KPG mengundurkan diri setelah serentetan hasil buruk yang diraih oleh Ulsan dalam beberapa pertandingan terakhir.
Pada musim lalu, KPG sebenarnya dapat dikatakan cukup sukses dimana ia mengantarkan Ulsan HD sebagai juara K-League 1 dan runner up Korean Cup, padahal ia baru menangani tim selama enam bulan sejak didatangkan pada Juli 2024.
Namun, musim ini berjalan dengan anti klimaks bagi KPG pasalnya rentetan kegagalan mulai menghampiri timnya, baik itu dalam kompetisi domestik maupun ajang kontinental.
Di paruh musim saja, Ulsan hanya mengoleksi 17 poin dari 11 laga. Separuh musim berikutnya menjadi semakin buruk dimana Ulsan hanya berhasil mengutip 13 poin dari 11 laga yang membuat mereka finish sebagai salah satu enam tim terbawah dalam musim reguler.
Walhasil, Marcao dan kolega harus menjalani relegation round demi mengamankan posisi aman di kasta tertinggi musim depan.
Setali tiga uang, di AFC Champions League Elite pun, Ulsan HD harus gigit jari dimana mereka tersingkir di babak grup dengan hanya mengoleksi satu kemenangan dari tujuh laga.
Catatan itu cukup ironis mengingat Ulsan adalah salah satu tim dengan reputasi cemerlang di kompetisi elite antar klub Asia tersebut, dimana dua musim lalu mereka merupakan salah satu semifinalis di kompetisi tersebut.
Kegagalan tak berhenti di situ, Ulsan juga tersingkir di babak perempat final Korean Cup dari Gwangju dan tersingkir secara mengenaskan di Piala Dunia Antarklub tanpa mengoleksi satu pun poin.
Puncaknya, dalam lima pertandingan terakhir di K-League, klub yang bermarkas di Ulsan Munsu Football Stadium tersebut mencatatkan rekor tak pernah menang yang akhirnya berujung pada pengunduran diri Kim Pan-gon sebagai arsitek klub.
Shin Tae Yong hanya memiliki sembilan pertandingan untuk mempertahankan posisi Ulsan di kasta tertinggi.
Saat ini tim yang berdiri pada 1983 tersebut mengoleksi 31 poin, atau hanya berjarak dua poin dari Jeju United di posisi sembilan sebagai batas aman untuk tetap eksis di kasta teratas.