RADAR BOGOR - UEFA resmi mengumumkan sikap boikot terhadap seluruh kompetisi FIFA. Keputusan ini muncul setelah 55 asosiasi anggota Eropa menggelar pertemuan darurat pada Kamis (30 juli 2026) untuk menolak rencana FIFA menjual saham kepemilikan Piala Dunia kepada investor swasta.
Selain UEFA, konfederasi sepak bola Amerika Utara-Tengah (CONCACAF) dan Asia (AFC) turut menyatakan penolakan serupa.
Sikap Tegas UEFA dan 55 Asosiasi Anggota
UEFA menegaskan bahwa seluruh anggotanya berdiri sebagai satu kesatuan dalam menolak proposal FIFA tersebut. Federasi sepak bola Eropa ini menyampaikan pernyataan resmi lewat akun media sosialnya.
Baca Juga: Angkat Isu Perundungan di Dunia Pendidikan, Drakor Teach You A Lesson jadi Sorotan di Netflix
"Piala Dunia tidak boleh diperlakukan sebagai produk investasi," tulis UEFA dalam pernyataannya.
Organisasi ini menyebut Piala Dunia sebagai warisan olahraga yang dibangun lintas generasi oleh pemain, tim nasional, dan suporter di seluruh dunia.
Karena itu, UEFA menolak keras skema kepemilikan saham oleh pihak swasta. "Piala Dunia tidak untuk dijual," tegas pernyataan tersebut.
Kritik terhadap Proses yang Dianggap Tidak Transparan
UEFA juga menyoroti proses penyusunan rencana FIFA yang berlangsung tertutup. Menurut UEFA, usulan sebesar ini semestinya melalui konsultasi terbuka dengan pihak-pihak yang mengelola sepak bola dunia.
Baca Juga: Festival Merah Putih 2026 Dimulai, Pengibaran Bendera di Tugu Kujang Bogor Kembali Semarak
Namun, hal itu tidak terjadi. Sebaliknya, FIFA disebut membawa proposal ini nyaris ke tahap persetujuan tanpa pelibatan pemangku kepentingan.
"Ini bukan sekadar kegagalan kepemimpinan yang mendalam, melainkan sebuah pengabaian terhadap tugas FIFA sebagai pengawas dan pelindung sepak bola dunia," demikian bunyi pernyataan UEFA.
Lebih jauh, UEFA menyebut ultimatum yang diberikan FIFA kepada asosiasi nasional sebagai bentuk intimidasi, bukan proses demokratis.
Baca Juga: Promosikan Burung Endemik Indonesia, Maluku Utara Jadi Destinasi Ekowisata Dunia
Dampak Jika Investor Swasta Masuk ke Sepak Bola
Selanjutnya, UEFA memaparkan konsekuensi jangka panjang apabila investor luar benar-benar memperoleh hak kepemilikan atas kompetisi FIFA. Menurut mereka, keuntungan komersial akan berubah menjadi kewajiban permanen bagi federasi.
Akibatnya, setiap keputusan soal kalender internasional maupun format kompetisi berpotensi tidak lagi berpihak pada kepentingan olahraga. Sebaliknya, keputusan tersebut akan lebih condong mengikuti kepentingan pemegang saham.
UEFA menegaskan model semacam ini tidak punya tempat dalam sepak bola dunia. Sikap Eropa pun disebut sudah final: menolak memberi legitimasi terhadap skema investasi tersebut.
Baca Juga: Healing di Hutan Mangrove, Cerita dari Taman Wisata Alam Angke Kapuk
Respons Erling Haaland dan Dukungan Konfederasi Lain
Sikap tegas UEFA turut mendapat dukungan dari kalangan pemain top Eropa, termasuk bintang Timnas Norwegia, Erling Haaland. Melalui akun media sosial pribadinya, Haaland memberi komentar singkat menanggapi pernyataan UEFA.
"Bagus," tulis Haaland, merespons langkah federasi yang menolak rencana investor swasta FIFA.
Dukungan terhadap sikap UEFA juga datang dari luar Eropa. CONCACAF, konfederasi yang menaungi Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko selaku tuan rumah Piala Dunia 2026, ikut menyatakan penolakan terhadap proposal FIFA. AFC turut bergabung dalam barisan penolakan tersebut, membuat tekanan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino semakin besar.
Baca Juga: PKH Tahap 3 Mulai Cair di KKS Bank BRI, Cek Bukti Pencairan dari Berbagai Daerah
Meski demikian, tidak semua federasi kompak menolak. Sejumlah laporan menyebut ada asosiasi nasional yang justru terbuka terhadap tawaran FIFA. Situasi ini membuat polemik seputar masa depan tata kelola Piala Dunia masih akan terus bergulir dalam waktu dekat.***
Editor : Asep SuhendarSumber : instagram @uefa