IPB University Ajak 35 Mahasiswa Dunia Jelajahi Laut Wakatobi

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:50 WIB
IPB University pertemukan 35 mahasiswa untuk mengeksplorasi ekosistem laut di Wakatobi, Sulawesi Selatan.
IPB University pertemukan 35 mahasiswa untuk mengeksplorasi ekosistem laut di Wakatobi, Sulawesi Selatan.

RADAR BOGOR - Ekosistem laut tropis Wakatobi, Sulawesi Tenggara, menjadi ruang belajar bagi 35 mahasiswa dari berbagai negara. 

Melalui program The 6th International Summer Course Tropical Marine Ecology, Institut Pertanian Bogor (IPB) University mempertemukan mahasiswa Indonesia dan internasional untuk mempelajari kekayaan hayati laut sekaligus memahami tantangan menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.

Program yang digagas Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University ini melibatkan 24 peserta internasional dan 11 mahasiswa domestik. 

Baca Juga: Gempa Magnitudo 3,1 Guncang Utara Ruteng, Kedalaman 9 Kilometer

Kegiatan tersebut dirancang untuk menghubungkan pembelajaran akademik dengan pengalaman langsung di lingkungan laut tropis.

Dari total peserta internasional, 15 mahasiswa berasal dari Victoria University of Wellington (VUW), Selandia Baru, lima mahasiswa dari China, dan empat mahasiswa internasional IPB University. 

Mereka mengikuti rangkaian kegiatan bersama mahasiswa domestik IPB University di kawasan Wakatobi.

Menelusuri Keterkaitan Mangrove, Lamun, dan Terumbu Karang

Wakatobi dipilih sebagai lokasi pembelajaran lapangan karena memiliki ekosistem pesisir yang beragam. 

Kawasan ini menjadi tempat bagi para peserta untuk memahami hubungan ekologis antara hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang, terutama dalam konteks kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle).

Dikutip dari laman resmi IPB, Koordinator program, Dea Fauzia Lestari menjelaskan, summer course ini tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori. 

Peserta juga diajak mengamati secara langsung kondisi ekosistem pesisir serta mempelajari hubungan antarekosistem yang mendukung keseimbangan lingkungan laut.

Selama kegiatan, mahasiswa mengikuti survei bawah laut, penilaian kesehatan ekosistem pesisir, serta pengamatan keanekaragaman hayati. 

Mereka juga berinteraksi dengan masyarakat Bajau di Sampela untuk mengenal kehidupan masyarakat pesisir dan memahami praktik pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.

Perpaduan antara pembelajaran di kelas dan kegiatan lapangan tersebut, memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat bagaimana konsep ekologi diterapkan dalam kondisi nyata. 

Baca Juga: PKH BPNT Tahap 4 Belum Cair, KKS Baru Justru Terima Bansos Rangkap

Pengalaman ini, sekaligus memperluas pemahaman mereka mengenai tantangan konservasi di wilayah kepulauan tropis.

Belajar Langsung dari Pakar Kelautan Internasional

Rangkaian kegiatan lapangan berlangsung di Pulau Hoga dan kawasan sekitarnya dengan pendampingan sejumlah akademisi dan praktisi kelautan. 

Para pendamping tersebut meliputi Prof. James Bell dari VUW, Mo Johnson dari Operation Wallacea, serta dosen IPB University, Dr. Beginer Subhan dan Dr. Dondy Arafat.

Melalui pendampingan tersebut, peserta memperoleh pengalaman dalam teknik survei bawah laut, termasuk snorkeling dan penilaian cepat keanekaragaman hayati. 

Kegiatan ini membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan observasi serta memahami metode dasar untuk menilai kondisi ekosistem laut.

Pembelajaran tidak berhenti pada aspek ilmiah. Para peserta juga berhadapan dengan realitas kehidupan di pulau-pulau kecil yang memiliki keterbatasan infrastruktur, termasuk pasokan listrik dan ketersediaan air tawar.

Dalam kondisi tersebut, mereka mempraktikkan upaya konservasi air tawar sebagai bagian dari pembelajaran tentang pengelolaan sumber daya di pulau terpencil. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa keberlanjutan lingkungan berkaitan erat dengan cara masyarakat dan pengunjung menggunakan sumber daya secara bijaksana.

IPB University dan VUW Perkuat Kerja Sama Pendidikan

Selain memberikan pengalaman akademik dan lapangan, program ini turut memperkuat kolaborasi internasional antara IPB University dan Victoria University of Wellington.

Kedua institusi menyepakati penyelenggaraan summer course secara rutin setiap dua tahun di Wakatobi.

Peserta yang menuntaskan seluruh kurikulum program juga berhak memperoleh pengakuan akademik sebesar empat satuan kredit semester (SKS), setara dengan 140 jam pembelajaran.

Baca Juga: Perbaikan 3 Eskalator di Stasiun Bojonggede Bogor Butuh Anggaran Sekitar Rp800 Juta

Ketentuan ini menjadi salah satu bentuk integrasi kegiatan pembelajaran internasional dengan sistem pendidikan tinggi.

Ketua Departemen ITK IPB University, Dr. Syamsul Bahri Agus, mengapresiasi pelaksanaan program tersebut. 

Menurutnya, kegiatan ini berperan dalam memperluas jejaring pendidikan dan riset kelautan internasional sekaligus memperkuat posisi IPB University dalam kolaborasi akademik global.

Melalui kegiatan ini, Wakatobi tidak hanya menjadi lokasi pengamatan ekosistem laut, tetapi juga ruang pertukaran pengetahuan lintas negara. 

Interaksi antara mahasiswa, akademisi, praktisi, dan masyarakat setempat diharapkan dapat memperkaya perspektif peserta mengenai ekologi laut tropis serta pentingnya menjaga keberlanjutan wilayah pesisir. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
ipb Wakatobi bogor