RADAR BOGOR - Alexander Zverev akhirnya menuntaskan penantian panjangnya di US Open.
Petenis Jerman itu berhasil merebut gelar juara setelah menundukkan wakil tuan rumah, Ben Shelton, dalam pertarungan empat set di USTA Billie Jean King National Tennis Center, New York, Senin (14/9/2026).
Zverev menang dengan skor 6-3, 7-6 (7-2), 5-7, 6-2.
Kemenangan tersebut bukan hanya mengantarkan petenis berusia 29 tahun itu ke podium juara, tetapi juga membuatnya semakin percaya diri menyandang status sebagai petenis terbaik dunia saat ini.
Baca Juga: Penampakan Sungai Cileungsi dan Cikeas Bogor di Titik Nol Kali Bekasi Disorot, Begini Kondisinya
Ketika mendapat pertanyaan apakah dirinya layak disebut sebagai pemain nomor satu dunia dalam performa terkini, Zverev memberikan jawaban yang cukup terbuka.
“Untuk saat ini, mungkin iya,” ujar Zverev.
Zverev Akui Sinner Masih di Atas
Meski baru saja meraih gelar US Open, Zverev tidak lantas mengabaikan keberadaan Jannik Sinner.
Dia justru menilai petenis Italia tersebut masih memiliki posisi lebih kuat apabila seluruh pemain papan atas berada dalam kondisi terbaik.
“Jika semua pemain sehat, saya rasa Jannik masih berada di depan,” kata Zverev.
Penilaian tersebut tidak lepas dari situasi yang terjadi di US Open 2026.
Sinner yang kini menduduki posisi teratas ranking ATP harus melewatkan turnamen Grand Slam tersebut karena mengalami cedera lutut kanan.
Sinner juga menjadi pemain yang menghentikan langkah Zverev pada Grand Slam sebelumnya.
Keduanya bertemu di Wimbledon pada 13 Juli lalu, dengan Sinner keluar sebagai pemenang.
Baca Juga: Mahfud MD Komentari Reshuffle Menkeu, Ungkap 2 Kelemahan Purbaya Yudhi Sadewa
Namun, Zverev menunjukkan perkembangan besar sepanjang musim ini. Sebelum mengangkat trofi di New York, dia lebih dulu memenangkan French Open pada Juni ketika Sinner tersingkir lebih awal di babak kedua.
Carlos Alcaraz juga belum sepenuhnya berada dalam kondisi terbaik setelah baru kembali dari cedera.
Petenis Spanyol itu kini berada di posisi ketiga ranking dunia dan sebelumnya menjadi juara Australian Open.
Berani Tinggalkan Permainan Pasif
Kesuksesan Zverev di New York tidak datang secara tiba-tiba.
Ada perubahan besar dalam cara dia bermain yang menjadi salah satu kunci kebangkitannya.
Zverev mulai meninggalkan gaya bermain pasif, dan mengubah pendekatannya menjadi lebih agresif.
Perubahan tersebut muncul setelah dia mengalami hasil mengecewakan di Wimbledon 2025.
Saat itu, Zverev langsung tersingkir pada babak pertama setelah kalah dari Arthur Rinderknech.
Tidak lama kemudian, dia mendatangi Rafa Nadal Academy di Mallorca pada Juli 2025.
Di tempat tersebut, Zverev mendapat masukan dari Rafael Nadal dan Toni Nadal.
Baca Juga: Mata Garuda, Drone Thermal Pemkab Bogor Mampu Deteksi Radiasi Panas di TPA Galuga Bogor
Salah satu pesan penting yang diterimanya adalah agar tidak terlalu sering menunggu lawan melakukan kesalahan dan lebih berani mengambil kendali permainan.
Perubahan itu kemudian terlihat jelas di US Open 2026.
Taktik Zverev Bikin Shelton Kesulitan
Dalam laga final, Zverev tidak hanya berusaha meladeni pukulan keras Shelton.
Dia juga menggunakan variasi ketinggian dan kedalaman bola untuk mengganggu ritme permainan petenis Amerika Serikat tersebut.
Strategi itu menjadi salah satu pembeda dalam pertandingan.
Shelton dikenal lebih nyaman ketika menghadapi bola yang cepat dan datar, terutama dari sisi backhand.
Zverev pun sengaja memberikan bola dengan lintasan lebih tinggi dan kedalaman yang membuat Shelton kesulitan mendapatkan posisi ideal.
“Dia lebih nyaman menghadapi bola cepat dan datar di backhand. Karena itu, bola yang lebih tinggi dan dalam bisa membuatnya kesulitan,” jelas Zverev.
Enam Tahun Setelah Kegagalan di Final
Gelar US Open 2026 juga memiliki makna khusus bagi Zverev.
Trofi tersebut seolah menjadi penebus atas luka lama yang muncul dari final US Open 2020.
Enam tahun lalu, Zverev sebenarnya berada di posisi yang sangat menguntungkan ketika menghadapi Dominic Thiem.
Dia mampu merebut dua set pertama, tetapi situasi kemudian berbalik.
Thiem bangkit dan memenangkan tiga set berikutnya.
Zverev akhirnya kalah dalam pertandingan dramatis yang berlangsung selama 4 jam 1 menit.
Kini, kenangan pahit itu akhirnya terhapus.
Zverev berhasil kembali ke final US Open dan kali ini tidak membiarkan peluang tersebut lepas.
Menurutnya, pencapaian tersebut merupakan buah dari proses panjang yang dijalani selama bertahun-tahun.
Dia mengaku keberhasilannya lebih banyak dibangun melalui latihan daripada sekadar mengandalkan bakat alami.
“Saya tidak merasa memiliki bakat alami. Sebagian besar permainan saya berasal dari berjam-jam latihan di lapangan, di gym, dan di mana pun,” ungkap Zverev.
Petenis yang juga meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 itu kini memiliki satu lagi gelar Grand Slam dalam koleksinya.
Setelah French Open, US Open menjadi bukti bahwa perubahan yang dilakukan Zverev mulai memberikan hasil besar.
Zverev Geser Sinner di Live Race to Turin
Keberhasilan di US Open juga membawa dampak besar pada persaingan menuju ATP Finals 2026.
Zverev kini untuk sementara menempati posisi pertama ATP Live Race to Turin setelah mengumpulkan 8.650 poin.
Dia menggeser Sinner yang berada di posisi kedua dengan 7.950 poin.
Keduanya sudah memastikan tiket menuju ATP Finals 2026 yang akan berlangsung di Turin, Italia, pada 15–22 November mendatang.
Berikut daftar 10 besar ATP Live Race to Turin:
Alexander Zverev (Jerman) – 8.650 poin*
Jannik Sinner (Italia) – 7.950 poin*
Ben Shelton (AS) – 4.430 poin
Carlos Alcaraz (Spanyol) – 4.050 poin
Flavio Cobolli (Italia) – 3.530 poin
Frances Tiafoe (AS) – 3.330 poin
Arthur Fils (Prancis) – 3.150 poin
Daniil Medvedev (Rusia) – 2.780 poin
Rafael Jodar (Spanyol) – 2.509 poin
Taylor Fritz (AS) – 2.480 poin
Keterangan: Zverev dan Sinner telah memastikan lolos ke ATP Finals 2026 di Turin.
Editor : Siti Dewi Yanti