RADAR BOGOR - Regulasi baru Formula 1 (F1)musim 2026, resmi diterapkan mulai seri pembuka di Grand Prix Australia.
Perubahan besar pada desain mobil hingga sistem tenaga hybrid membuat karakter balapan berubah, bahkan memunculkan beragam reaksi dari para pembalap.
Perubahan besar dalam dunia balap Formula 1 mulai terasa pada musim 2026.
Regulasi terbaru yang diperkenalkan resmi digunakan sejak seri pembuka di Grand Prix Australia yang digelar di Albert Park Circuit, Melbourne, akhir pekan lalu.
Dalam aturan baru tersebut, para pembalap kini mengendarai mobil yang lebih kecil dan ringan dibandingkan generasi sebelumnya.
Selain itu, power unit yang digunakan juga mengusung komposisi tenaga hybrid yang seimbang, yakni 50 persen dari mesin pembakaran internal dan 50 persen dari energi listrik.
Tak hanya itu, beberapa teknologi baru juga diperkenalkan untuk meningkatkan dinamika balapan. Salah satunya adalah sistem aerodinamika aktif yang memungkinkan sayap depan dan belakang mobil berubah posisi sesuai kondisi lintasan.
Regulasi ini juga memperkenalkan sistem overtake mode, yang berfungsi membantu proses menyalip dan menggantikan sistem DRS (Drag Reduction System) yang digunakan pada era sebelumnya.
Meski membawa inovasi baru, perubahan tersebut tidak sepenuhnya disambut positif oleh para pembalap.
Sejumlah driver menilai karakter balapan kini terlalu bergantung pada strategi pengelolaan energi.
Dalam kondisi tersebut, pembalap tidak hanya dituntut mencari celah untuk menyalip lawan, tetapi juga harus cermat mengatur penggunaan baterai agar mobil tetap memiliki tenaga maksimal sepanjang balapan.
Norris Soroti Fenomena Super-Clipping
Juara dunia bertahan Lando Norris menjadi salah satu pembalap yang mengkritik regulasi terbaru tersebut.
Pembalap tim McLaren itu menilai mobil generasi terbaru jauh lebih sulit dikendalikan dibandingkan mobil musim sebelumnya.
Menurut Norris, mobil yang digunakan pada musim lalu merupakan salah satu mobil terbaik dan paling nyaman dikendarai.
Namun, ia menilai mobil musim ini justru terasa jauh lebih menantang.
Ia juga menyoroti fenomena yang dikenal sebagai super-clipping, yaitu kondisi ketika mobil tiba-tiba kehilangan tenaga karena sistem sedang memanen energi listrik.
Situasi tersebut membuat mobil bisa melambat sebelum tikungan meskipun pedal gas ditekan penuh.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh pembalap Haas F1 Team, Esteban Ocon.
Pembalap asal Prancis itu menilai mobil baru membuat pembalap lebih sulit mempertahankan posisi saat balapan.
Menurut Ocon, penggunaan tombol boost belum tentu menjamin keberhasilan saat menyalip. Bahkan setelah berhasil melewati lawan, pembalap masih berisiko kembali disalip di lintasan lurus berikutnya.
Overtake Meningkat Drastis
Dampak dari regulasi baru tersebut terlihat jelas saat balapan di Albert Park, Minggu 8 Maret 2026.
Sepanjang lomba tercatat terjadi sekitar 120 aksi saling menyalip.
Jumlah tersebut meningkat drastis dibandingkan musim sebelumnya, ketika balapan di sirkuit yang sama hanya menghasilkan sekitar 45 overtaking.
Pemenang balapan George Russell dari Mercedes-AMG Petronas F1 Team bahkan sempat terlibat duel sengit dengan pembalap Ferrari, Charles Leclerc.
Keduanya tercatat saling menyalip hingga tujuh kali dalam sembilan lap pertama sebelum akhirnya Russell mampu menjauh dan finis dengan keunggulan sekitar 15 detik dari Leclerc yang menempati posisi ketiga.
Di tengah berbagai kritik yang muncul, Russell justru memandang regulasi baru tersebut secara positif.
Ia menilai, banyak pihak terlalu cepat memberikan penilaian sebelum melihat perkembangan balapan dalam beberapa seri ke depan.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh juara dunia tujuh kali Lewis Hamilton yang kini membela Ferrari.
Pembalap asal Inggris tersebut mengaku menikmati pengalaman berkendara dengan mobil generasi terbaru dan menilai balapan terasa cukup menyenangkan. (ka/bas)
Editor : Siti Dewi Yanti