RADAR BOGOR — Tim nasional basket 3x3 putri Indonesia akhirnya memutus dominasi Vietnam dan meraih medali emas SEA Games Thailand 2025.
Keberhasilan ini tak lepas dari peran pelatih asal Kota Bogor, Fandi Andika Ramadhani yang membawa skuadnya tampil sempurna tanpa kekalahan hingga partai puncak.
Pada laga final yang digelar di Nimibutr Arena, Bangkok, Kamis 11 Desmber 2025, Indonesia menaklukkan tuan rumah Thailand dengan skor ketat 20-18.
Kemenangan tersebut sekaligus mengantarkan Indonesia meraih emas perdana cabang basket 3x3 putri sepanjang keikutsertaan di SEA Games.
Sebelum melaju ke final, Indonesia lebih dulu mematahkan “kutukan” Vietnam di babak semifinal.
Pada dua edisi SEA Games sebelumnya, 2021 dan 2023, langkah Indonesia selalu terhenti oleh Vietnam dan harus puas dengan medali perunggu.
Namun di Thailand, tren negatif itu berhasil diputus lewat kemenangan dramatis 20-18 melalui babak overtime setelah skor imbang 18-18 di waktu normal.
“Kemenangan lawan Vietnam itu sangat krusial. Di dua SEA Games sebelumnya kami selalu kalah di semifinal. Begitu menang, mental anak-anak langsung naik dan kami yakin bisa ambil emas,” ujar pria yang akrab disapa Coach Rama kepada Radar Bogor, Kamis 8 Januari 2025.
Skuad juara basket 3x3 putri Indonesia diperkuat Dewa Ayu Made Sriartha Kusuma (Bali/GMC Cirebon), Agustin Elya Gradita Retong (DKI Jakarta/Surabaya Fever), Evelyn Fiyo (Jawa Timur/Surabaya Fever), serta pemain naturalisasi Kimberley Pierre Louis.
Coach Rama menjelaskan, persiapan tim dilakukan secara intens selama sekitar satu bulan. Tantangan utama datang dari komposisi pemain yang sebagian tampil di dua nomor sekaligus, yakni 3x3 dan 5x5.
“Ayu dan Dita main di dua nomor. Kim sudah lama latihan bersama, sementara Fiyo memang paling muda tapi cepat beradaptasi karena sering berlatih dengan pemain senior di Surabaya,” katanya.
Dari sisi sistem permainan, Coach Rama mengaku tidak menemui kendala berarti karena sebagian besar pemain telah memiliki chemistry yang kuat.
Terlebih Ayu, Dita, dan Kimberley sudah bermain bersama sejak SEA Games 2021 dan 2023, sehingga proses penyatuan tim berjalan relatif lancar.
Keberhasilan Indonesia juga didukung perubahan regulasi yang dikeluarkan tuan rumah Thailand sekitar satu bulan sebelum pertandingan.
Regulasi tersebut memperbolehkan pemain naturalisasi dengan paspor minimal Januari 2024 untuk tampil di nomor 3x3.
“Karena Kim sudah dinaturalisasi sejak 2019, otomatis dia bisa main. Ini sangat membantu karena regulasi 3x3 memang berbeda dengan 5x5,” ujar Coach Rama.
Perjalanan Indonesia menuju emas diawali dengan performa impresif di fase grup.
Indonesia berhasil mengalahkan Filipina dan Malaysia, memastikan diri sebagai juara grup dengan rekor tak terkalahkan.
Tren positif itu berlanjut hingga semifinal dan final, yang keduanya dimenangi dengan skor identik 20-18.
“Target awal saya pribadi sebenarnya hanya ingin memperbaiki peringkat. Dari dua perunggu sebelumnya, setidaknya bisa masuk final dan dapat perak. Tapi karena sejak awal kami unbeaten, saya bilang ke anak-anak sayang kalau satu pertandingan lagi kalah. Alhamdulillah bisa disapu bersih,” katanya.
Bagi Coach Rama, emas SEA Games 2025 menjadi pencapaian emosional. Ia merupakan mantan pemain basket 3x3 yang aktif sejak 2013 dan sempat tampi di World Tour Jepang serta tampil di kejuaraan dunia lain hingga 2017.
Setelah pensiun pada 2018, ia beralih menekuni dunia kepelatihan, mulai dari Islamic Solidarity Games, Asian Games, hingga pembinaan kelompok usia.
“Kami sudah bersama sejak seleksi Asian Games 2018. Menunggu tujuh sampai delapan tahun untuk akhirnya berdiri di podium tertinggi dan meraih emas pertama 3x3 putri itu rasanya luar biasa,” ujar pelatih asal Bogor tersebut.
Pada tahun 2025, basket 3x3 putri Indonesia juga mencatatkan sejumlah capaian positif lainnya, di antaranya lolos ke main draw FIBA Asia Putri, meraih emas pada ajang 3x3 U-17 di Singapura, serta finis di peringkat keenam Asian Youth Games dengan mayoritas pemain berusia 16 tahun.
Menatap ke depan, Coach Rama optimistis perkembangan basket 3x3 Indonesia akan semakin kuat meski belum memiliki liga resmi.
Selama open tournament dari kelompok umur sampai umum terus berjalan, itu sudah cukup.
"Saya juga tidak mau memisahkan 5x5 dan 3x3 karena keduanya saling melengkapi. Tujuan akhirnya tetap satu, untuk negara,” pungkasnya. (uma)
Editor : Alpin.