RADAR BOGOR – Fred Rutten masih mengingat betul sebuah momen pada tahun pertama dia menangani FC Twente.
Tepatnya pada musim 1999–2000. Saat itu, Rutten sering kali marah kepada Erik ten Hag.
Bukan karena Erik ten Hag tidak menjalankan instruksinya di lapangan.
Melainkan karena pemain asal Haaksbergen –10 km selatan Kota Twente– itu bersikap terlalu proaktif di ruang ganti.
”Sering kali saat jeda babak pertama, saya agak marah ke Erik ten Hag karena dia mulai (berbicara kepada tim) sebelum saya memulai!,” kata Rutten dalam sebuah artikel yang ditulis jurnalis Carl Anka dari The Athletic.
Akan tetapi, dari situ pula bakat Erik ten Hag sebagai pelatih tercium.
Yakni, ketika dia menjalani akhir karier bermain bersama FC Twente pada 2002.
Erik ten Hag kemudian ditawari melatih tim akademi klub berjuluk The Tukkers tersebut.
Karier melatih pria kelahiran 2 Februari 1970 itu dimulai bersama tim U-17 (2002–2003), lalu tim U-19 (2003–2006), hingga menjabat asisten pelatih (2006–2009).
Masing-masing mendampingi Rutten lalu Steve McClaren.
Rekam jejak itulah yang menempatkan Ten Hag dalam situasi emosional ketika membawa Manchester United menghadapi FC Twente dalam matchday pertama fase liga Liga Europa di Old Trafford dini hari nanti (siaran langsung SCTV/beIN Sports 3/Vidio pukul 02.00 WIB).
Meski, bukan kali pertama Erik ten Hag berada di bench lawan FC Twente.
Dia sudah sembilan kali menjalaninya di Belanda ketika menangani FC Utrecht dan AFC Ajax,
”Secara pribadi, aku sama sekali tidak suka bermain melawan FC Twente. Aku penggemar FC Twente. Jadi, (situasi) ini seperti aku harus mengalahkan klubku sendiri,” beber Erik ten Hag.
Untuk mengalahkan The Tukkers, Erik ten Hag tentu butuh komposisi pemain terbaik dari Manchester United.
Hal yang tidak jadi prioritas mengingat Premier League masih lebih utama ketimbang Liga Europa.
Sama seperti ketika menang 7-0 atas Barnsley FC dalam putaran ketiga Piala Liga di Old Trafford (18/9), pemain yang tersisih dari starting XI di Premier League bisa mendapat kesempatan starter.
Antara lain winger Antony, bek tengah Harry Maguire dan Jonny Evans, hingga pemain muda Toby Collyer.
Menurut Erik ten Hag, hal itu tidak akan mengurangi kekuatan Manchester United karena gaya permainan United yang diinginkannya sudah konsisten ditampilkan musim ini.
Yakni, mengandalkan operan danpressingtinggi. Bahkan, pada babak pertama saat United menghadapi Crystal Palace di Selhurst Park akhir pekan lalu (21/9), The Red Devils –sebutan Manchester United– berhasil menunjukkan keunggulan penguasaan bola hingga 68 persen.
Saat lawan Twente, Ten Hag perlu menyelesaikan satu PR (pekerjaan rumah), yakni penyelesaian akhir.
”Aku pikir kami bermain sangat baik dan menguasai permainan, baik ketika dan tanpa bola,” kata Erik ten Hag usai lawan Palace. (ka/c17/dns)
Baca Juga: Kecelakaan Maut Lagi Terjadi di Bogor, Satu Pengendara Meninggal di Tempat
Manchester United (4-2-3-1): 24-Onana (g); 20-Dalot, 5-Maguire, 35-Evans, 43-Collyer; 25-Ugarte, 18-Casemiro (c); 21-Antony, 7-Mount, 10-Rashford; 9-Hojlund
Pelatih: Erik ten Hag
Jersey pemain: Merah
Jersey kiper: Kuning
FC Twente (4-2-3-1): 1-Unnerstall (g); 28-Van Rooij, 2-Hilgers, 38-Bruns, 34-Salah-Eddine; 8-Regger, 6-Eiting; 11-Rots, 14-Steijn, 7-Van Bergen; 10-Lammers
Pelatih: Joseph Oosting
Jersey pemain: Navy
Jersey kiper: Hijau
Stadion: Old Trafford, Manchester
Wasit: Simone Sozza (Italia)
Siaran Langsung: SCTV/beIN Sports 3/Vidio pukul 02.00 WIB
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim