RADAR BOGOR - Yasin Ayari menjadi salah satu sorotan pada laga pembuka Grup H Piala Dunia 2026 saat Swedia menghadapi Tunisia.
Gelandang berusia 22 tahun itu mencetak dua gol dan membantu Swedia meraih kemenangan meyakinkan.
Profil Yasin Ayari langsung menjadi perbincangan setelah pemain muda tersebut memilih tidak melakukan selebrasi berlebihan usai mencetak gol ke gawang Tunisia.
Sikap pemuda kelahiran 6 Oktober 2023 itu menarik perhatian penggemar sepak bola dunia.
Yasin Ayari hanya mengangkat kedua tangannya lalu melakukan sujud syukur di atas lapangan. Tidak ada selebrasi penuh euforia seperti yang biasa dilakukan pemain seusianya.
Dalam Profil Yasin Ayari, terungkap bahwa ia memiliki hubungan emosional yang kuat dengan Tunisia. Negara Afrika Utara tersebut merupakan tanah kelahiran sang ayah.
Baca Juga: 6 Deretan Destinasi Wisata dan Kuliner di Bogor yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
Lahir di Swedia
Ayari lahir di Swedia, tetapi berasal dari keluarga keturunan Afrika Utara. Ayahnya berasal dari Tunisia, sementara ibunya memiliki darah Maroko.
Karena latar belakang tersebut, Ayari sebenarnya memiliki kesempatan membela tim nasional Tunisia. Namun, ia memilih memperkuat Swedia sejak usia muda.
Keputusan itu mendapat dukungan penuh dari ayahnya, Azzouz Ayari. Sang ayah merasa Swedia adalah negara yang telah memberikan banyak kesempatan bagi keluarganya.
Mulai Terjun Sejak Usia 7 Tahun
Sebelum menjadi pemain tim nasional senior, Ayari meniti karier dari akademi sepak bola lokal di Solna, kota tempat ia dibesarkan.
Ia mulai bermain sepak bola sejak usia tujuh tahun bersama klub Rasunda. Bakatnya kemudian menarik perhatian klub besar Swedia, AIK.
Perkembangannya berlangsung pesat hingga akhirnya menjalani debut bersama tim utama AIK pada tahun 2020.
Penampilan konsisten membuat namanya semakin dikenal di sepak bola Eropa. Ayari kemudian mendapatkan kesempatan tampil di level internasional bersama tim nasional Swedia.
Piala Dunia 2026 menjadi panggung terbesar dalam kariernya sejauh ini dan mulai dipantau tim-tim besar Eropa. (***)
Editor : Yosep Awaludin