RADAR BOGOR - Pelatih legendaris Pep Guardiola resmi mengakhiri kebersamaannya dengan Manchester City pada Jumat malam, 22 Mei 2026 WIB.
Keputusan tersebut sekaligus menutup perjalanan emas Guardiola bersama klub asal Inggris itu setelah satu dekade penuh prestasi.
Kepergian Guardiola menjadi salah satu momen paling emosional dalam sejarah modern Manchester City.
Sosok yang selama ini identik dengan dominasi dan permainan atraktif itu, akhirnya memilih mundur karena merasa kelelahan secara mental maupun fisik setelah bertahun-tahun berada dalam tekanan kompetisi level tertinggi.
Guardiola Akui Kehabisan Energi Setelah Bertahun-tahun Bertarung di Level Tertinggi
Dalam keterangannya, Guardiola mengungkapkan dirinya sudah tidak memiliki energi yang cukup untuk terus menjalani ritme kompetisi yang sangat padat.
Mantan pelatih FC Barcelona dan Bayern Munich itu menjelaskan, selama 10 tahun terakhir dirinya hidup dalam tekanan besar, mulai dari menghadapi pertandingan setiap tiga hari hingga menjaga performa tim tetap konsisten dalam perebutan gelar.
Guardiola juga mengaku merasakan situasi yang mirip dengan apa yang pernah dialami mantan manajer Jürgen Klopp saat meninggalkan Liverpool FC pada 2024 lalu.
Menurut Guardiola, intensitas pekerjaan sebagai manajer klub elite dalam waktu yang panjang membuat dirinya membutuhkan jeda untuk memulihkan energi dan menikmati kehidupan di luar sepak bola.
Tinggalkan Warisan Besar untuk Manchester City
Selama menangani Manchester City sejak 2016, Guardiola sukses mengubah klub tersebut menjadi salah satu kekuatan terbesar di Eropa.
Pelatih asal Spanyol itu mempersembahkan total 20 trofi bergengsi untuk The Citizens.
Di antaranya enam gelar Premier League, termasuk catatan empat gelar liga secara beruntun yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Tak hanya berjaya di kompetisi domestik, Guardiola juga membawa Manchester City meraih trofi UEFA Champions League pertama dalam sejarah klub.
Puncaknya terjadi pada musim 2022/2023 ketika City sukses meraih treble winners.
Kesuksesan tersebut membuat Guardiola dianggap sebagai salah satu pelatih terbaik sepanjang sejarah Manchester City.
Manchester City Hadapi Era Baru Tanpa Guardiola
Kepergian Guardiola diprediksi meninggalkan tantangan besar bagi Manchester City musim depan.
Banyak pihak menilai sulit mencari sosok pengganti yang mampu mempertahankan standar tinggi yang telah dibangun selama satu dekade terakhir.
Situasi ini mengingatkan publik pada momen saat Liverpool kehilangan Jürgen Klopp pada 2024.
Saat itu, Klopp juga memutuskan mundur karena kelelahan mental dan fisik setelah bertahun-tahun bersaing ketat dengan Manchester City racikan Guardiola.
Kini, roda sepak bola Inggris kembali memasuki babak baru.
Setelah mendominasi selama bertahun-tahun, Guardiola memilih menepi untuk beristirahat dan mengisi ulang energinya. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim