RADAR BOGOR – Keputusan John Herdman menangani Timnas Indonesia bukan sekadar tentang menerima pekerjaan sebagai pelatih. Juru taktik asal Inggris itu mengaku tertarik dengan misi besar yang bisa dibangun bersama skuad Garuda, termasuk upaya menuju Piala Dunia 2030.
John Herdman bahkan memilih tinggal di Indonesia bersama keluarganya. Baginya, melatih Timnas Indonesia tidak cukup hanya datang ketika pertandingan berlangsung. Ia ingin memahami budaya, merasakan atmosfer sepak bola nasional, serta mengenal kehidupan masyarakat secara langsung.
Hal tersebut diungkapkan John Herdman dalam wawancara bersama Bung Binder di kanal YouTube Bola Bung Binder. Dalam perbincangan itu, ia menjelaskan alasan memilih Timnas Indonesia, pandangannya terhadap masyarakat Tanah Air, hingga ambisinya membangun fondasi sepak bola nasional.
Baca Juga: Pendakian Gunung Salak via Cimelati ke Puncak Manik: Rute Tektok dan Biaya
Menurut Herdman, seorang pelatih tim nasional harus hadir langsung di negara yang ditanganinya agar bisa memahami karakter masyarakat dan perkembangan sepak bola setempat.
“Jika kamu menjadi pelatih tim nasional suatu negara, kamu harus tinggal di negara tersebut. Kamu harus merasakan emosinya dan memahami budayanya,” ujar Herdman.
Ia juga menilai kehadirannya di pertandingan liga domestik menjadi bentuk penghargaan kepada pemain lokal. Dengan menyaksikan pertandingan secara langsung, ia bisa menunjukkan bahwa perkembangan pemain di kompetisi dalam negeri mendapat perhatian.
John Herdman Ungkap Alasan Memilih Timnas Indonesia
Baca Juga: Penggemar Horor Wajib Tahu! Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah Hadir dengan Teror Baru
Herdman mengaku tidak menerima pekerjaan sebagai pelatih Timnas Indonesia hanya karena ada kesempatan yang datang.
Sebelum mengambil keputusan, ia melakukan riset dan mempertimbangkan berbagai peluang lain, baik di level tim nasional maupun klub.
Namun, setelah mempelajari lebih jauh proyek sepak bola Indonesia, Herdman melihat adanya misi yang ingin diwujudkannya.
Bagi dia, pekerjaan harus memiliki tujuan dan memberikan dampak nyata, bukan sekadar menjadi rutinitas profesional.
Baca Juga: Bahasa Inggris Wajib 2027, Ini 5 Kebijakan Prioritas Kemendikdasmen
“Saya menyukai sebuah misi. Saya menyukai sesuatu yang memiliki tujuan. Proyek ini harus memiliki makna karena kita hanya hidup di planet ini selama beberapa tahun,” ungkapnya.
Herdman mengatakan, pengalaman melatih Kanada dan Selandia Baru turut membentuk pandangannya mengenai pentingnya transformasi sepak bola.
Ia ingin pekerjaannya menghasilkan perubahan yang bisa dirasakan dalam jangka panjang, termasuk membangun fondasi yang lebih kuat bagi generasi pemain berikutnya.
“Waktu yang saya miliki, saya ingin memberikan dampak yang besar. Perjalanan saya di Kanada dan Selandia Baru berkaitan dengan perubahan budaya, transformasi, dan meninggalkan warisan,” katanya.
Baca Juga: Review VW Golf Mk5 GTI Bekas: Harga Rp170 Jutaan tapi Ada Risiko yang Wajib Diwaspadai
Target Piala Dunia 2030 Jadi Misi Besar
Salah satu tujuan jangka panjang yang menjadi perhatian Herdman bersama Timnas Indonesia adalah Piala Dunia 2030.
Ia ingin membangun fondasi tim yang lebih kuat agar Indonesia mampu berkembang dan bersaing di panggung sepak bola internasional.
Herdman juga menyinggung slogan “280 juta alasan” sebagai gambaran besarnya tanggung jawab yang menyertai pekerjaannya bersama skuad Garuda.
Menurutnya, membangun tim yang kompetitif membutuhkan proses. Perubahan mentalitas, peningkatan kepercayaan diri, serta pembentukan identitas permainan menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju level tertinggi.
Baca Juga: Curug Kiara Pamijahan Bogor: Rute, Tiket, dan 3 Curug di Sekitarnya
Pengalaman membawa Kanada lolos ke Piala Dunia 2022 setelah absen sejak 1986 menjadi salah satu bekal yang dibawanya. Pengalaman tersebut memberinya gambaran mengenai pentingnya membangun keyakinan dan ekspektasi secara bertahap.
“Jika ingin bersaing di Piala Dunia, kamu harus berpartisipasi di sana terlebih dahulu. Kamu berpartisipasi, kemudian kamu bersaing,” ujarnya.
Bagi Herdman, target menuju Piala Dunia bukan hanya tentang hasil akhir. Tim juga harus memiliki fondasi yang memungkinkan perkembangan berkelanjutan.
Tinggal di Indonesia, Herdman Soroti Nilai Keluarga dan Kerja Keras
Baca Juga: Warga Jabar Tanpa BPJS Bisa Berobat Gratis, Ini Syaratnya
Selain berbicara tentang sepak bola, Herdman turut menceritakan pengalamannya beradaptasi dengan kehidupan di Indonesia.
Selama tinggal di Tanah Air, ia mengaku melihat sejumlah nilai yang menurutnya penting dalam kehidupan masyarakat, mulai dari mengutamakan keluarga hingga kerja keras dan rasa syukur.
“Hal yang saya pelajari selama tinggal di sini adalah nilai-nilai yang saya lihat di Indonesia, yaitu mengutamakan keluarga, kerja keras, tidak merasa berhak mendapatkan segalanya, dan rasa syukur,” kata Herdman.
Ia juga menyoroti peran keluarga dan agama dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi bagian menarik dari pengalaman tinggal di negara yang kini menjadi tempatnya menjalankan pekerjaan.
Baca Juga: Saldo KKS Masuk Awal Oktober, KPM PKH BPNT Perlu Cek Periode Bansos
Pengalamannya di Indonesia pun tidak hanya berkutat pada lapangan sepak bola. Herdman turut menceritakan kebiasaannya berlari di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta.
Ia menikmati suasana ketika masyarakat berkumpul untuk berolahraga, terutama pada akhir pekan.
Kehidupan sehari-hari tersebut menjadi bagian dari prosesnya memahami lingkungan tempat ia bekerja.
Ingin Tinggalkan Warisan untuk Sepak Bola Indonesia
Pengalaman bersama Kanada menjadi salah satu referensi Herdman dalam membangun Timnas Indonesia. Ia memahami bahwa perubahan besar membutuhkan waktu, konsistensi, dan kepercayaan terhadap proses yang dijalankan.
Menurutnya, tim harus lebih dahulu membangun fondasi, meningkatkan mentalitas, serta memahami identitas permainannya sebelum mampu bersaing secara konsisten di level tertinggi.
Baca Juga: Honda City Type Z, Sedan Murah Sporty yang Masih Layak Dilirik
Pendekatan itulah yang ingin dibawanya ke skuad Garuda dalam perjalanan menuju target Piala Dunia 2030.
Herdman tidak ingin pekerjaannya hanya diukur dari hasil pertandingan dalam waktu singkat. Ia juga ingin meninggalkan sistem dan fondasi yang bisa mendukung perkembangan sepak bola Indonesia pada masa mendatang.
Dengan memilih tinggal di Indonesia dan berusaha memahami masyarakatnya, Herdman menunjukkan bahwa proyek yang dibawanya tidak hanya berkaitan dengan taktik di lapangan, tetapi juga upaya membangun hubungan dengan lingkungan sepak bola nasional.
Kini, tantangan terbesarnya adalah menerjemahkan visi tersebut menjadi perkembangan nyata bagi Timnas Indonesia dalam menghadapi persaingan internasional. (Fauzan Kaifah/MG)
Editor : Rani Puspitasari Sinaga