Tottenham Hotspurs Awali Musim dengan Impresif Meski Diterpa Badai Ujian Sejak Pramusim
Muhammad Dimas Saputra• Sabtu, 23 Agustus 2025 | 22:54 WIB
Skuad Tottenham Hotspurs sebelum bertanding menghadapi PSG.
RADAR BOGOR - Tottenham Hotspurs mengawali musim dengan meyakinkan, untuk sementara The Lilywhites memuncaki klasemen sementara Premier League dengan koleksi poin sempurna, enam poin.
Tak hanya itu, tim asuhan Thomas Frank tersebut juga mencatatkan rekor impresif berupa torehan lima gol tanpa kemasukan satu pun gol dalam dua pekan perdana liga.
Pada pekan perdana, Spurs sukses menaklukkan tim promosi Burnley dengan skor 3-0 dan pada pekan berikutnya mempermalukan Manchester City di Etihad Stadium dengan keunggulan 2-0.
Sebelum berkiprah di Premier League, Spurs terlebih dulu bertanding pada partai Piala Super Eropa menghadapi juara Champions League musim lalu Paris Saint-Germain.
Meskipun gagal merengkuh trofi, tetapi Spurs berhasil menahan imbang PSG yang datang dengan skuad lebih mentereng, dalam waktu normal dan memaksa pemenang ditentukan melalui babak tos-tosan.
Dalam permulaan apik yang ditunjukkan oleh Spurs di awal musim, mereka menghadapi serangkaian ujian sejak fase pramusim, hal yang paling menonjol tentunya adalah transisi kepelatihan dari Ange Postecoglou menuju Thomas Frank.
Keputusan untuk memecat Postecoglou sendiri tentunya melalui pertimbangan yang panjang, pasalnya meskipun finish di peringkat 16 Premier League musim lalu, tetapi pelatih asal Australia tersebut mengantarkan Spurs meraih gelar Europa League.
Penunjukan Thomas Frank sebagai pengganti pun sempat dinilai sebagai sebuah perjudian mengingat arsitek asal Denmark tersebut belum pernah menangani tim besar sepanjang kariernya, apalagi bersaing di kompetisi sekaliber Champions League yang akan dilalui The Lilywhites pada musim ini.
Setelahnya, Spurs juga harus merelakan kepergian dari kapten sekaligus striker andalannya Son Heung-min yang memutuskan untuk menjejak tantangan baru bersama Los Angeles FC di Major League Soccer Amerika Serikat.
Kepergian Son tentunya menjadi pukulan telak mengingat pemain asal Korea Selatan tersebut tidak hanya menjadi mesin gol bagi tim tersebut di lapangan hijau, melainkan juga motivator di ruang ganti.
Upaya Spurs untuk mendapatkan pengganti Son pun menemui berbagai rintangan ketika target utamanya Eberechi Eze yang sempat sangat dekat bergabung dengan Spurs, justru membelot menuju rival sekotanya Arsenal.
Sampai hari ini, pencarian Spurs untuk menemukan pengganti Son masih berlanjut dengan winger Manchester City Savinho menjadi bidikan utama, beserta nama-nama alternatif seperti Morgan Rogers dan Xavi Simons.
Dalam tiga pertandingan kompetitif pertama pada musim ini, Frank mengandalkan trisula Brennan Johnson, Richarlison, dan Mohammed Kudus yang secara ajaib berhasil berkontribusi terhadap empat dari tujuh gol yang dicetak Spurs musim ini.
Tak hanya itu, Spurs juga mengawali musim dengan badai cedera ketika delapan pemainnya mengalami cedera yang tiga diantaranya merupakan pemain kunci, yakni James Maddison, Yves Bissouma, Destiny Udogie, dan Dejan Kulusevski.
Beruntungnya, pelatih Thomas Frank cukup lihai dalam memanfaatkan pemain yang tersedia, salah satunya Joao Palhinha yang secara cepat dapat menyatu dengan tim, meskipun baru bergabung dari Bayern Munich.
Tak hanya itu, Djed Spence yang diplot menggantikan Udogie juga tampil dengan sangat baik, meskipun selama periodenya di Spurs ia banyak menghabiskan waktunya dengan dipinjamkan ke klub lain atau duduk di bangku cadangan.
Di tengah berbagai ujian tersebut, satu hal yang positif adalah dukungan dari manajemen yang ditunjukkan dengan aktivitas belanja yang cukup masif pada musim ini. Total sejak jendela transfer dibuka, The Lilywhites telah menggelontorkan dana hingga 145 juta euro.
Nominal tersebut menjadi yang terbesar ketiga dalam satu jendela transfer yang pernah dilakukan Spurs, hanya kalah dari pengeluaran pada dua musim panas sebelumnya, dan nilai tersebut masih bisa bertambah mengingat Spurs masih mengincar satu pemain lagi untuk posisi pemain depan.
Namun, ujian sesungguhnya bagi Spurs sebenarnya adalah mempertahankan tren positifnya. Inkonsistensi dan ruang ganti yang tak kondusif menjadi permasalahan yang menjelaskan minimnya prestasi Spurs dalam dua dekade belakangan.***