RADAR BOGOR - Pengurus PSB Bogor, siap menghadapi somasi Aji Jaya Bintara, yang dilayangkan mengatasnamakan Presiden Klub.
Ketua Dewan Pengawas Yayasan Pakuan Sunda Bogor (PSB), Dadan Suhendar menegaskan bahwa tudingan tersebut tidak benar.
Ia menilai justru pihak Aji Jaya Bintara yang tidak menunjukkan tanggung jawab dalam pengelolaan klub kebanggaan warga Kota Bogor tersebut.
Dadan menjelaskan, sepanjang perjalanan kerjasama yang disepakati dalam Memorandum of Understanding (MOU) pada 28 Mei 2024, pihak Aji Jaya Bintara dinilai kerap lalai dan tidak konsisten menjalankan kewajibannya sebagai investor yang notabene akan membiayai operasional klub.
“Faktanya, hingga saat ini masih ada persoalan tunggakan gaji pemain, pelatih dan biaya katering musim lalu yang belum diselesaikan, padahal manajemen sudah berulang kali mengingatkan. Hal ini tentu menjadi beban bagi pengurus PSB dan berdampak pada keberlangsungan tim,” ujarnya kepada Radar Bogor, Senin 29 September 2025.
Selain itu, komunikasi yang buruk juga disebut menjadi salah satu hambatan besar.
Aji Jaya Bintara dinilai sering absen dalam rapat penting yang digelar pengurus.
Undangan resmi rapat yang dikirimkan beberapa kali tidak pernah dihadiri langsung yang bersangkutan, melainkan hanya diwakilkan kepada orang lain tanpa ada tindak lanjut yang jelas.
“Bagaimana mungkin masalah besar seperti legalitas dan keberlangsungan klub bisa diselesaikan, jika pihak yang seharusnya hadir justru tidak pernah mau datang berdiskusi langsung? Itu menunjukkan tidak adanya itikad baik dari yang bersangkutan,” tegas Dadan yang juga Wakil Ketua Umum PSB Bogor itu.
Kiper PSB Bogor di awal 1990-an ini juga menampik tudingan bahwa mereka menghambat proses legalitas klub.
Menurut Dadan, hal tersebut tidak dapat dijalankan sepihak, melainkan harus berdasarkan komitmen dan konsistensi kedua belah pihak sesuai dengan poin-poin dalam MOU.
“Kami tetap berpegang pada semangat musyawarah sebagaimana tertuang dalam kesepakatan. Namun pihak investor tidak menunjukkan tanggung jawab, diundang secara resmi tidak pernah hadir, justru merekalah yang mengingkari komitmen bersama,” tambahnya.
Terkait pengakuan Aji Jaya Bintara sebagai Presiden Klub, itu hanya pengakuan sepihak yang tidak dilandasi kekuatan hukum.
Dengan kondisi ini, pengurus berharap publik memahami bahwa keberlangsungan klub PSB Bogor bukan hanya soal kepemilikan saham di atas kertas, melainkan tentang tanggung jawab nyata dalam mengelola klub, termasuk kesejahteraan pemain dan staf.
“PSB Bogor adalah warisan bersama warga Bogor, dibutuhkan orang orang berintegritas dan mempunyai komitmen kuat untuk menjaga keberlangsungan klub, Jangan sampai kepentingan pribadi mengorbankan masa depan klub ini,” tutupnya.(rur)
Editor : Alpin.