RADAR BOGOR – Keberhasilan Timnas Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026 tidak hanya mengakhiri penantian panjang La Roja, tetapi juga melahirkan catatan bersejarah bagi Lamine Yamal.
Lamine Yamal menjadi remaja pertama yang sukses mengoleksi gelar Piala Eropa (Euro) dan Piala Dunia di level internasional.
Lamine Yamal Torehkan Rekor Bersejarah
Ya, keberhasilan Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia 2026 membuat nama Lamine Yamal kembali menghiasi buku sejarah sepak bola dunia.
Berdasarkan data yang dirilis Squawka, pemain berusia 19 tahun itu menjadi remaja pertama yang mampu menjuarai Euro dan Piala Dunia bersama tim nasional.
"Lamine Yamal telah meraih dua pencapaian tertinggi di level sepak bola internasional saat usianya masih 19 tahun," tulis Squawka, menyoroti prestasi luar biasa sang pemain muda.
Sebelumnya, Lamine Yamal lebih dulu mengantarkan Spanyol menjadi kampiun Euro 2024 ketika masih berusia 17 tahun.
Baca Juga: Jurgen Klopp Latih Timnas Jerman? Eks Liverpool Angkat Bicara
Pada turnamen tersebut, ia juga dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik, sebuah penghargaan yang semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu talenta paling menjanjikan di dunia.
Tetap Berperan Penting Meski Sempat Cedera
Penampilan Lamine Yamal di Piala Dunia 2026 memang tidak seproduktif saat tampil di Euro 2024.
Sepanjang turnamen, ia hanya mencetak satu gol karena sempat mengalami cedera yang membatasi menit bermainnya pada fase grup.
Meski demikian, memasuki babak gugur pelatih Luis de la Fuente kembali mempercayakan posisi sayap kanan kepada Yamal.
Kecepatan, kreativitas, dan kemampuannya membuka ruang tetap menjadi bagian penting dari perjalanan Spanyol hingga akhirnya mengangkat trofi juara dunia.
Spanyol Kuasai Jalannya Final
Pada laga final, Spanyol tampil lebih dominan dibandingkan Argentina sepanjang 120 menit pertandingan.
La Roja mampu menciptakan 16 peluang tembakan dan terus menekan pertahanan lawan.
Sebaliknya, Argentina kesulitan mengembangkan permainan sehingga gagal menghasilkan ancaman berarti sepanjang pertandingan.
Tim besutan Luis de la Fuente tampil solid melalui kombinasi penguasaan bola dan permainan menyerang yang efektif.
Sementara Argentina lebih sering mengandalkan duel fisik untuk meredam agresivitas para pemain Spanyol.
Baca Juga: Resep Oseng Daging Mentega yang Empuk dan Gurih, Cocok untuk Menu Makan Siang
Situasi semakin berat bagi Albiceleste setelah Enzo Fernández menerima kartu merah akibat pelanggaran keras terhadap Pau Cubarsí.
Bermain dengan 10 orang hingga laga usai membuat Argentina semakin sulit mengejar ketertinggalan.
Di sektor tengah, Rodri kembali memperlihatkan kualitasnya sebagai pengatur permainan.
Peraih Ballon d'Or tersebut menjadi pusat distribusi bola sekaligus penjaga keseimbangan permainan Spanyol sepanjang pertandingan.
Era Baru La Roja Dimulai
Kesuksesan menjuarai Piala Dunia 2026 menjadi sinyal lahirnya generasi emas baru Timnas Spanyol.
Kombinasi pemain senior berpengalaman dengan talenta muda seperti Lamine Yamal, Pau Cubarsí, hingga para pemain muda lainnya memberi optimisme besar bagi La Roja untuk tetap bersaing di level tertinggi sepak bola dunia dalam beberapa tahun ke depan.
Bagi Lamine Yamal sendiri, gelar juara dunia menjadi pencapaian monumental yang semakin memperkuat statusnya sebagai salah satu bintang muda terbaik di dunia.
Di usia yang baru 19 tahun, ia telah mengoleksi dua trofi paling bergengsi di sepak bola internasional, yakni Euro dan Piala Dunia, sebuah prestasi yang belum pernah dicapai remaja mana pun sebelumnya. (***)
Editor : Yosep Awaludin