan limbah, Revolusi Kopi juga mendorong pengembangan ketertelusuran digital atau digital traceability untuk komoditas kopi.
Upaya tersebut diharapkan dapat membuat produk kopi Sumberdem lebih mudah dikenal sekaligus memiliki nilai tambah.
Baca Juga: Digitalisasi Bansos Oktober, PKH, BPNT hingga PBI-JKN Masuk Portal Perlinsos
“Kami juga berharap Sumberdem menjadi desa yang melek teknologi. Melalui ketertelusuran digital, kopi Sumberdem nantinya dapat semakin dikenal dan memiliki nilai tambah,” lanjut Purwati.
Sementara itu, Sekretaris LPPM Universitas Negeri Malang, Hary Suswanto, mengatakan, kolaborasi tersebut merupakan kelanjutan hubungan antara UM dan Desa Sumberdem.
Kehadiran IPB University diharapkan semakin memperkuat kerja sama dalam membawa hasil riset perguruan tinggi lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Kegiatan tersebut juga mendapat apresiasi dari Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kemdiktisaintek, Prof. Eng. Yudi Darma.
Menurutnya, masyarakat tidak seharusnya hanya menjadi penerima teknologi. Mereka juga perlu dilibatkan dalam mengidentifikasi persoalan dan mengembangkan solusi bersama perguruan tinggi.
“Bapak-Ibu jangan sungkan menyampaikan kalau ada masalah di lapangan. Sampaikan kepada tim IPB dan UM. Justru dari persoalan-persoalan itulah kita dapat mencari solusi bersama melalui sains dan teknologi,” pesannya.
Ia menyebut, kolaborasi yang dibangun melalui komoditas kopi juga dapat dikembangkan ke potensi desa lainnya.
Baca Juga: Area Tugu Narkoba Kota Bogor Ditata Ulang, Anggaran Capai Rp400 Juta
Penguatan koperasi dan BUMDes dinilai penting agar penerapan teknologi berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat.
Melalui biodigester tersebut, limbah yang sebelumnya dianggap sebagai buangan mulai diarahkan menjadi sumber daya.
Limbah kopi dan peternakan dapat menghasilkan energi, sementara hasil sampingnya kembali dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian. (bay)
Editor : Yosep Awaludin