Jika Juara FIFA ASEAN Cup 2026, John Herdman Bisa Lepas dari Bayang-Bayang STY

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 09:45 WIB
John Herdman berpeluang membawa Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Jika berhasil, bisa jadi langkah penting baginya untuk lepas dari bayang-bayang Shin Tae-yong. (Foto:PSSI)
John Herdman berpeluang membawa Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Jika berhasil, bisa jadi langkah penting baginya untuk lepas dari bayang-bayang Shin Tae-yong. (Foto:PSSI)

RADAR BOGOR – Final FIFA ASEAN Cup 2026 bukan hanya menjadi kesempatan bagi Timnas Indonesia untuk mengangkat trofi.

Bagi John Herdman, pertandingan tersebut juga bisa menjadi momentum penting untuk membangun identitasnya sendiri sebagai pelatih skuad Garuda sekaligus perlahan keluar dari bayang-bayang Shin Tae-yong (STY).

Jika mampu membawa Timnas Indonesia menjadi juara, John Herdman berpeluang menciptakan pencapaian yang akan melekat dengan namanya.

Gelar tersebut bisa menjadi modal penting untuk mendapatkan kepercayaan lebih besar dari suporter sekaligus membentuk era baru di tubuh skuad Garuda.

Sejak berakhirnya masa kepelatihan Shin Tae-yong, pelatih yang datang setelahnya tidak pernah sepenuhnya terbebas dari perbandingan dengan pelatih asal Korea Selatan tersebut.

Standar yang terbentuk selama beberapa tahun membuat ekspektasi publik terhadap setiap pelatih baru semakin tinggi.

Baca Juga: Puding Regal Caramel, Dessert Lembut dan Creamy yang Cocok untuk Keluarga

Namun, kebiasaan membandingkan pelatih baru dengan sosok sebelumnya sejatinya bukan fenomena yang baru terjadi di Timnas Indonesia.

Siklus “Kangen Pelatih Lama” di Timnas Indonesia

Pergantian pelatih Timnas Indonesia hampir selalu diikuti dengan munculnya nostalgia terhadap sosok yang sebelumnya berada di kursi kepelatihan.

Ketika Luis Milla menangani Timnas Indonesia, misalnya, sebagian suporter masih merindukan sosok Alfred Riedl.

Setelah Simon McMenemy mengambil alih, giliran nama Luis Milla yang kembali muncul dalam perbandingan publik.

Hal serupa juga terjadi pada era Shin Tae-yong. Tidak sedikit suporter yang ketika itu masih mengingat masa kepelatihan Luis Milla.

Kemudian, saat Patrick Kluivert datang, muncul kembali suara dari sebagian publik yang mengaku merindukan Shin Tae-yong.

Kini, ketika John Herdman menjadi nakhoda Timnas Indonesia, pola tersebut kembali terjadi.

John Herdman juga harus menghadapi perbandingan dengan Shin Tae-yong, baik dari sisi hasil pertandingan maupun permainan tim.

Situasi ini memperlihatkan bahwa pelatih baru tidak hanya dituntut memberikan hasil positif. Mereka juga harus menghadapi ekspektasi dan kenangan publik terhadap periode sebelumnya.

Baca Juga: Bukti Pencairan Susulan Bansos Tahap 3 di KKS BNI, BRI dan BSI

Mengapa Suporter Sering Merindukan Pelatih Lama?

Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui konsep psikologi yang dikenal sebagai rosy retrospection.

Dilansir dari National Center for Biotechnology Information (NCBI), rosy retrospection merupakan kecenderungan seseorang untuk mengingat pengalaman masa lalu secara lebih positif dibandingkan ketika pengalaman tersebut benar-benar sedang dijalani.

Dalam konteks sepak bola, berbagai kekurangan yang pernah terlihat pada masa pelatih sebelumnya bisa perlahan memudar dari ingatan.

Sebaliknya, kemenangan penting, pertandingan bersejarah, dan momen emosional justru semakin menonjol dalam memori suporter.

Kondisi tersebut juga memiliki kaitan dengan nostalgia bias. Ketika performa pada era baru belum memenuhi harapan, publik cenderung kembali melihat periode sebelumnya sebagai masa yang lebih familiar dan terasa lebih meyakinkan.

Akibatnya, John Herdman bukan hanya dibandingkan dengan rekam jejak nyata Shin Tae-yong.

Ia juga berhadapan dengan gambaran ideal tentang STY yang telah terbentuk di dalam ingatan sebagian suporter.

Seruan untuk kembali mengingat nama pelatih lama pun tidak selalu bermakna bahwa publik benar-benar ingin sosok tersebut kembali menangani Timnas Indonesia.

Dalam situasi tertentu, penyebutan nama mantan pelatih dapat menjadi bentuk protes simbolis terhadap hasil pertandingan, performa skuad Garuda, atau kebijakan dan arah sepak bola nasional.

Gelar Juara Bisa Jadi Titik Balik John Herdman

Atas dasar itu, keberhasilan John Herdman mengantarkan Timnas Indonesia menjadi juara FIFA ASEAN Cup 2026 dapat memiliki makna yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar menambah koleksi trofi.

Baca Juga: Benarkah AC Mobil Bikin BBM Boros? Ini Fakta dan Cara Menggunakannya agar Tetap Irit

Kemenangan tersebut berpotensi melahirkan memori baru yang secara langsung dikaitkan dengan nama John Herdman.

Jika para suporter sebelumnya memiliki sejumlah momen berkesan yang melekat pada pelatih terdahulu, keberhasilan menjuarai turnamen ASEAN dapat menjadi pencapaian yang membangun ikatan emosional baru antara Herdman dan publik sepak bola Indonesia.

Memang, FIFA ASEAN Cup masih merupakan kompetisi di level kawasan Asia Tenggara.

Namun, status tersebut tidak menghilangkan arti penting sebuah gelar bagi pelatih dan tim yang berhasil memenangkannya.

Bagi Herdman, trofi tersebut bisa menjadi pijakan untuk mendapatkan kepercayaan yang lebih besar dari suporter Timnas Indonesia.

Setidaknya, apabila skuad Garuda berhasil menjadi kampiun, Herdman akan mempunyai pencapaian yang kuat untuk menunjukkan bahwa masa kepemimpinannya mulai memiliki cerita, identitas, dan prestasi sendiri.

Baca Juga: Bukan Main Cantik, Ini Instruksi John Herdman untuk Timnas Indonesia Hadapi Thailand

Pada akhirnya, trofi FIFA ASEAN Cup 2026 bukan semata-mata tentang keberhasilan Indonesia menjadi yang terbaik di Asia Tenggara.

Bagi John Herdman, gelar tersebut dapat menjadi langkah awal dalam membangun era baru Timnas Indonesia, sebuah era yang pada waktunya diharapkan mampu berdiri dengan identitas dan pencapaiannya sendiri, tanpa terus berada di bawah bayang-bayang STY. (Fauzan Kaifah/MG)

Editor : Yosep Awaludin
FIFA ASEAN Cup 2026 John Herdman timnas indonesia