RADAR BOGOR - Aktivitas Gunung Anak Krakatau, kembali menarik perhatian setelah muncul 2 bentukan menyerupai pulau kecil di sekitar gunung api tersebut.
Fenomena ini, terpantau setelah Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam pada awal September 2026.
Kemunculan dua bentukan tersebut dilaporkan oleh pelaut dan relawan yang melakukan pelayaran sekaligus pemotretan di kawasan Krakatau pada 22 September 2026.
Badan Geologi kemudian, mencermati temuan tersebut melalui citra satelit Sentinel.
Baca Juga: Bukan Cuma Tes Masuk, Karier ASN Kini Diuji Lewat Sistem Baru
Hasil pemantauan menunjukkan, adanya dua bentukan menyerupai pulau kecil di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau.
Muncul Setelah Erupsi Menerus
Kepala Badan Geologi, Lana Saria menjelaskan, Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda dan secara administratif masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Lampung.
Meski berada di wilayah Lampung Selatan, pemantauan aktivitas Anak Krakatau dilakukan melalui dua pos pengamatan.
Masing-masing berada di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.
Dalam laporan Badan Geologi, aktivitas Anak Krakatau kembali meningkat sejak Juli 2026.
Statusnya dinaikkan menjadi Level III atau Siaga pada 2 Juli 2026.
Aktivitas erupsi kemudian terus berlangsung.
Hingga 3 September 2026 tercatat serangkaian erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran material pijar dan abu vulkanik.
Puncaknya terjadi pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB.
Baca Juga: SRTC Bogor Lahirkan Dua Atlet yang Perkuat Timnas Tenis Indonesia U-12
Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB, atau berlangsung sekitar 25 jam.
Erupsi tersebut menghasilkan aliran lava yang bergerak ke arah barat laut, barat hingga barat daya.
Berdasarkan analisis citra satelit Sentinel pada 15 September 2026, tubuh Gunung Anak Krakatau bertambah luas sekitar 32,8 hektare.
Dua Bentukan Pulau Masih Dikaji
Selain perubahan pada tubuh utama gunung api, citra Sentinel memperlihatkan dua bentukan yang menyerupai pulau kecil.
Satu berada di sektor barat laut, sekitar 760 meter dari pesisir sisi barat laut Anak Krakatau.
Sementara, satu lainnya berada di sektor tenggara, sekitar 495 meter dari pesisir sisi tenggara.
Kemunculan kedua bentukan tersebut diperkirakan berkaitan dengan erupsi menerus yang berlangsung pada 4–6 September 2026.
Namun, Badan Geologi belum memastikan, kedua bentukan itu merupakan pusat erupsi baru.
Lana Saria menegaskan, citra satelit saja belum cukup untuk memastikan asal material maupun proses terbentuknya kedua bentukan tersebut.
“Apakah kedua pulau tersebut merupakan pusat erupsi baru atau bukan, masih memerlukan data terbaru, analisis serta kajian lebih lanjut,” ungkap dia dalam keterangan tertulisnya, Sabtu 26 September 2026.
Badan Geologi masih akan mencocokkan citra satelit, sebelum dan sesudah erupsi serta melakukan verifikasi lapangan ketika kondisi memungkinkan.
Jika nantinya terbukti material vulkanik memang keluar dari kedua lokasi tersebut, temuan ini dapat membantu para ahli memahami proses erupsi serta perubahan lokasi keluarnya material vulkanik.
Meski begitu, kemunculan dua bentukan tersebut tidak otomatis berarti akan segera terjadi erupsi di kedua lokasi maupun terbentuknya gunung api baru.
Status Anak Krakatau Kini Waspada
Di sisi lain, aktivitas Gunung Anak Krakatau menunjukkan kecenderungan menurun setelah erupsi menerus pada awal September.
Badan Geologi kemudian menurunkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Level III atau Siaga menjadi Level II atau Waspada pada 21 September 2026 pukul 18.30 WIB.
Penurunan status tersebut dilakukan berdasarkan hasil evaluasi berbagai parameter pemantauan, termasuk kegempaan dan deformasi gunung api.
Meski status telah turun, masyarakat tetap diminta tidak mendekati kawasan berbahaya.
Badan Geologi merekomendasikan masyarakat, wisatawan maupun pendaki tidak memasuki wilayah dalam radius 2 kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Khusus di sekitar dua bentukan menyerupai pulau baru tersebut, masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 1 kilometer.
Warga Pesisir Diminta Tidak Terpancing Isu
Badan Geologi juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai lontaran batu pijar, hujan abu lebat serta potensi erupsi sekunder yang dapat terjadi akibat kontak material lava panas dengan air laut.
Baca Juga: Mobil Listrik Bikin Geger! BYD Atto 1 Salip Avanza dan Jadi Mobil Terlaris di Indonesia
Sementara itu, masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan tidak mempercayai informasi yang tidak bersumber dari lembaga resmi terkait isu erupsi Anak Krakatau yang disebut dapat langsung memicu tsunami.
Masyarakat tetap dapat beraktivitas seperti biasa dengan mengikuti arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat dipantau melalui kanal resmi Badan Geologi, PVMBG, Magma Indonesia dan Portal Mitigasi Bencana Geologi. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti