ITB Vinus Bogor Gandeng Kemenperin, Fokus Siapkan SDM Desa

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:50 WIB
Audiensi jajaran ITB Vinus Bogor bersama Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza di Kantor Kemenperin, Jakarta Selatan, Rabu (14/10/2026).
Audiensi jajaran ITB Vinus Bogor bersama Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza di Kantor Kemenperin, Jakarta Selatan, Rabu (14/10/2026).

RADAR BOGOR - Penguatan sumber daya manusia (SDM), menjadi salah satu agenda penting dalam upaya mempertemukan kebutuhan pembangunan desa dengan perkembangan industri nasional. 

Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor pun menjajaki kolaborasi dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk mendorong pendidikan tinggi yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

Upaya tersebut dibahas dalam audiensi Rektor ITB Vinus, Daniel Zuchron, bersama Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza di Kantor Kemenperin, Jakarta Selatan, Rabu (14/10/2026).

Baca Juga: FFI 2026 Umumkan Nominasi Piala Citra, Ini Daftar Film dan Sutradara yang Bersaing

Pertemuan itu turut dihadiri Badan Pengawas Harian (BPH) ITB Vinus Jeirry Sumampow dan Ketua Yayasan Visi Nusantara Maju, Yusfitriadi. 

Sejumlah agenda strategis menjadi pembahasan, mulai dari pengembangan Program Sarjana Desa hingga penyelarasan kurikulum perguruan tinggi dengan kebutuhan industri.

Program Sarjana Desa Jadi Agenda Utama ITB Vinus

Dalam audiensi tersebut, ITB Vinus menyampaikan tiga fokus pembahasan. 

Ketiganya meliputi pengembangan Program Sarjana Desa, pengenalan kurikulum baru yang menitikberatkan dampak nyata bagi masyarakat, serta tantangan pembangunan SDM di Kabupaten Bogor.

Daniel Zuchron menjelaskan, pertemuan tersebut merupakan bagian dari upaya kampus membangun hubungan yang lebih erat dengan pemerintah, khususnya dalam mempercepat keterhubungan pendidikan tinggi dengan kebutuhan pembangunan dan dunia industri.

Melalui Program Sarjana Desa, ITB Vinus ingin memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan masyarakat di tingkat lokal. 

Sementara itu, pembaruan kurikulum diarahkan agar kegiatan akademik tidak berhenti pada pencapaian pendidikan formal, tetapi juga memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Menurut Daniel, dukungan Kemenperin dibutuhkan untuk membuka peluang kolaborasi yang mampu mempertemukan kapasitas perguruan tinggi dengan kebutuhan pengembangan kompetensi tenaga kerja.

Kurikulum Kampus Perlu Selaras dengan Kebutuhan Industri

Selain pengembangan pendidikan berbasis desa, audiensi tersebut menyoroti pentingnya menyiapkan lulusan yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan sektor industri.

Daniel menilai, potensi hilirisasi industri serta sumber daya yang dimiliki Kemenperin dapat menjadi modal untuk mempercepat kerja sama antara perguruan tinggi dan pemerintah. 

Kolaborasi itu diharapkan mampu memperkuat proses penyiapan SDM yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan lapangan kerja.

Penyelarasan tersebut, dinilai penting di tengah kebutuhan industri terhadap tenaga kerja dengan keahlian spesifik. 

Perguruan tinggi diharapkan mampu menyesuaikan pendekatan pendidikan agar kompetensi lulusan semakin relevan dengan perkembangan dunia usaha.

Bagi ITB Vinus, hubungan antara pendidikan tinggi dan industri juga perlu dirancang dengan mempertimbangkan tantangan pembangunan daerah, termasuk kebutuhan masyarakat di Kabupaten Bogor.

Kebutuhan Tenaga Kerja Industri dan Pembangunan Desa

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut adalah perbedaan karakteristik kebutuhan SDM di wilayah perdesaan dan kawasan industri.

Sektor industri membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian khusus, antara lain di bidang analisis kimia dan permesinan. 

Di sisi lain, pembangunan desa memiliki kebutuhan kompetensi yang perlu disesuaikan dengan potensi wilayah serta persoalan yang dihadapi masyarakat setempat.

Daniel berpandangan, kedua kebutuhan tersebut perlu dipertemukan melalui pendekatan pendidikan dan pelatihan yang lebih terarah. 

Dengan demikian, pengembangan SDM tidak hanya berfokus pada pemenuhan tenaga kerja industri, tetapi juga mendukung peningkatan kapasitas masyarakat desa.

Penyelarasan ini diharapkan, membuka peluang agar pendidikan tinggi berkontribusi lebih luas terhadap pembangunan daerah, sekaligus membantu masyarakat memperoleh keterampilan yang relevan dengan kesempatan kerja maupun kebutuhan ekonomi lokal.

Balai Diklat Kemenperin Berpotensi Jadi Mitra

Peluang kerja sama lain yang mengemuka dalam audiensi tersebut adalah pemanfaatan balai pendidikan dan pelatihan (diklat) yang dimiliki Kemenperin.

Fasilitas tersebut, dinilai berpotensi menjadi sarana pengembangan kompetensi melalui program pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja. 

Baca Juga: Lapak Rongsok di Terminal Laladon Bogor Digerebek Polisi, Temukan Barang Terlarang

Kerja sama ini juga dapat membuka ruang bagi perguruan tinggi untuk memperkuat pembelajaran praktis, sehingga mahasiswa memiliki bekal keterampilan yang lebih dekat dengan kebutuhan industri.

Menurut Daniel, respons awal Kemenperin terhadap gagasan yang disampaikan ITB Vinus cukup positif. 

Keberadaan balai diklat menjadi salah satu peluang yang dapat ditindaklanjuti untuk memperluas kolaborasi dalam pengembangan SDM.

Meski demikian, bentuk program, mekanisme kerja sama, dan pelaksanaannya masih perlu dibahas lebih lanjut oleh pihak-pihak terkait.

ITB Vinus Dorong Kolaborasi Pendidikan dan Industri

Dalam pertemuan tersebut, Faisol Riza didampingi unsur pengembangan SDM Kemenperin, Adi, serta perwakilan juru bicara dan Sekretariat Jenderal Kemenperin.

Audiensi ini diharapkan menjadi titik awal bagi penguatan hubungan antara ITB Vinus, pemerintah, dan sektor industri. 

Kolaborasi lintas sektor tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kualitas SDM sekaligus memperluas kontribusi pendidikan tinggi terhadap kebutuhan masyarakat.

Bagi Kabupaten Bogor, pengembangan SDM yang terarah menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung pembangunan daerah. 

Baca Juga: 5 Rekomendasi Glamping di Bogor dengan View Pegunungan, Harga Mulai Rp300 Ribuan

Program pendidikan yang mampu menghubungkan potensi masyarakat desa dengan kebutuhan industri diharapkan dapat memperluas kesempatan pengembangan kompetensi dan meningkatkan relevansi pendidikan.

Melalui Program Sarjana Desa dan kurikulum yang berorientasi pada dampak nyata, ITB Vinus berupaya memperkuat peran perguruan tinggi sebagai penghubung antara pendidikan, pembangunan daerah, dan kebutuhan industri nasional.

Ke depan, keberhasilan gagasan tersebut akan bergantung pada tindak lanjut konkret, termasuk penyusunan program bersama, pemetaan kebutuhan kompetensi, serta pelaksanaan pelatihan yang sesuai dengan kondisi masyarakat dan dunia kerja. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
bogor ITB Vinus kemenperin desa