Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Duel Panas Final Liga Champions PSG vs Inter Milan : Siapa yang Lebih Tajam? Ousmane Dembele atau Lautaro Martinez?

Yosep Awaludin • Sabtu, 31 Mei 2025 | 16:00 WIB
Ousmane Dembele dan Lautaro Martinez akan saling duel pada final Liga Champions.
Ousmane Dembele dan Lautaro Martinez akan saling duel pada final Liga Champions.

RADAR BOGOR—Selain trofi, Final Liga Champions 2024/2025 antara Paris Saint-Germain dan Inter Milan melibatkan pertarungan sengit antara dua pemain paling penting, Ousmane Dembele dan Lautaro Martinez.

Musim ini keduanya tampil luar biasa, dan keduanya siap untuk mencuri panggung pada hari Minggu (1/5/2025) dini hari di Allianz Arena, Munich, pada final Liga Champions.

Musim terbaik Dembele di Eropa mencatatkan delapan gol dan empat assist, menjadikannya pemain PSG dengan jumlah gol terbanyak dalam satu musim Liga Champions.

Namun, Lautaro Martinez hanya membutuhkan satu gol lagi untuk menjadi pemain Inter pertama yang mencetak 10 gol dalam satu musim kompetisi Eropa.

Ia telah mencetak gol di babak 16 besar, perempat final, dan semifinal, dan sekarang bersiap untuk final.

Di bawah pelatih Luis Enrique, Dembele menjadi bintang serangan PSG. Dia sedang memburu treble pertamanya setelah bermain untuk Barcelona pada 2015.

Sepanjang musim ini, PSG menjadi tim dengan jumlah tembakan terbanyak (1.074), tembakan tepat sasaran terbanyak (450), dan peluang besar terbanyak (280).

Selain tajam, PSG juga agresif dalam menguasai kotak penalti lawan, melakukan 2.207 sentuhan di area tersebut, hanya kalah dari Manchester City.

Dembele memainkan peran penting dalam performa ofensif PSG, yang membedakannya dari lawan-lawannya.

Di sisi lain, Lautaro bertanggung jawab atas lini depan Inter Milan yang solid dan efektif selama fase knockout.

Tim asuhan Simone Inzaghi selalu mencetak minimal dua gol di setiap pertandingan fase gugur, termasuk melawan Barcelona di semifinal.

Inter sangat mengimbangi serangan dan pertahanan. Musim ini, mereka mencetak 26 gol, menyamai rekor klub dari musim 2002-2003, dan menjaga delapan clean sheet, yang merupakan jumlah terbanyak di Liga Champions.

Inter memiliki pertahanan yang kuat berkat kiper Yann Sommer, yang memiliki tujuh clean sheet dan menjadi penjaga gawang dengan penyelamatan terbanyak ketiga musim ini. Sommer sudah mencegah 5,9 gol lebih dari yang seharusnya, menurut data xGOT.

Francesco Acerbi, seorang bek veteran, tampil dengan baik di depan Sommer dan mencetak gol penting di semifinal.

Meskipun berusia 37 tahun, Acerbi tetap menjadi pilihan utama untuk Inter dan merupakan contoh pengalaman tim yang mengandalkan banyak pemain berusia 30 tahun ke atas.

Sebaliknya, PSG hanya memiliki satu pemain yang berusia di atas 30 tahun, kapten Marquinhos.

Sebagai hasilnya, pertandingan terakhir terlihat sebagai pertempuran antara dua filosofi yang berbeda: PSG yang dinamis dan muda melawan Inter yang penuh pengalaman.

Sebuah pertarungan antara Dembele dan Lautaro akan menunjukkan persaingan kedua gaya itu: Dembele lincah, cepat, dan penuh kejutan di sisi sayap, sementara Lautaro adalah penyerang kotak penalti yang menakutkan.

Jika Lautaro mencetak gol di final, ia akan menyamai rekor legendaris pemain yang mencetak gol di semua babak knockout Liga Champions dalam satu musim.

Nama-nama seperti Messi, Ronaldo, dan Milito pernah melakukannya, dan kini Lautaro memiliki peluang untuk bergabung dengan mereka.

Sebaliknya, Dembele bercita-cita untuk mempersembahkan gelar Liga Champions pertama dalam sejarah PSG.

Ia juga berpeluang mencetak sejarah sebagai pemain dengan kontribusi gol terbanyak untuk PSG dalam satu musim Liga Champions.

Secara statistik, PSG sedikit diunggulkan dengan peluang 56,6% versi superkomputer Opta. Inter mendapatkan 43,4%, dan 26,4% percaya bahwa pertandingan akan berlanjut dengan penalti dan waktu ekstra.

Ini akan menjadi final pertama antara PSG dan Inter dalam sejarah panjang mereka di Eropa. Inter telah tampil enam kali di final dengan tiga gelar, sementara PSG hanya tampil satu kali dan masih mengejar bintang pertama mereka.

Uniknya, empat final Liga Champions terakhir di Munich selalu dimenangkan oleh klub yang meraih gelar pertama, seperti Nottingham Forest, Marseille, Dortmund, dan Chelsea. Statistik ini mungkin memberi sedikit harapan bagi PSG.

Namun, Inter bukan lawan yang sembarangan; mereka hanya tertinggal 1,2% dari total waktu bermain di Liga Champions musim ini dan selalu bangkit dengan cepat ketika mereka tertinggal.

Permainan menarik tetapi kadang-kadang lengah Inter dan pengalaman mereka dalam pertandingan besar dapat menjadi ancaman besar bagi PSG.

Semua perhatian akan tertuju pada siapa yang paling penting: Dembele, pelari yang tak terduga, atau Lautaro, penyerang yang mematikan.

Mungkin pertandingan antara dua pemain penting ini akan menentukan perjalanan trofi Liga Champions 2024/2025. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#liga champions #psg #inter milan