Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Usai Tujuh Kali Ikut SEA Games, Pelatih Timnas Taekwondo Asal Kota Bogor Maulana Haidir Akhirnya Persembahkan Emas untuk Indonesia

Fikri Rahmat Utama • Rabu, 7 Januari 2026 | 18:48 WIB
Pelatih timnas taekwondo Indonesia Maulana Haidir, bersama atlet Poomsae Beregu Putra usai meraih medali emas pada SEA Games Thailand 2025.
Pelatih timnas taekwondo Indonesia Maulana Haidir, bersama atlet Poomsae Beregu Putra usai meraih medali emas pada SEA Games Thailand 2025.

RADAR BOGOR — Penantian panjang Maulana Haidir akhirnya terbayar lunas. Setelah tujuh kali terlibat dalam ajang SEA Games, pelatih tim nasional taekwondo asal Kota Bogor itu sukses mempersembahkan medali emas untuk Indonesia pada SEA Games Thailand 2025 melalui nomor Poomsae Beregu Putra.

Emas tersebut menjadi yang pertama bagi kontingen Indonesia di SEA Games Thailand 2025 sekaligus mengakhiri paceklik prestasi cabang poomsae yang terakhir kali meraih emas pada SEA Games Jakarta 2011.

Tim yang diasuh Maulana diperkuat Muhammad Rizal asal Kota Bogor, Muhammad Alfi Kusuma dari Kota Bandung, dan Muhammad Hafizh Fachrur Rhozy dari Solo.

“Ini emas yang sangat emosional bagi saya. Setelah tiga kali ikut SEA Games sebagai atlet dan empat kali sebagai pelatih, akhirnya bisa mempersembahkan emas untuk Indonesia,” kata Maulana Haidir saat diwawancarai, Rabu 7 Januari 2026.

Pada ajang 33nd SEA Games Thailand 2025, perjalanan tim Indonesia tidaklah mudah. Cabang poomsae awalnya tidak masuk prioritas utama dan bahkan tidak mendapatkan alokasi anggaran dari pusat.

Persiapan sudah dimulai sejak Februari 2025, namun izin resmi untuk mengikuti SEA Games baru diperoleh pada Agustus 2025.

“Empat bulan persiapan itu sangat mepet. Bahkan biaya latihan awal kami tanggung secara mandiri. Alhamdulillah, untuk keberangkatan dan perlengkapan sudah masuk SK Kontingen Indonesia dan SK KOI,” ujar Maulana.

Keterbatasan waktu juga diperparah dengan kondisi atlet yang tidak sepenuhnya ideal.

Muhammad Rizal tetap aktif berlatih, sementara Muhammad Hafizh Fachrur Rhozy harus membagi waktu dengan penyelesaian skripsi, dan satu atlet lainnya sedang menjalani pendidikan militer.

Untuk menyiasati kondisi tersebut, Maulana menyusun program latihan yang terstruktur.

Pada Agustus hingga September, fokus diberikan pada pemulihan fisik dan penguatan teknik dasar.

Oktober diarahkan pada peningkatan konsistensi teknik, sementara November diisi dengan training camp selama sepuluh hari di Korea Selatan serta uji coba internasional di China yang berbuah gelar juara.

“Setelah kembali ke Indonesia hanya sepuluh hari, kami langsung berangkat ke Thailand. Secara mental dan teknik, atlet sudah siap,” katanya.

Di SEA Games, persaingan berlangsung ketat. Setidaknya ada enam negara dengan kekuatan merata, yakni Indonesia, Filipina, Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Singapura.

Mayoritas atlet yang tampil merupakan finalis atau peringkat delapan besar kejuaraan dunia.

Indonesia membuka jalan menuju emas dengan menyingkirkan Myanmar di babak pertama, mengalahkan Malaysia di babak kedua, dan tampil solid hingga meraih kemenangan di partai final.

“Pengalaman world class atlet sangat menentukan. Mereka mampu menampilkan performa maksimal sesuai dengan apa yang dilatih,” ujar Maulana.

Pria berusia 34 tahun ini mengaku mulai mengenal taekwondo sejak duduk di bangku kelas 3 SD pada 1999.

Ia sempat fokus di nomor kyorugi sebelum beralih ke poomsae akibat cedera pada 2009.

Kemudian sejak masuk tim nasional pada 2010, ia pun mengoleksi berbagai prestasi.

Mulai dari medali perak Kejuaraan Dunia, emas Kejuaraan Asia 2016, serta tiga medali perunggu SEA Games.

Pasca Asian Games 2018, Maulana memutuskan gantung sabuk sebagai atlet dan beralih sepenuhnya ke dunia kepelatihan.

Selain SEA Games, ia juga mencatat prestasi internasional bersama atlet binaannya di Australia Open dan China Open.

Saat ini, ia berstatus sebagai Aparatur Sipil Negara dengan tugas khusus sebagai pelatih taekwondo.

Menurut Maulana, perkembangan taekwondo Indonesia terus menunjukkan tren positif berkat pembinaan usia dini yang semakin terstruktur serta dukungan pemerintah melalui berbagai program nasional.

“Pembinaan junior sekarang jauh lebih rapi. Dari Porprov Nasional, PPLP, sampai program pusat, semua jadi jalur seleksi yang jelas,” katanya.

Ia mencontohkan seperti tim junior Indonesia baru-baru ini berhasil meraih dua medali perunggu di ASEAN Youth Games dan lolos kualifikasi Olimpiade Remaja.

Dia pun berpesan kepada generasi muda agar menekuni taekwondo dengan komitmen dan dukungan keluarga.

“Taekwondo bukan sekadar olahraga. Ini bisa menjadi jalan hidup dan membuka karier hingga level dunia. Tapi semua butuh kerja keras dan konsistensi,” pungkasnya. (uma)

Editor : Alpin.
#kota bogor #sea games #taekwondo