RADAR BOGOR - Prestasi membanggakan ditorehkan oleh Ponpes Al Ihsan Baron. Salah satu santrinya, Muhammad Mufti menyabet perak di Popwilda Bandung.
Popwilda sendiri merupakan turnament multi event. Ada beragam kejuaran yang dilombakan. Mulai dari sepak bola, basket, takraw, voli hingga pencak silat.
Pencak silat, kejuaraan yang dipilih Mufti. Perjuangan untuk menyabet medali perak di Popwilda bukan soal mudah. Apalagi ia baru 2 tahun menggeluti olahraga itu.
Sebelum bertanding di Popwilda, Mufti mesti ikut seleksi di tingkat Kota Bogor. Berat badannya yang saat itu mencapai 80 Kg membuatnya harus diet ekstrem.
“Saya berjuang nurunin berat badan sekitar 15 kilo, dari 87 ke 72. Dalam waktu singkat Jadi emang sedikit ekstrem gitu,” ujar Mufti pada Radar Bogor.
Perjuangan diet itu membuahkan hasil. Mufti berhasil terpilih untuk ikut tanding di Popwilda dengan membawa nama Kota Bogor dipundaknya.
Baca Juga: Jumlah PNS Menyusut 410 Ribu dalam Lima Tahun, BKN Dorong Penambahan Pegawai Negeri
Persiapan latihan tingkat Kota Bogor cukup menguras energi. Selama hampir dua bulan badannya nyaris tak pernah istirahat. Latihan demi latihan mesti ia lakoni.
“Setelah satu pekan jelang lomba baru dikurangin porsi latihannya. Sebelumnya hampir setiap minggu ga ada istirahat,” kata Mufti, Kamis 16 Juli 2026.
Pada 15 hingga 19 Juni 2026 pertandingan Popwilda dimulai. Mufti sendiri melakoni laga pertamanya di event ini pada hari kedua pelaksanaan.
“Saya main melawan Kabupaten Sukabumi. Saya menang cepat dengan WMP, jadi selisih poin 30. Langsung diselesaikan, tidak sampai selesai gitu,” terangnya.
Keberhasilannya dilaga pertama, membuat Mufti melenggang ke fase semi final. Ia saat itu berhadapan dengan atlet asal Kabupaten Bandung Barat.
Di moment ini, dewi fortuna kembali berpihak. Lawannya, harus didiskualifikasi karena melakukan pelanggaran sebanyak tiga kali berturut-turut.
Pertandingan masuk pada fase krusial. Di laga perebutan tahta jawara, Mufti berhadapan dengan atlet pencak silat asal Kota Depok.
“Karena fisik kecapean, udah enggak kuat lagi, di ronde ketiga itu sebelum habis waktu udah ketinggalan poinnya. Jadi enggak kekejar lagi,” ucap Mufti.
Meski kecewa dengan hasil akhir, namun kata-kata soal pentingnya rasa syukur terngiang di telinganya. Mufti kini sudah berlapang dada dengan medali peraknya.
“Alhamdulillahnya dapat rezekinya juara dua, disyukurin aja. Lawannya berat-berat, latihannya pada lama, sementara saya baru mulai pas masuk pondok,” jelasnya.
Baca Juga: 5 Kuliner Legendaris Tasikmalaya yang Wajib Dicoba, Ada yang Bertahan Sejak 1960-an
Juara satu dan dua di Popwilda berhak melaju ke event berikutnya yakni Popda. Namun, karena Mufti sudah kelas 12, ia terpaksa tidak bisa ikut event tersebut.
“Kalau Popda saya tidak main lagi, karena kemungkinan sudah lulus sekolah. Jadi ada yang ngegantiin gitu, dari Bogor dapat jatah,” terang Mufti.
Prestasi ini bukan kali pertama ia torehkan. Di beberapa event Pencak Silat lain, Mufti nyaris tak pernah absen merebut gelar juara.
“Kaya misal di Gymnasium Vokasi IPB saya menang. Kemudian di Cibinong event yang diselenggarakan sama militer saya juga menang alhamdulillah,” pungkasnya. (bay)
Editor : Yosep Awaludin