Science Camp 2 GreenTrans Edu (1): Menjajal Tram, Belajar Pengolahan Tanah di Erfurt

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 06:12 WIB
Tim peneliti GreenTrans Edu dari 6 universitas memaparkan langkah universitasnya masing-masing dalam simposium tentang sustainability di FH Erfurt, 8-9 Oktober 2026.  (Foto: Achmad Supardi)
Tim peneliti GreenTrans Edu dari 6 universitas memaparkan langkah universitasnya masing-masing dalam simposium tentang sustainability di FH Erfurt, 8-9 Oktober 2026. (Foto: Achmad Supardi)

“Pantas kita tanam-tanam sesuatu kok tidak maksimal, wong tanahnya tidak pernah diperhatikan,” kata Ai, seorang tokoh masyarakat di Desa Cintakarya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, 4 Februari 2026 lalu.

Saat itu Ai merekam aktivitas penggalian tanah oleh tim Universitas Presiden, Cikarang dan Universitas Pancasila, Jakarta di lahan kebun milik SMK Bakti Karya pimpinannya.

Di bulan Oktober 2026 ini, sampel tanah tersebut kembali dibicarakan secara akademis. 

Oleh: Achmad Supardi 

Sampel tanah yang penggaliannya sempat direkam Ai mewakili lahan pertanian yang sudah mengalami pengolahan, termasuk pemberian pupuk.

Sebelumnya, tim peneliti juga melakukan penggalian tanah di areal perkebunan yang basah di desa sebelah, Selasari, di kecamatan yang sama.

Baca Juga: Game Online Bisa Picu Radikalisme Digital, Psikolog Sarankan Orang Tua Lakukan Hal Ini

Ini adalah sampel tanah yang terbiarkan secara alami, tidak mendapatkan intervensi perlakuan oleh manusia.

Kedua sampel tanah ini diteliti mulai dari unsur-unsur pembentuknya, tingkat keasaman, tingkat kepadatan, besaran partikel, dan lainnya. 

Tim yang sama, akhir September hingga pertengahan Oktober 2026 ke Jerman.

Mereka mampir ke Fachhochschule (universitas ilmu terapan atau FH) Erfurt, salah satu anggota klaster penelitian GreenTrans Edu.

Hasil pembacaan atas sampel tanah di Indonesia dibandingkan dengan karakteristik tanah di hutan-hutan Jerman. 

Di FH Erfurt, mereka melihat beragam fasilitas analisa tanah, juga green house mereka seluas 2.400 meter persegi.

Tidak lupa, mereka mencicipi jus apel yang diperas dengan mesin semi industri. Di FH Erfurt, mereka terlibat dalam simposium 2 hari tentang sustainability, termasuk apa yang dilakukan sejumlah universitas dalam mengarusutamakan pola hidup berkelanjutan ini. 

Prof. Dr. Björn Machalett, pakar ilmu tanah dari FH Erfurt menekankan peluang untuk melakukan penelitian komparatif dalam klaster ini.

"Saya sudah memiliki jaringan penelitian dengan Universitas President di Indonesia, dan jaringan ini menawarkan potensi besar untuk memperluas penelitian serta melakukan penelitian komparatif di Filipina juga," katanya.

Baca Juga: Waspada Penipuan PKH BPNT: Tidak Ada Daftar Ulang dan Pungutan

Sekitar 25 ilmuwan dan mahasiswa dari enam universitas di Uni Eropa (EU) dan ASEAN berkumpul untuk melakukan penelitian tentang energi terbarukan, kualitas tanah, dan komunikasi keberlanjutan.

Beberapa hasil penelitian bersama ini akan menjadi dasar bagi modul pengajaran inklusif tentang Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development).

Klaster ini merupakan inisiatif yang didanai oleh EU di bawah Paket Konektivitas Berkelanjutan EU-ASEAN, Program Pendidikan Tinggi (SCOPE-HE), yang bertujuan memperkuat kerja sama dan konektivitas berkelanjutan antara EU dan ASEAN yang diimplementasikan oleh Nuffic dan DAAD.

Keduanya, lembaga yang mendorong kerja sama bidang Pendidikan, termasuk dalam bentuk pendanaan penelitian dan beasiswa pendidikan tinggi.

Selama di Erfurt, di sela-sela simposium dan pembentukan koneksi, para ilmuwan SCOPE-HE menyempatkan diri menjajal sistem tram dan menjelajah kota tua.

Krämerbrücke (jembatan pedagang), adalah jembatan batu sepanjang 120 meter yang membentang di atas cabang Sungai Gera (Breitstrom).

Jembatan ini menghubungkan dua alun-alun kota, Benediktsplatz dan Wenigemarkt.

Sebagaimana namanya, jembatan ini sepenuhnya diisi bangunan rumah berstruktur setengah kayu (half-timbered) selama lebih dari 500 tahun yang sebagiannya menjual suvenir.

Baca Juga: Tidak Setiap Bulan Cair, Kapan PKH BPNT Tahap 4 2026 Salur?

Turis banyak membeli oleh-oleh di sini. 

Senja di kota tua Erfurt sangatlah romantis, asal bisa menahan dinginnya musim gugur.

Cabang Sungai Gera mengalir dangkal, kedalamannya kurang dari selutut pria dewasa.

Lebarnya hanya sekitar 20 meter, karenanya tidak ada risiko hanyut saat melintas. Tapi beberapa menit saja melintasinya, betis terasa nyaris beku! (bersambung)

** Penulis adalah dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Presiden, Cikarang

Editor : Siti Dewi Yanti
Universitas Presiden Achmad Supardi Erfurt