RADAR BOGOR - Meraih juara dalam ajang SEA Games mungkin merupakan hal yang biasa bagi Hendro Yap. Atlet jalan cepat asal Kabupaten Bogor itu telah 6 kali meraih medali emas dalam ajang SEA Games.
Terakhir, ia bersama Violine Intan Puspita yang juga asal Kabupaten Bogor berhasil mengamankan medali emas pada SEA Games 2025 di Bangkok, Thailand.
Namun bagi Indonesia, prestasi ini tentu membanggakan. Apalagi Bendera Merah Putih berhasil berkibar dengan posisi tertinggi di Run Happy and Healthy Bike Lane, Minggu 14 Desember 2025 yang menandakan kemenangan kedua altet tersebut.
Bagi Hendro Yap, medali emas kali ini punya makna berbeda. Terlebih di usianya yang telah menginjak 35 tahun.
"Ini adalah emas keenam saya dan keikutsertaan kedelapan saya di ajang SEA Games. Tentu saya bangga bisa kembali mempersembahkan emas untuk Indonesia," ucapnya kepada Radar Bogor.
Menurut Hendro, ajang SEA Games kali ini bukan tanpa hambatan. Beberapa kali ia harus berkutat dengan urusan internal Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI).
Bahkan dalam beberapa ajang uji coba, ia terpaksa harus merogoh kocek pribadi.
Berbeda dengan atlet jalan cepat lainnya, Hendro bahkan tidak diberangkatkan training camp di luar negeri.
"Tapi ya sudahlah, saya berusaha sebaik mungkin. Saya tidak mau terpengaruh oleh masalah internal di PB PASI atau keterbatasan anggaran. Saya hanya fokus dengan tim, tujuan saya dapat medali, dapat bonus, dan selesai," tuturnya.
Latar Belakang Hendro Yap
Hendro Yap merupakan pria asli Kabupaten Bogor tepatnya Kecamatan Cileungsi.
Berkecimpung di dunia atletik sejak mengikuti ekstrakulikuler di SMPN 1 Cileungsi pada 2024 atau 21 tahun yang lalu.
Lantaran hidup di keluarga yang sederhana, sang Ayah bahkan menyuruh Hendro untuk mencari uang sendiri untuk melanjutkan pendidikan SMA.
"Bapak enggak punya uang, lalu guru olahraga saya menyarankan kalau bagus di atletik bisa dapat beasiswa PPLP di Jawa Barat.
Sekolah gratis, latihan gratis, makan gratis, dikasih uang saku. Akhirnya saya berminat," bebernya.
Singkat cerita, Hendro pun dipanggil Pelatnas di tahun 2007. Di pendidikan formal, ia telah menyandang gelar MBA, S2 di Spanyol jurusan Sport Management.
"S1 saya di Kepelatihan UPI. Sekarang status saya pegawai di Kemenpora," tambah Hendro.
Sekarang di usianya yang ke-35, Hendro mengaku tidak terpengaruh dengan atlet-atlet usia muda.
Kerja keras serta latihan rutin sudah menjadi makanannya untuk terus mengevaluasi serta mempersiapkan diri dalam berbagai ajang perlombaan.
Hal itu terbukti dengan ia yang masih mendulang emas. Meski demikian, Hendro berharap PB PASI, Menpora, dan PB PON bisa mencabut pembatasan umur di PON.
"Tujuan saya membuktikan bahwa di usia segini saya masih bisa, itu bukan untuk saya pribadi, tetapi untuk teman-teman dan senior-senior saya yang terdampak oleh batasan umur ini," pungkasnya.(cok)
Editor : Alpin.