Hipnotis Digital: Ketika Penipu Tak Perlu Bertemu Kita

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 09:57 WIB
Waspada penipuan.
Waspada penipuan.

RADAR BOGOR - Satu pesan di ponsel bisa menguras tabungan bertahun-tahun.

Dan kebanyakan korbannya bukan orang bodoh.

Dari gang ke layar: evolusi penipuan

Dulu, kita mendengar kata "hipnotis" dari cerita orang yang tiba-tiba menyerahkan dompet kepada orang asing di jalan. 

Pelakunya bertemu langsung, bicara dengan nada meyakinkan, menyentuh tangan korban, lalu korban menurut begitu saja. 

Baca Juga: Berawal dari Hobi Merajut, EKKYTA Tumbuh Jadi UMKM Kreatif hingga Tembus Pasar Ekspor

Cerita seperti itu terdengar seperti sihir, padahal yang terjadi adalah permainan kepercayaan dan tekanan psikologis yang terjadi begitu cepat sehingga korban kehilangan kemampuan berpikir kritis.

Sekarang caranya pindah ke layar ponsel. 

Penipu tidak perlu lagi bertemu kita.

Mereka cukup mengirim pesan, membuat akun palsu, atau menelepon dari tempat yang jauh. 

Karena hasilnya mirip, yaitu korban "menurut" tanpa sadar, kami menamai seri ini hipnotis digital.

Bedanya, penipu digital tidak perlu menyentuh kita. 

Ia hanya perlu membuat kita percaya, dan untuk itu ia punya waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.

Perlu diluruskan: ini bukan sihir

Tidak ada ilmu gaib dalam hipnotis digital.

Tidak ada orang yang bisa mengendalikan pikiran kita lewat WhatsApp. 

Yang terjadi adalah permainan perasaan. 

Penipu pandai membuat kita senang, takut, kasihan, atau jatuh cinta. 

Saat perasaan sedang kuat, otak sulit berpikir jernih. 

Baca Juga: Knalpot Motor Sering Nembak Saat Lepas Gas? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Di saat itulah kita menuruti perintah mereka. 

Inilah inti dari semua scam yang akan kita bahas di empat seri ini: penipu tidak merampas uang kita. 

Mereka membuat kita sendiri yang menyerahkannya.

Dalam bahasa sehari-hari, penipuan semacam ini disebut scam.

Seri artikel ini akan membahas dua jenis yang paling banyak memakan korban: scam investasi, yaitu ajakan menanam uang dengan untung besar, dan scam asmara (romantic scam), yaitu cinta palsu yang ujungnya meminta uang.

Kedua jenis ini akan kita bedah mendalam di Seri 2 dan Seri 3.

Di Seri 4, kita tutup dengan panduan praktis melindungi diri dan melapor jika telanjur menjadi korban.

Seberapa besar masalahnya?

Indonesia punya lembaga khusus bernama Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Tugasnya menerima laporan korban dan membantu memblokir rekening penipu. 

Lembaga ini dibuka pada 22 November 2024, dan dalam waktu kurang dari dua bulan, sudah menerima ratusan ribu laporan.

Menurut rilis OJK, sejak dibuka sampai 14 Januari 2026, IASC menerima 432.637 laporan penipuan dengan total kerugian Rp9,1 triliun.

Baca Juga: 3 Agenda Penting DPR Hari Ini, RUU Pemilu Mulai Disiapkan

Hanya sekitar Rp161 miliar yang berhasil dikembalikan kepada korban.

Pada laporan yang lebih baru, sampai 29 April 2026, jumlah laporan naik menjadi 548.093.

Sebanyak 485.758 rekening sudah diblokir dari 932.138 rekening yang dilaporkan sebagai mencurigakan.

Dana sebesar Rp614,3 miliar berhasil diselamatkan sebelum sampai ke tangan penipu.

Namun angka-angka ini hanya yang dilaporkan.

Banyak korban memilih diam karena malu, karena merasa bodoh, atau karena tidak tahu ke mana harus melapor.

Jumlah korban sebenarnya bisa jauh lebih besar.

Untuk memahami skala masalahnya: Rp9,1 triliun setara dengan anggaran pembangunan sebuah provinsi kecil.

Uang itu berpindah dari kantong warga biasa, orang tua yang menabung untuk pendidikan anak, atau pekerja yang mengumpulkan uang pensiun, ke tangan sindikat yang beroperasi terorganisir.

Dan hanya kurang dari dua persen yang kembali.

Contoh nyata: investasi yang "naik" di layar, tapi tidak bisa ditarik

Kasus berikut diungkap Polda Jawa Timur pada akhir September 2026.

Kasus ini menunjukkan bagaimana penipuan bekerja dari awal sampai akhir, langkah demi langkah.

Para korban awalnya melihat iklan investasi di media sosial.

Baca Juga: TPG Juli-Agustus Belum Cair hingga Oktober 2026? Cek SKTP dan Info GTK

Iklannya menarik, menampilkan grafik naik, kesaksian "orang biasa" yang katanya sudah untung, dan ajakan untuk bergabung ke komunitas.

Dari iklan itu, korban diajak masuk ke grup WhatsApp yang menawarkan "pembelajaran" dan kegiatan jual beli saham serta mata uang kripto.

Di grup itu, mereka dijanjikan keuntungan 30 sampai 200 persen tanpa risiko rugi.

Seorang "mentor" akan mengajari mereka langkah demi langkah, seolah-olah mereka sedang belajar keterampilan baru yang bermanfaat.

Korban kemudian, diminta membuat akun di beberapa aplikasi, lalu menyetor uang lewat transfer ke rekening milik perusahaan tertentu.

Di layar, saldo mereka terlihat terus bertambah.

Setiap kali korban membuka aplikasi, angka untungnya lebih besar dari hari sebelumnya.

Ini memberi sensasi pencapaian, seolah-olah uang mereka benar-benar berkembang. Beberapa korban bahkan mendapat "bonus" perekrutan jika berhasil mengajak teman bergabung.

Masalah muncul ketika korban ingin menarik uang.

Menurut polisi, sistem justru memblokir penarikan dan meminta korban membayar "denda" dengan alasan melanggar aturan.

Denda pertama mungkin ratusan ribu, lalu naik menjadi jutaan, lalu puluhan juta.

Setiap kali korban membayar, muncul alasan baru kenapa penarikan masih belum bisa diproses.

Polisi menyebut kerugian sementara dari tujuh laporan awal mencapai Rp12,9 miliar, dan jumlah korban masih mungkin bertambah.

Tiga orang ditetapkan sebagai tersangka.

Penyidik juga menemukan perputaran dana lewat 77 rekening dengan akumulasi transaksi Rp3,19 triliun dalam kurun Desember 2025 sampai Mei 2026.

Sekitar Rp81,5 miliar dana berhasil diblokir.

Angka perputaran Rp3,19 triliun menunjukkan betapa masif operasi ini: uang dari puluhan atau ratusan korban mengalir lewat puluhan rekening penampung, diputar-putar, dan akhirnya ditarik atau dikirim ke luar negeri.

Perhatikan satu hal yang paling penting: angka di layar korban naik, tetapi uangnya sebenarnya sudah masuk ke rekening penipu.

Saldo yang kelihatan bertambah hanyalah tampilan di aplikasi.

Aplikasi itu bukan aplikasi investasi sungguhan.

Itu adalah panggung digital yang dirancang untuk membuat korban merasa bahwa uangnya bertumbuh, padahal uangnya sudah hilang sejak korban menekan tombol transfer pertama.

Siapa yang menjadi korban?

Satu kesalahpahaman yang paling berbahaya: "Saya tidak akan tertipu karena saya cukup pintar."

Penipu tidak menyerang kecerdasan.

Mereka menyerang perasaan.

Korban scam bukan hanya orang yang kurang paham teknologi. 

Berdasarkan kasus-kasus yang diungkap polisi, korbannya beragam: ibu rumah tangga, karyawan swasta, pensiunan, mahasiswa, bahkan profesional seperti dokter dan akuntan.

Yang menyatukan mereka bukan tingkat kecerdasan, melainkan kondisi emosional pada saat penipu mendekat.

Orang yang sedang butuh uang tambahan mudah tergiur untung besar.

Orang yang sedang kesepian mudah luluh pada perhatian.

Orang yang sedang panik karena merasa rekeningnya dibobol mudah menuruti instruksi orang yang mengaku dari bank.

Orang yang baru kehilangan pekerjaan mudah tergoda tawaran "investasi murah, untung cepat."

Semua manusia pernah berada di salah satu keadaan itu.

Itulah sebabnya siapa pun bisa menjadi korban.

Rumus lima tahap yang selalu berulang

Meski bentuknya berbeda-beda, hampir semua scam memakai urutan yang sama.

Kalau kita hafal urutannya, kita bisa berhenti sebelum terlambat.

Lima tahap ini berlaku untuk scam investasi, scam asmara, maupun jenis penipuan lain yang akan kita bahas.

1. Umpan.

Penipu mendekati kita lewat iklan, pesan, atau kenalan baru di media sosial.

Umpannya bisa berupa untung besar, hadiah, pekerjaan mudah, atau perhatian.

Tahap ini terlihat tidak berbahaya, bahkan terlihat menguntungkan.

2. Bangun percaya.

Mereka tidak langsung minta uang.

Mereka ngobrol, menunjukkan "bukti", dan sering membiarkan kita menang atau untung kecil di awal.

Tujuannya satu: kita percaya.

Di tahap ini, penipu membangun hubungan emosional atau profesional yang terasa nyata.

3. Desak.

Setelah kita percaya, muncul tekanan.

"Kesempatan tinggal hari ini."

"Segera transfer."

"Kalau tidak sekarang, harga naik dua kali lipat besok."

Tekanan membuat kita tidak sempat bertanya, tidak sempat mengecek, tidak sempat berpikir.

4. Minta uang lagi.

Saat kita mau menarik dana atau menagih janji, selalu ada alasan baru: denda, pajak, biaya admin, ongkos kirim, biaya verifikasi.

Setiap alasan berarti satu transfer lagi.

Korban terjebak dalam siklus: bayar untuk menarik, tapi tidak pernah berhasil menarik.

5. Menghilang atau mengancam.

Setelah uang habis, akun lenyap.

Nomor tidak bisa dihubungi lagi.

Dalam beberapa kasus, penipu justru mengancam korban, misalnya dengan foto atau rekaman pribadi.

Mengapa penipunya sulit dihentikan?

Pertanyaan yang sering muncul: kalau polisi tahu, kenapa penipuan tidak berhenti?

Ada beberapa sebab.

Pertama, rekening penampung.

Penipu jarang memakai rekening atas nama mereka sendiri.

Mereka membeli atau menyewa rekening dari orang lain, sering dari warga yang membutuhkan uang dan tidak menyadari bahwa rekeningnya akan dipakai untuk menampung hasil penipuan.

Dalam kasus Polda Jawa Timur tadi, uang korban mengalir lewat 77 rekening.

Dalam kasus penipuan asmara di Lampung, polisi menyita 10 rekening penampung dari berbagai bank dan dompet digital.

Uang dari korban dipindah-pindahkan dari rekening ke rekening dalam waktu singkat, sering dalam hitungan menit, sehingga sulit dilacak sebelum sampai ke tangan pelaku utama.

Kedua, sindikat bekerja seperti perusahaan.

Ada yang bertugas membuat akun palsu dan konten iklan, ada yang mengobrol dengan korban sebagai "mentor" atau "pacar", ada yang menyiapkan rekening penampung, ada yang mengatur perputaran uang, dan ada yang bertanggung jawab menarik uang keluar dari sistem keuangan Indonesia, kadang lewat pembelian kripto atau transfer ke luar negeri.

Satu orang yang ditangkap belum tentu menghentikan seluruh jaringan.

Sindikat bisa beroperasi dari luar negeri, mempekerjakan orang di dalam negeri, dan memakai teknologi untuk menyembunyikan identitas mereka.

Karena itu, pertahanan terbaik bukan menunggu pelaku ditangkap. Pertahanan terbaik adalah tidak menjadi korban sejak awal.

Dan untuk itu, kita perlu mengenali pola-pola penipuan yang akan kita bahas di tiga seri berikutnya.

Istilah yang akan sering Anda temui

Supaya tidak bingung saat membaca seri berikutnya, berikut beberapa istilah dalam bahasa sehari-hari:

•    Scam: penipuan, biasanya lewat internet atau telepon, dengan cara membujuk korban agar menyerahkan uang atau data sendiri.

•    Rekening penampung: rekening yang dipakai untuk menerima dan memutar uang hasil penipuan, sering atas nama orang lain atau perusahaan yang tidak curiga.

•    OTP: kode rahasia sekali pakai yang dikirim ke ponsel Anda untuk memastikan Anda sendiri yang bertransaksi. Kode ini tidak boleh diberikan kepada siapa pun, termasuk yang mengaku petugas bank.

•    Binary option: aplikasi tebak naik-turunnya harga dalam waktu singkat. Ini akan kita bahas di Seri 2.

•    Afiliator: orang yang mengajak orang lain mendaftar ke sebuah aplikasi dan mendapat imbalan dari ajakan itu. Sistem ini akan kita lihat berbahayanya di Seri 2.

•    Pig butchering: istilah bahasa Inggris untuk penipuan yang "menggemukkan" korban dengan hubungan palsu, lalu menguras uangnya lewat investasi.

INGAT : Scam bekerja dengan lima tahap: umpan, bangun percaya, desak, minta uang lagi, menghilang.

Kalau Anda merasa sedang berada di tahap kedua atau ketiga, berhentilah dan tanyakan kepada orang lain. (*)

Penulis :
Dosen Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Ibnu Muakhori

Editor : Siti Dewi Yanti
scam digital penipuan investasi