RADAR BOGOR – Upaya meningkatkan kesehatan dan performa atlet perempuan di level internasional memasuki babak baru.
Global Alliance for Female Athletes (GAFA) memperluas jaringan kolaborasinya dengan menambah lima negara anggota baru.
Kanada, Prancis, Jerman, Jepang, dan Swiss kini resmi menjadi bagian dari GAFA. Sementara itu, Irlandia dan Belgia turut masuk sebagai mitra pendukung dalam kerja sama internasional tersebut.
Perluasan jaringan ini membuat jumlah negara anggota GAFA bertambah dari sebelumnya empat menjadi sembilan negara.
Aliansi tersebut pada awalnya dibentuk oleh organisasi olahraga dari Australia, Amerika Serikat, Inggris, dan Selandia Baru.
GAFA dibentuk untuk memperkuat kerja sama penelitian sekaligus meningkatkan pemahaman global mengenai berbagai kebutuhan kesehatan dan performa yang secara khusus berkaitan dengan atlet perempuan.
Baca Juga: IPO Unitree Robotics Menggila, Saham Produsen Robot Humanoid China Naik 460 Persen
GAFA Soroti Masalah Kesehatan Atlet Perempuan
Australian Institute of Sport (AIS), salah satu pihak yang berada di balik pembentukan GAFA, menyebut masih terdapat kesenjangan pengetahuan mengenai kondisi kesehatan yang banyak dialami atlet perempuan.
Sejumlah persoalan seperti endometriosis dan nyeri haid berat atau dismenore menjadi perhatian karena masih belum banyak dipahami dalam konteks olahraga.
Keterbatasan literasi kesehatan tersebut dapat membuat kondisi yang dialami atlet perempuan terlambat dikenali.
Akibatnya, sebagian atlet berpotensi tidak memperoleh diagnosis maupun penanganan yang sesuai.
Fokus GAFA tidak hanya berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Persoalan cedera juga menjadi bagian penting dalam agenda aliansi tersebut.
Salah satu yang mendapat perhatian adalah cedera anterior cruciate ligament (ACL). Cedera pada ligamen lutut tersebut diketahui memiliki risiko lebih tinggi pada atlet perempuan dibandingkan atlet laki-laki dalam sejumlah cabang olahraga.
Riset Kesehatan Atlet Perempuan Diperkuat
Bertambahnya negara yang terlibat diharapkan dapat mempercepat pertukaran informasi dan hasil penelitian mengenai kesehatan atlet perempuan.
Dengan jaringan yang lebih luas, temuan penelitian dari satu negara dapat dibagikan secara lebih cepat kepada atlet, pelatih, tenaga medis, peneliti, serta pemangku kepentingan olahraga di negara anggota lainnya.
Pemimpin Female Performance Health Initiative di AIS, Dr. Rachel Harris, menilai pertumbuhan GAFA menjadi sembilan negara memperlihatkan tingginya minat berbagai pihak untuk membangun kerja sama di bidang tersebut.
Menurutnya, semakin banyak negara yang terlibat akan membuka peluang lebih besar untuk bertukar pengetahuan dan mendorong perubahan yang dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi atlet perempuan di berbagai negara.
Baca Juga: Saldo KKS Tembus Rp4,19 Juta! Ini Penyebab Bansos Tahap 3 Membesar
Perkembangan GAFA juga memperlihatkan bahwa kemajuan olahraga profesional tidak semata-mata ditentukan oleh prestasi atlet di arena pertandingan.
Aspek kesehatan, pola latihan, pencegahan dan pemulihan cedera, serta penelitian yang mempertimbangkan karakteristik biologis perempuan kini semakin mendapat perhatian dalam pengembangan olahraga modern.
Dengan cakupan jaringan yang semakin besar, GAFA diharapkan mampu mempercepat penelitian terkait berbagai faktor yang memengaruhi kesehatan dan performa atlet perempuan.
Pada akhirnya, kolaborasi tersebut diharapkan dapat membantu menciptakan ekosistem olahraga yang lebih aman, sehat, inklusif, dan mendukung kebutuhan atlet perempuan di berbagai belahan dunia. (Ara/Tazkia)
Editor : Yosep Awaludin