IPB University Latih Warga Sukarame Pandeglang Restorasi Padang Lamun

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 15:14 WIB
Tim Dospulkam IPB University melalui LPA2I memberikan pelatihan restorasi padang lamun di Sukarame Banten.
Tim Dospulkam IPB University melalui LPA2I memberikan pelatihan restorasi padang lamun di Sukarame Banten.

RADAR BOGOR — Upaya pemulihan ekosistem pesisir terus dilakukan di Desa Sukarame, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Kali ini, Tim Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) IPB University melalui Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) memberikan pelatihan restorasi padang lamun kepada masyarakat setempat.

Program pengabdian kepada masyarakat tersebut tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga dilanjutkan dengan praktik langsung di kawasan perairan Desa Sukarame.

Pelatihan ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam melakukan pemulihan sekaligus pemantauan ekosistem padang lamun secara terstruktur, sehingga upaya konservasi dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Desa Sukarame merupakan salah satu kawasan pesisir di Kabupaten Pandeglang yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan pemulihan ekosistem laut berbasis partisipasi masyarakat.

Namun, keberlanjutan ekosistem pesisir di wilayah tersebut masih menghadapi tantangan, salah satunya belum optimalnya kegiatan pemulihan dan pemantauan padang lamun yang dilakukan secara terstruktur dan berkesinambungan.

Baca Juga: Tahapan CPNS 2027 Tenaga Kesehatan, Formasi, dan Alasan Rekrutmen Bertahap

Padang lamun memiliki fungsi ekologis penting bagi kawasan pesisir. Ekosistem ini menjadi habitat berbagai biota laut, termasuk sebagai lokasi pemijahan dan tempat pengasuhan, sekaligus menyediakan sumber nutrisi bagi beragam organisme perairan.

Karena itu, upaya pemulihan padang lamun membutuhkan proses yang dilakukan secara konsisten agar fungsi ekologisnya tetap terjaga dan mampu mendukung keberlanjutan sumber daya laut di kawasan pesisir Pandeglang.

Melihat kondisi tersebut, IPB University memberikan pendampingan melalui pelatihan teknik restorasi padang lamun.

Materi yang diberikan mencakup pemilihan bibit lamun, persiapan media tanam, hingga teknik penanaman atau transplantasi yang sesuai.

Metode berbasis ilmiah tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat melakukan restorasi dan pemantauan ekosistem pesisir secara berkala, terukur, serta dapat dikembangkan secara mandiri.

Selain mendukung pemulihan lingkungan pesisir, kegiatan ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Poin 14 atau Life Below Water serta Asta Cita, khususnya dalam penguatan upaya konservasi ekosistem pesisir.

Libatkan Masyarakat dan Pengelola Wisata Bahari

Kegiatan Dospulkam 2026 di Desa Sukarame melibatkan sejumlah unsur masyarakat yang memiliki keterkaitan langsung dengan kawasan pesisir.

Peserta kegiatan terdiri dari kelompok masyarakat lokal, pemandu wisata bahari, hingga pengelola konservasi pesisir.

Tim Dospulkam IPB University dipimpin Nadya Cakasana, S.Kel., M.Si., bersama tim Dospulkam Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University serta sejumlah mahasiswa IPB University.

Dalam pelaksanaannya, IPB University juga menggandeng Kelompok Konservasi Alam Bawah Laut sebagai mitra strategis.

Baca Juga: Pantai Menganti Kebumen, Pesona Pasir Putih dan Tebing Karst di Pesisir Selatan Jawa

Kolaborasi tersebut mempertemukan pengalaman masyarakat lokal dalam menjaga kawasan perairan dengan kompetensi akademis IPB University, khususnya dalam penerapan teknik restorasi ekosistem laut.

Melalui kerja sama tersebut, transfer pengetahuan dan keterampilan teknis diberikan kepada masyarakat Desa Sukarame.

Peserta memperoleh pembekalan mulai dari persiapan media tanam, teknik transplantasi lamun, hingga cara melakukan perawatan dan pemantauan kawasan yang telah direstorasi secara berkelanjutan.

Tujuan Dospulkam 2026

Ketua Tim Dospulkam IPB University, Nadya Cakasana, S.Kel., M.Si., mengatakan penguatan kapasitas masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut.

Menurutnya, kolaborasi lintas disiplin antara akademisi dan masyarakat diperlukan agar upaya pemulihan lingkungan pesisir tidak berhenti pada penyampaian teori, tetapi dapat diterapkan melalui kegiatan nyata.

Upaya pemulihan ekosistem laut tidak berhenti pada teori saja, tetapi membutuhkan aksi nyata dan pendampingan teknik restorasi yang tepat.

"Melalui kolaborasi bersama Kelompok Konservasi Alam Bawah Laut dan pelatihan ini, kami berharap masyarakat Desa Sukarame dapat melakukan restorasi padang lamun secara mandiri, sehingga kawasan pesisir memiliki ekosistem yang lebih sehat, terjaga daya dukungnya, serta mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan dan nilai tambah ekowisata bahari lokal," ujar Nadya Cakasana, S.Kel., M.Si.

Program pengabdian dan transfer keilmuan tersebut juga mendapat dukungan dari pimpinan FPIK IPB University.

Dekan FPIK IPB University, Dr. Beginer Subhan, S.Pi., M.Si., menekankan bahwa penerapan sains perlu diarahkan agar memberikan dampak langsung terhadap penguatan ketahanan maritim yang melibatkan masyarakat.

Sains dan metodologi ilmiah harus menjadi alat pemberdayaan di garda terdepan konservasi.

Baca Juga: Linkin Park Comeback Setelah 7 Tahun, Emily Armstrong Jadi Vokalis Baru dan Bawa Energi Segar

Kehadiran dosen FPIK IPB University pada program Dosen Pulang Kampung yang berada di Desa Sukarame bersama Kelompok Konservasi Alam Bawah Laut bukan sekadar mendampingi, melainkan melahirkan citizen scientists atau ilmuwan warga lokal yang memiliki kapasitas ilmiah mandiri.

"Ketika masyarakat memegang kendali atas data dan kelestarian lautnya, di situlah kedaulatan maritim dan keberlanjutan ekonomi pesisir dapat kita wujudkan bersama," tegas Dr. Beginer Subhan, S.Pi., M.Si.

Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan Ketua Kelompok Konservasi Alam Bawah Laut, Arip.

Ia menilai pendampingan yang dilakukan IPB University memberikan tambahan pengetahuan dan keterampilan teknis yang dapat diterapkan dalam kegiatan konservasi di lapangan.

"Kolaborasi bersama IPB University ini memberikan wawasan baru dan teknik yang sangat berharga bagi kami di lapangan. Dengan hadirnya pendampingan ilmiah dan teknik restorasi lamun yang tepat, kami lebih optimistis dapat mengelola serta memantau pemulihan ekosistem laut Desa Sukarame secara mandiri dan berkelanjutan," ujar Arip.

Peserta Praktik Langsung Restorasi Padang Lamun

Setelah mendapatkan materi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi dan praktik langsung di kawasan perairan Desa Sukarame yang menjadi lokasi restorasi.

Para peserta terlihat antusias mengikuti proses pemindahan, penanaman, hingga pengondisian bibit lamun pada area yang menjadi sasaran pemulihan.

Praktik dilakukan bersama tim IPB University dan Kelompok Konservasi Alam Bawah Laut sehingga peserta tidak hanya memahami konsep restorasi secara teori, tetapi juga mengetahui tahapan penerapannya di lapangan.

Tingkatkan Kapasitas Masyarakat dalam Konservasi Lamun

Dalam rangkaian sosialisasi dan edukasi tersebut, Tim Dospulkam IPB University menggandeng mitra lokal serta masyarakat yang selama ini terlibat dalam konservasi lingkungan dan pengembangan wisata bahari di Desa Sukarame.

Kelompok Konservasi Alam Bawah Laut menjadi salah satu mitra dalam memperkuat pelaksanaan kegiatan di tingkat masyarakat.

Baca Juga: Sempat Viral Tinggal di Makam, Dedi Mulyadi Bongkar Kondisi Sebenarnya Keluarga Ini

Kepedulian masyarakat terhadap lingkungan pesisir sebenarnya telah tumbuh. Namun, pengetahuan mengenai teknik restorasi dan evaluasi kondisi kesehatan padang lamun yang dilakukan berdasarkan standar serta metode ilmiah masih perlu terus diperkuat melalui pendampingan.

Upaya pemulihan yang telah berjalan juga perlu dilengkapi dengan metode yang lebih terstruktur.

Dengan demikian, perkembangan ekosistem yang direstorasi dapat dicatat dan dipantau secara lebih detail serta menghasilkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam sesi diskusi interaktif, tim IPB University menjelaskan sejumlah aspek penting mengenai fungsi ekologis padang lamun, keanekaragaman biota yang berasosiasi dengan ekosistem tersebut, serta penerapan teknik restorasi untuk mendukung proses regenerasi ekosistem pesisir di Desa Sukarame.

Peserta juga mendapatkan pengenalan secara langsung mengenai teknik transplantasi lamun dan cara memantau pertumbuhannya setelah proses penanaman.

Materi teknis yang diberikan meliputi pembersihan substrat, penentuan bibit yang sehat, teknik pengikatan bibit pada media tanam, hingga pelaksanaan monitoring secara berkala.

Rangkaian tahapan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan proses pemulihan ekosistem dapat dipantau dan dievaluasi secara tepat serta berkelanjutan.

Melalui program Dospulkam 2026, hasil pelatihan dan praktik lapangan di Desa Sukarame diharapkan menjadi pijakan awal bagi Kelompok Konservasi Alam Bawah Laut dan masyarakat setempat dalam menyusun langkah pemulihan ekosistem pesisir secara lebih terukur.

Baca Juga: Selaras Expo 2026 di Bogor Tawarkan Rumah hingga Rp2,3 Miliar, Ada Subsidi Angsuran

Kolaborasi antara IPB University, mitra konservasi, dan masyarakat lokal menunjukkan bahwa penguatan kapasitas berbasis ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan dengan pengalaman serta kearifan lokal.

Sinergi tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya menjaga ekosistem pesisir Pandeglang sekaligus mendukung ketahanan ekologi dan ekonomi masyarakat pesisir untuk jangka panjang. (***)

Editor : Yosep Awaludin
pandeglang restorasi ipb university