RADAR BOGOR - Bagi calon peserta Sekolah Kedinasan 2026, istilah SKD dan tes fisik sering muncul bersamaan.
Padahal keduanya merupakan tahapan berbeda dengan karakter pengujian yang berbeda pula.
SKD Sekolah Kedinasan dilaksanakan menggunakan sistem Computer Assisted Test atau CAT BKN.
Baca Juga: Edensor Hills Sentul, Wisata Bogor Bernuansa Pedesaan Eropa dengan Panorama Gunung
BKN menjadwalkan SKD Sekolah Kedinasan 2026 pada 22 September hingga 7 Oktober 2026.
Sementara itu, Poltekpin memasukkan tes kesamaptaan sebagai bagian dari seleksi lanjutan.
Pada informasi resmi Poltekpin, tes kesamaptaan meliputi lari, pull-up, push-up, sit-up, dan shuttle run.
Baca Juga: PNS Pusat Kini Punya Lebih Banyak Periode Kenaikan Pangkat, Apa yang Berubah?
Perbedaan paling jelas adalah bentuk pengujiannya.
SKD mengukur kemampuan peserta melalui soal yang dikerjakan dengan komputer.
Pemerintah pada 2026 menetapkan materi SKD berupa TWK, TIU, dan TKP. Nilai kumulatif tertinggi SKD adalah 550.
Baca Juga: Paledusk Rilis Golden Goal, Single Baru Terinspirasi Kultur Sepak Bola Inggris
Tes kesamaptaan memiliki pendekatan berbeda. Peserta harus menunjukkan kemampuan fisik secara langsung sesuai materi yang ditentukan.
Karena itu, strategi persiapan keduanya juga tidak sama.
Untuk SKD, peserta membutuhkan latihan soal, pemahaman materi, manajemen waktu, serta kemampuan berkonsentrasi di depan komputer.
Baca Juga: Orang Tua di Bogor Wajib Tahu, Segini Perkiraan Gaji dan Benefit Sekolah Kedinasan 2026
Untuk tes kesamaptaan, peserta membutuhkan latihan fisik yang konsisten.
Lari dapat digunakan untuk membangun daya tahan, sedangkan latihan kekuatan dan kelincahan perlu disiapkan untuk menghadapi materi lainnya.
Kesalahan yang mungkin terjadi adalah peserta terlalu fokus pada SKD dan baru memikirkan tes fisik setelah hasil SKD diumumkan.
Baca Juga: Orang Tua di Bogor Wajib Tahu, Segini Perkiraan Gaji dan Benefit Sekolah Kedinasan 2026
Padahal, kemampuan fisik tidak dapat dibangun secara instan.
Persiapan sejak awal memberikan waktu lebih panjang untuk meningkatkan kebugaran secara bertahap.
Peserta dapat mencatat perkembangan latihan, memperhatikan waktu pemulihan, serta mengurangi risiko latihan berlebihan.
Baca Juga: Masa Depan Dokter ASN Berubah? UU ASN Baru Membawa Arah Baru Manajemen Aparatur
Namun demikian, peserta juga harus memahami bahwa passing grade SKD tidak otomatis menjadi standar tes kesamaptaan.
Kedua tahapan tersebut memiliki ketentuan yang berbeda.
Pemerintah melalui Kementerian PANRB juga menjelaskan bahwa setelah SKD, seleksi lanjutan diatur oleh masing-masing instansi penyelenggara sekolah kedinasan.
Baca Juga: Trekking Puncak Alam Cipamingkis, Destinasi Wisata Alam Baru di Sukamakmur Bogor
Karena itu, peserta Poltekpin perlu menjadikan portal resmi Poltekpin sebagai rujukan untuk informasi seleksi lanjutan.
Bagi peserta yang saat ini sedang mengikuti SKD, fokus pada ujian CAT tetap penting.
Namun kondisi fisik juga sebaiknya dijaga sehingga ketika memasuki tahap berikutnya, peserta sudah memiliki dasar kebugaran yang memadai.***
Editor : Khairunnisa RBSumber : bkn.go.id