RADAR BOGOR - Persiapan sumber daya manusia untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih menunjukkan perkembangan besar.
Data resmi Talenta Koperasi Indonesia yang diperbarui pada 14 September 2026 mencatat terdapat 28.624 manajer KDKMP dalam data baku hasil audit
Jumlah sertifikat yang telah diterbitkan juga tercatat sebanyak 28.624 sertifikat, atau 100 persen dari peserta baku dalam data tersebut.
Baca Juga: KIP dan PIP Tidak Cair Padahal Terdaftar, Cek 5 Penyebab yang Perlu Diketahui
Angka itu memberikan gambaran mengenai skala program pengembangan sumber daya manusia yang disiapkan pemerintah.
Data tersebut juga menunjukkan bahwa mayoritas peserta mempunyai latar belakang pendidikan sarjana.
Sebanyak 26.263 peserta atau 92 persen tercatat berpendidikan S1.
Baca Juga: Sering Macet dan Rawan Pelanggaran Lalu Lintas, Polisi Tambah Personel di Simpang Ciawi Bogor
Selain itu, terdapat 965 peserta dengan pendidikan S2, 1.310 lulusan D4, lima lulusan D3, empat lulusan D1 dan dua peserta dengan pendidikan S3.
Komposisi gender juga menunjukkan bahwa peserta perempuan menjadi mayoritas.
Data Talenta mencatat 18.591 perempuan atau 64,9 persen, sementara peserta laki-laki sebanyak 10.033 orang atau 35,1 persen.
Baca Juga: Tren Wisata Bergeser, Kebun Raya Bogor Andalkan Experience Tourism
Tidak hanya sertifikat, data resmi tersebut juga mencatat aktivitas uji kompetensi.
Sebanyak 28.522 peserta telah mengikuti pre-test, sementara 28.554 peserta telah mengikuti post-test.
Rata-rata nilai pre-test tercatat 83,36, sedangkan rata-rata post-test mencapai 93,68.
Baca Juga: Player MLBB Jangan Asal Habiskan Diamond, Ini Cara Memilih Skin yang Layak Dibeli
Data tersebut menunjukkan peningkatan rata-rata 10,32 poin antara kedua tahapan pengujian.
Pelatihan dilakukan melalui 409 kelas yang tersebar di 60 Talenta Hub dan 15 wilayah koordinasi PPTK.
Namun, sertifikasi bukan berarti pekerjaan manajer selesai.
Baca Juga: ISKA B2 Unleashed Siap Gebrak Bogor, Sponsor Berdatangan hingga Berpotensi Dongkrak Perekonomian
Justru setelah pelatihan dan sertifikasi, tantangan berikutnya adalah bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan dalam kondisi nyata di desa.
Manajer harus mampu menghadapi persoalan yang tidak selalu muncul di ruang kelas.
Misalnya, bagaimana menentukan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, bagaimana menjaga perputaran stok, bagaimana menghitung keuntungan, bagaimana mengelola risiko dan bagaimana membangun hubungan dengan anggota koperasi.
Baca Juga: Buntut Bentrokan Berujung Korban Luka, Polsek Cileungsi Bogor Amankan 9 Pelajar
Kementerian Koperasi sebelumnya menekankan pentingnya kemampuan membaca potensi daerah dan mengambil keputusan berdasarkan kondisi lapangan.
Karena itu, data 28.624 manajer bersertifikat dapat dipandang sebagai gambaran kesiapan SDM, bukan sebagai jaminan otomatis bahwa seluruh koperasi akan berhasil.
Tahap berikutnya justru menjadi ujian sesungguhnya: bagaimana para manajer mengubah kompetensi yang diperoleh menjadi kinerja koperasi yang nyata.***
Editor : Khairunnisa RBSumber : kementerian koperasi