RADAR BOGOR – Joao Felix sempat disebut sebagai penerus Ronaldo. Namanya meroket saat tampil gemilang bersama Benfica, bahkan menjadi remaja paling bersinar di Eropa.
Namun, lima tahun berselang, Joao Felix yang pernah menyandang status sebagai salah satu transfer termahal dunia itu, justru kini bersiap menyeberang ke Liga Arab Saudi bersama Al-Nassr.
Joao Felix, yang saat ini berusia 25 tahun, seolah kehilangan arah kariernya sejak meninggalkan Portugal.
Meski sempat bermain di klub-klub besar seperti Atletico Madrid, Barcelona, AC Milan, dan Chelsea, tak ada satu pun periode yang benar-benar menggambarkan dirinya sebagai pemain bintang.
Bersinar di Awal, Layu Sebelum Berkembang
Perjalanan Joao Felix dimulai dengan sangat menjanjikan. Lulusan akademi Benfica ini menembus tim utama pada usia 18 tahun dan langsung tampil cemerlang.
Ia mencetak 20 gol dalam semusim, mengantarkan Benfica menjuarai liga, dan menyabet gelar Golden Boy (penghargaan bagi pemain muda terbaik Eropa).
Tak butuh waktu lama, Atletico Madrid memboyongnya dengan mahar fantastis £113 juta pound (sekitar Rp2,37 triliun), menjadikannya sebagai pembelian termahal ketiga sepanjang sejarah kala itu.
Klub ibu kota Spanyol itu berharap Felix bisa menjadi pengganti sepadan bagi Antoine Griezmann. Namun, ekspektasi tinggi tak berbanding lurus dengan kenyataan.
Tak Pernah Nyetel di Atletico Madrid
Di bawah arahan Pelatih Diego Simeone yang dikenal keras dan disiplin, Joao Felix sering kesulitan menyatu dengan filosofi permainan tim.
Meski menyumbang 35 gol dan 16 assist dari total 131 laga, kontribusinya dianggap tak cukup untuk sebanding dengan harga selangit yang dibayar klub.
Konsistensi menjadi masalah utamanya. Dalam satu musim, ia hanya mencetak tiga gol usai Natal. Bahkan ketika Atletico Madrid menjuarai La Liga pada 2020/21, Felix lebih banyak menghangatkan bangku cadangan.
Petualangan Singkat Bersama Chelsea, Barcelona, dan AC Milan
Joao Felix kemudian mencoba peruntungan lewat serangkaian peminjaman. Chelsea menjadi tujuan pertama, namun debutnya langsung tercoreng kartu merah. Ia hanya mampu mencetak empat gol dalam masa peminjaman enam bulan.
Barcelona sempat memberi secercah harapan, terutama setelah ia mencetak gol ke gawang Atletico Madrid dalam dua laga La Liga.
Namun itu pun tak bertahan lama. Barca memilih tidak mempermanenkannya dan beralih ke pemain lain.
Di AC Milan, situasinya tak jauh berbeda. Joao Felix hanya mencetak tiga gol dari 21 laga. Bahkan momen paling viral yang diingat publik adalah saat Kyle Walker menyentilnya di lorong stadion.
"Umpan bolanya, kita bukan Messi. Tidak ada Messi di sini," sindir Walker, bek kanan timnas Inggris.
Kembali ke Chelsea, Lalu Terbuang
Salah satu keputusan paling aneh adalah saat Chelsea memutuskan membeli Joao Felix secara permanen senilai £45 juta pound (sekitar Rp945 miliar).
Padahal sebelumnya sang pemain tak menunjukkan performa istimewa. Ia hanya mencetak satu gol di Premier League dalam masa keduanya di Stamford Bridge.
Lebih mengejutkan lagi, belum setahun berlalu, Chelsea tampaknya sudah kehilangan minat dengan Joao Felix.
Ia bahkan dicoret dari skuad Piala Dunia Antarklub dan kemudian dipinjamkan ke AC Milan, lalu dilepas lagi.
Harapan Kembali ke Benfica Pupus
Banyak yang berharap Joao Felix bisa “pulang” ke Benfica, klub yang membesarkan namanya, untuk menyelamatkan kariernya.
Bahkan sang pemain sempat menyatakan keinginan itu. Namun, semua berujung wacana. Gaji tinggi menjadi penghalang, dan tak ada kesepakatan yang tercapai.
Akhirnya, Joao Felix memilih jalan berbeda bergabung ke Al-Nassr di Liga Arab Saudi. Ia akan bermain bersama Cristiano Ronaldo dan diasuh oleh Jorge Jesus, pelatih yang dulu pernah menangani dirinya di Benfica.
Joao Felix mungkin akan dikenang sebagai simbol dari generasi pesepakbola muda yang dipuja sejak dini, tetapi gagal memenuhi potensi luar biasa yang dimiliki.
Keputusannya untuk hijrah ke Timur Tengah di usia 25 tahun menunjukkan bahwa harapan untuk melihatnya bersinar di level tertinggi sepak bola Eropa kian menipis.
Kini, yang tersisa hanyalah kenangan manis saat berseragam Benfica, enam bulan magis yang mengantarkannya ke puncak sorotan sebagai bintang muda paling menjanjikan di Eropa.
Ironisnya, masa singkat itulah yang mungkin menjadi pencapaian tertinggi dalam kariernya dan kini tampak kehilangan arah di tengah gemerlap harapan yang dulu begitu besar. (***)
Penulis: Muhammad Fadly Ardhian S/PKL Universitas Pakuan
Sumber: BBC Sport