RADAR BOGOR - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyatakan tidak boleh lagi ada anak yang berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar.
Hal itu disampaikannya saat mengaktivasi 980 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara serentak di wilayah stunting tinggi dan daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
980 Dapur SPPG Diaktivasi Serentak
Baca Juga: Jadi Wamentan, Alim Setiawan Slamet Janji Maksimalkan Inovasi Perguruan Tinggi
Dalam unggahan terbaru YouTube Sudaryono, Kepala BGN Sudaryono menjelaskan, ratusan dapur tersebut siap beroperasi di wilayah dengan angka stunting tinggi dan daerah 3T.
Rinciannya, 691 SPPG berada di wilayah Sumatera, sedangkan 289 SPPG lainnya berada di wilayah Kalimantan dan Bali.
"Hari ini kita secara serentak membuka, mengaktivasi 980 dapur SPPG yang siap beroperasi di wilayah stunting tinggi, tinggi sekali, dan 3T," ujar Sudaryono, dikutip dari YouTube Sudaryono, pada 16 Oktober 2026.
Baca Juga: CPNS 2027 Lulusan S1: Trik Pilih Formasi Biar Lolos
Warga Daerah Terpencil Sambut Positif
Pembukaan SPPG juga dilakukan di wilayah 3T lainnya, termasuk Nusa Penida.
Seorang warga yang berasal dari Nusa Penida menilai program makan bergizi gratis sangat dibutuhkan di daerah terpencil, terutama bagi anak usia dini, anak sekolah, ibu hamil, dan balita.
Menurutnya, program ini untuk menyiapkan generasi yang sehat, cerdas, dan tangguh.
Baca Juga: Ada Status ASN Baru Selain PNS dan PPPK? Ini Kata BKN
Prevalensi Anak Berangkat Sekolah dalam Keadaan Lapar Turun
Sudaryono mengungkapkan, berdasarkan penelitian, sebelum program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan, sebanyak 56 persen peserta didik berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar.
Ia menekankan bahwa persoalannya bukan lagi soal kurang atau tidaknya gizi, melainkan anak yang berangkat sekolah dalam keadaan lapar.
"Alhamdulillah, dengan program MBG ini, dari 56 persen peserta didik yang berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar, kemudian turun menjadi 16 persen," ujarnya.
Baca Juga: Kontrak PPPK Hampir Habis? Wajib Lakukan 3 Hal Ini
Ia meyakini angka 16 persen tersebut berasal dari wilayah yang hingga kini belum tersentuh program MBG.
Karena itu, menjadi kewajibannya bersama seluruh jajaran BGN di pusat dan daerah untuk menurunkan angka itu lagi, dengan target akhir nol persen.
"Tidak boleh lagi ada anak-anak yang berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar," tegas Sudaryono.
Baca Juga: Info CPNS 2027 Lulusan SMA: Pantau Kanal Resmi Ini
Tidak Ada Calo dalam Aktivasi Dapur
Sudaryono juga menegaskan bahwa aktivasi dapur SPPG dilakukan melalui sistem. BGN, katanya, tidak memberi otorisasi maupun perintah kepada pihak mana pun untuk mewakili dalam proses tersebut.
"Aktivasi dapur yang dilakukan oleh BGN ini, kami tidak mengotorisasi siapa pun, kami tidak memerintahkan siapa pun. Semuanya dilaksanakan by system. Tidak ada calo, tidak ada orang yang mengatasnamakan saya atau BGN pusat yang menjajakan jasa dan meminta imbalan," tegasnya.
Ia meminta masyarakat yang menemui pihak semacam itu untuk mengambil foto sebagai bukti dan melaporkannya kepada kepolisian.***
Editor : Eli KustiyawatiSumber : YouTube Sudaryono