RADAR BOGOR - Dunia sepak bola internasional diguncang oleh salah satu wacana paling kontroversial dalam sejarah modern olahraga, setelah rencana besar penjualan sebagian saham komersial FIFA pertama kali diungkap secara eksklusif oleh harian Inggris, The Times.
Melalui laporan investigasi jurnalis Martyn Ziegler, media tersebut membeberkan bahwa Presiden FIFA, Gianni Infantino, berencana membentuk entitas perusahaan swasta bernama FIFA Forward Enterprise (FFE).
FIFA akan menjual sebagian kepemilikan minoritas hak komersial turnamen seperti Piala Dunia kepada pihak ketiga, yang kemudian memicu badai penolakan global.
Rencana Komersialisasi FIFA
Berdasarkan laporan investigasi mendalam yang dirilis oleh The Times, rencana restrukturisasi komersial FIFA ini dirancang dengan rincian operasional dan finansial sebagai berikut:
Pembentukan Entitas Baru (FFE)
FIFA berencana mendirikan anak perusahaan swasta komersial baru yang diberi nama FIFA Forward Enterprise (FFE).
Perusahaan ini diproyeksikan untuk mengambil alih dan mengelola seluruh hak komersial turnamen-turnamen utama di bawah naungan FIFA.
Baca Juga: Prediksi Skor Cardiff City vs AS Roma 2 Agustus 2026, Giallorossi Diprediksi Menang Tipis
Penjualan Kepemilikan Minoritas
Melalui FFE, FIFA akan melepas sebagian kepemilikan saham minoritas non-pengendali kepada pihak investor swasta luar.
Turnamen yang tercakup dalam aset komersial ini meliputi Piala Dunia pria, Piala Dunia Wanita, hingga turnamen akbar antar-klub.
Valuasi dan Target Dana Segar
Entitas komersial baru tersebut ditaksir memiliki nilai valuasi awal atau ekuitas yang sangat fantastis, yakni mencapai $20 miliar (sekitar Rp361,24 triliun dengan kurs saat ini di kisaran Rp18.062 per dolar AS).
Dari penjualan sebagian saham tersebut, FIFA menargetkan untuk meraup dana segar bersih hingga $4,2 miliar (sekitar Rp75,86 triliun).
Keterlibatan Bank dan Calon Investor
Rencana bisnis berskala raksasa ini disusun bekerja sama dengan bank investasi multinasional asal Amerika Serikat, J.P. Morgan.
Sementara itu, kelompok penawar terdepan yang dikabarkan memimpin proses akuisisi saham ini adalah Thrive Eternal, sebuah dana investasi swasta (private equity) yang didirikan oleh miliarder Joshua Kushner.
Dalih dan Janji Finansial FIFA
Di hadapan para pengurusnya, Gianni Infantino membela mati-matian kebijakan ini dengan dalih pemerataan dan "demokratisasi finansial".
FIFA berjanji bahwa suntikan dana dari investor swasta akan mendongkrak total dana bantuan pembangunan sepak bola global hingga melampaui $10 miliar (sekitar Rp180,62 triliun) bagi 211 asosiasi anggota.
Termasuk alokasi dana tunai khusus hingga $20 juta (sekitar Rp361,24 miliar) per negara melalui program FIFA Fast Forward.
Sorotan Terkait Transparansi
Di balik narasi bantuan dana tersebut, laporan The Times juga menyoroti potensi kontroversial berupa struktur tata kelola baru yang dikhawatirkan membuka jalan bagi Infantino untuk menduduki posisi komisaris bergaji fantastis di dalam struktur komersial tersebut setelah masa jabatannya sebagai Presiden FIFA berakhir pada 2031.
Gelombang Kecaman Keras : Sikap UEFA dan Perdana Menteri Inggris
Gelombang penolakan global pun mengalir deras dari berbagai kalangan otoritas sepak bola hingga pemimpin politik dunia.
Badan sepak bola Eropa (UEFA) langsung mengeluarkan pernyataan resmi bernada sangat keras untuk mengecam langkah kontroversial tersebut. Ujar UEFA dalam pernyataan resminya:
“Hal ini telah melampaui batas yang seharusnya tidak pernah dilanggar oleh lembaga-lembaga yang mengatur sepak bola. UEFA memandang persoalan ini dengan tingkat keseriusan yang sangat tinggi. Demikian pula seharusnya setiap Asosiasi Sepak Bola Nasional. Hal yang sama juga berlaku bagi seluruh pemangku kepentingan liga, klub, pemain, suporter, pemerintah, serta setiap pihak yang peduli terhadap masa depan sepak bola," kata UEFA.
Baca Juga: Berkat Pendampingan BRI, Kingkaf Kini Tembus Pasar Amerika hingga Jepang
"Esensi dan tata kelola sepak bola bukanlah komoditas yang dapat diperjualbelikan, terlebih tanpa adanya transparansi mengenai siapa yang memperoleh keuntungan finansial. Tidak seorang pun memiliki sepak bola. Sepak bola juga bukan milik FIFA untuk diperjualbelikan,” kecam UEFA.
Kritik tajam dan terbuka juga datang dari Perdana Menteri Inggris, yang dengan tegas menyuarakan pembelaan terhadap para suporter akar rumput dunia:
“Izinkan saya mengatakannya secara gamblang. Sepakbola itu bukan untuk para investor. Itu milik orang-orang yang mengisi tribune dan berdiri di tepi lapangan dari pekan ke pekan, hujan maupun panas,” kata PM Inggris dikutip dari ESPN.
Dengan semakin meluasnya penolakan dari politisi, federasi regional, dan figur publik, wacana komersialisasi ini kini menjadi krisis tata kelola terbesar yang membelah masa depan sepak bola modern. (Renno/Unpak)
Editor : Yosep Awaludin