RADAR BOGOR - Keputusan Robin van Persie hijrah dari Arsenal ke Manchester United pada 2012 masih menjadi salah satu kisah transfer paling kontroversial.
Langkah sang kapten Robin van Persie dianggap sebagai pengkhianatan menyakitkan bagi jutaan penggemar The Gunners.
Robin van Persie tiba di Arsenal sebagai talenta muda dan tumbuh di bawah bimbingan Arsène Wenger.
Puncaknya, ia didapuk sebagai kapten, mencetak 30 gol Liga Premier musim 2011-2012, serta menjadi pahlawan klub.
Namun, di balik kejayaan individu, Robin van Persie mulai meragukan ambisi Arsenal. Ia melihat klub lebih fokus pada stabilitas finansial dan zona Liga Champions, bukan lagi perburuan gelar juara sejati.
Keraguan tersebut memuncak dengan pengumuman surat terbuka yang mengejutkan publik. Robin van Persie menyatakan dirinya tidak lagi sevisi dengan manajemen dan tidak akan memperpanjang kontrak di Emirates Stadium.
Ia hanya mendapatkan janji manis, bukan rencana konkret membangun tim yang kompetitif untuk meraih trofi. Bagi sang striker berusia 29 tahun ini, waktu terbaiknya telah hampir habis, mendesak sebuah keputusan besar.
Sir Alex Ferguson dan Manchester United datang membawa proposal berbeda, menjanjikan status sentral dan peluang nyata memenangkan Liga Premier. Robin van Persie memilih klub musuh bebuyutan sebagai langkah ambisius memburu medali juara.
Keputusan itu terbayar lunas. Di musim perdananya (2012-2013), Robin van Persie langsung menjadi top scorer dan arsitek utama gelar juara ke-20 Manchester United. Ia sukses membuktikan pilihannya tidak salah.
Sayangnya, musim itu juga menjadi tarian terakhir dinasti Ferguson. Pensiunnya sang manajer legendaris menjadi awal kemunduran Robin van Persie, sebab ia kehilangan peran sentralnya di dalam tim.
Di bawah kepemimpinan David Moyes dan Louis van Gaal, performa RVP mulai menurun dan diganggu cedera.
Akhirnya, ia dilepas ke Fenerbahçe tahun 2015 tanpa upacara perpisahan, seperti 'senjata sewaan' yang dibuang.
Di London Utara, nama Robin van Persie menjadi semacam kutukan. Statistik impresifnya seolah dihapus dari sejarah resmi klub, satu keputusan transfer merusak warisan yang dibangunnya selama delapan tahun.
Kisah Robin van Persie dan Arsenal sering disebut tidak tuntas atau unfinished. Ia pergi bukan karena tidak peduli, tetapi karena lelah menunggu klub kembali membangun tim untuk bertarung di level tertinggi persaingan Eropa.
Robin van Persie hanyalah simbol paling dramatis dari serangkaian eksodus talenta emas Arsenal. Para pemain seperti Samir Nasri dan Cesc Fabregas juga pergi demi trofi, menegaskan krisis ambisi juara klub.
Setelah meninggalkan United, Robin van Persie menghabiskan masa senja kariernya di Fenerbahçe, sebelum akhirnya kembali ke Feyenoord untuk pensiun. Ia menuntaskan kariernya dengan pelukan hangat di klub yang tidak pernah menghakiminya. (***)
Penulis : Arif Aammar Isbar / Magang Universitas BSI Depok
Sumber : YouTube Starting Eleven Story.