RADAR BOGOR - Ketika mendengar istilah manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, sebagian masyarakat mungkin membayangkan seseorang yang bertugas mengurus toko koperasi.
Namun, cakupan pekerjaannya jauh lebih luas.
KDKMP dirancang sebagai bagian dari ekosistem ekonomi desa.
Baca Juga: Debbi Puspito Kembali Pimpin GPI Kabupaten Bogor, Ini Harapannya
Oleh karena itu, manajer akan berhadapan dengan berbagai aktivitas, mulai dari pengelolaan usaha, keuangan, distribusi hingga pengembangan jaringan ekonomi.
Kementerian Koperasi secara resmi menyebut kemampuan manajer dalam melihat potensi, menyusun strategi dan mengambil keputusan sebagai faktor penting dalam keberhasilan KDKMP.
Artinya, manajer harus memahami karakter ekonomi daerah tempat koperasi berada.
Baca Juga: Siswa SMAN 8 Kota Bogor Borong Prestasi, dari Kancah Kota hingga Internasional
Sebuah desa dengan basis pertanian tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan wilayah yang mengandalkan perikanan atau perdagangan.
Manajer harus mampu menjawab pertanyaan sederhana tetapi penting: produk apa yang dibutuhkan masyarakat?
Apa yang dapat diproduksi masyarakat? Ke mana hasil produksi tersebut akan dijual? Bagaimana koperasi mendapatkan keuntungan sekaligus memberikan manfaat kepada anggota?
Baca Juga: Unida Bogor Tembus Uzbekistan, Gandeng 2 Kampus dan Kirim Dosen Jadi Pengajar Tamu
Pertanyaan-pertanyaan itu akan menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari.
Pemerintah sendiri telah menempatkan aspek tersebut dalam kurikulum pelatihan.
Pada Juli 2026, Kementerian Koperasi membuka pelatihan dan sertifikasi calon manajer secara serentak di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Cara Kirim Nilai PMM ke e-Kinerja BKN dan Cetak Dokumen SKP Triwulan 3 2026
Program berlangsung selama 13 hari dengan materi 90 jam pelajaran.
Materi yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan koperasi secara teknis.
Ada manajemen keuangan, digitalisasi, kewirausahaan, soft skill dan kepemimpinan.
Baca Juga: Pemkot Bogor Perkuat Ekonomi Sirkular, Minyak Jelantah dan Plastik Dimanfaatkan Kembali
Hal ini memberikan gambaran bahwa manajer akan dituntut menguasai berbagai kemampuan sekaligus.
Tantangan lainnya adalah membangun jaringan.
Kementerian Koperasi menekankan networking sebagai salah satu kemampuan penting.
Baca Juga: PTA NISKALA Sangkuriang Dayang Sumbi SMAN 7 Kota Bogor Jadi Ajang Bentuk Karakter Siswa
Manajer perlu memiliki jaringan untuk menghubungkan koperasi dengan pemasok, pasar, pelaku usaha dan pihak lain yang relevan.
Dalam praktiknya, kemampuan tersebut dapat menentukan apakah koperasi mampu berkembang atau hanya menjalankan aktivitas secara terbatas.
Misalnya, ketika masyarakat desa menghasilkan komoditas dalam jumlah besar, koperasi membutuhkan akses pasar.
Baca Juga: Cara Kirim Nilai PMM ke e-Kinerja BKN dan Cetak Dokumen SKP Triwulan 3 2026
Jika manajer mempunyai jaringan yang baik, koperasi dapat mencari pembeli atau mitra distribusi.
Sebaliknya, tanpa perencanaan dan jaringan yang memadai, produk dapat menghadapi persoalan pemasaran.
Pemerintah juga menempatkan KDKMP dalam konteks penguatan ekonomi desa.
Baca Juga: Ciri-Ciri Penerima Prioritas Bansos Tahap 4 2026, Syarat Desil dan Jadwal Pencairan
Wakil Menteri Koperasi Farida Farichah pada Agustus 2026 menyampaikan bahwa KDKMP diarahkan untuk memetakan potensi desa dan mendorong masyarakat mengelolanya, mulai dari pascapanen, pengolahan hingga pemasaran.
Dengan konsep tersebut, manajer tidak hanya dituntut menjaga aktivitas koperasi tetap berjalan.
Mereka juga harus memahami bagaimana rantai ekonomi di desa bekerja.
Baca Juga: Cek Kesehatan Gratis Anak Sekolah Digelar di 21 Sekolah Tanah Sareal Bogor, Ini Pemeriksaannya
Mulai dari produsen, pengolahan, penyimpanan, distribusi sampai konsumen.
Di sinilah tantangan terbesar posisi tersebut mulai terlihat.
Manajer bukan hanya penjaga operasional koperasi. Mereka berada di tengah rantai ekonomi desa yang melibatkan banyak pihak.
Baca Juga: Awali Pekan dengan Salat Duha, SMAN 6 Kota Bogor Tanamkan Nilai Religius dan Nasionalisme
Karena itu, keberhasilan manajer nantinya tidak hanya dapat dilihat dari keberadaan kantor atau toko koperasi.
Yang lebih penting adalah bagaimana aktivitas ekonomi benar-benar berjalan dan dikelola secara tertib.***
Editor : Khairunnisa RBSumber : kementerian koperasi