RADAR BOGOR – Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, mulai memaparkan pendekatannya dalam membangun skuad Merah Putih.
Tak hanya fokus pada taktik, John Herdman yang pernah membawa Kanada tampil di Piala Dunia 2022 itu juga menaruh perhatian pada ikatan antarpemain, budaya tim, hingga pembinaan talenta muda di Timnas Indonesia.
Menurut John Herdman, membangun Timnas Indonesia membutuhkan proses yang berbeda dibandingkan menangani klub.
Baca Juga: Mitsubishi Kuda, MPV Keluarga Murah yang Masih Layak Dilirik?
Waktu berkumpul yang terbatas membuat komunikasi, rasa persaudaraan, dan pemahaman antarpemain menjadi fondasi penting sebelum menerapkan strategi permainan.
Hal tersebut disampaikan Herdman dalam wawancara bersama Bung Binder di kanal YouTube Bung Binder.
“Yang harus kita minta adalah kesabaran. Sepak bola internasional bukan sepak bola klub. Ini merupakan sebuah proses yang dilakukan selangkah demi selangkah,” ujar Herdman.
Ia menjelaskan, pembentukan budaya tim dan ikatan kuat di antara pemain menjadi tahap awal yang perlu dibangun. Setelah fondasi tersebut terbentuk, barulah pendekatan taktik dapat diterapkan secara lebih optimal.
Baca Juga: Hampir 18 Tahun Bersama, Ifan Hadari Resmi Hengkang dari Govinda
John Herdman Buka Ruang bagi Pemain untuk Bicara Jujur
Salah satu pendekatan yang dilakukan Herdman adalah mendengarkan langsung pengalaman dan masukan para pemain Timnas Indonesia.
Ia mengaku menggunakan survei anonim untuk menggali pandangan pemain mengenai perjalanan tim sebelumnya, termasuk proses kualifikasi Piala Dunia, standar tim, suasana latihan, pendekatan taktik, serta aspek yang perlu diperbaiki.
Melalui cara tersebut, Herdman ingin mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai kondisi tim sekaligus mengetahui hal-hal yang perlu dibenahi.
Baca Juga: John Herdman Bongkar Alasan Memilih Timnas Indonesia dan Target Piala Dunia 2030
Ia juga melakukan perjalanan ke Eropa untuk bertemu pemain Indonesia yang berkarier di luar negeri. Kunjungan itu dilakukan agar dirinya dapat melihat secara langsung intensitas latihan dan standar profesional yang diterapkan klub-klub tempat mereka bermain.
Menurut Herdman, pemahaman terhadap lingkungan latihan pemain menjadi penting karena waktu persiapan bersama tim nasional relatif singkat. Penyesuaian dengan kebiasaan pemain di klub dapat membantu proses adaptasi ketika mereka kembali membela negara.
Selain menemui pemain yang berkarier di luar negeri, Herdman juga berdialog dengan pemain lokal untuk mendengarkan kebutuhan mereka terhadap sosok pelatih kepala.
Baginya, komunikasi harus berjalan dua arah. Pelatih tidak bisa hanya menuntut pemain mengikuti instruksinya tanpa terlebih dahulu memahami kondisi dan sudut pandang mereka.
Baca Juga: Pendakian Gunung Salak via Cimelati ke Puncak Manik: Rute Tektok dan Biaya
“Tidak ada yang akan mendengarkan jika kamu belum terlebih dahulu mendengarkan mereka,” ujar Herdman.
Usia 12–17 Tahun Jadi Perhatian John Herdman
Tak hanya memikirkan kebutuhan tim senior, Herdman juga menyoroti pentingnya pembinaan pemain sejak usia muda. Ia secara khusus menilai rentang usia 12 hingga 17 tahun sebagai periode krusial untuk membentuk kemampuan dan mempersiapkan masa depan pesepak bola.
Menurutnya, pemain muda membutuhkan program pembinaan terarah, pemetaan kemampuan, serta jalur perkembangan yang jelas menuju sepak bola profesional.
Herdman menjelaskan, pemain yang ingin menembus lima liga elite Eropa idealnya mulai membangun karier profesional sekitar usia 17 atau 18 tahun. Pengalaman di level tim nasional juga penting untuk dikembangkan ketika mereka memasuki usia 20 hingga 21 tahun.
Baca Juga: Penggemar Horor Wajib Tahu! Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah Hadir dengan Teror Baru
“Bagi saya, pekerjaan paling penting harus difokuskan pada pemain berusia 12 hingga 17 tahun,” kata Herdman.
Ia turut menyoroti kompetisi kelompok umur, termasuk Piala Dunia U-17, sebagai panggung penting bagi pemain muda untuk menunjukkan kemampuan kepada klub dan pencari bakat internasional.
Menurutnya, klub-klub besar membutuhkan pemain yang telah menunjukkan perkembangan dan memiliki pengalaman bertanding sejak usia muda. Karena itu, pembinaan tidak cukup hanya berorientasi pada hasil pertandingan, tetapi juga harus menyiapkan pemain untuk menapaki jenjang karier berikutnya.
Herdman Ingin Pemain Indonesia Punya Jalan Menuju Liga Elite Eropa
Baca Juga: Bahasa Inggris Wajib 2027, Ini 5 Kebijakan Prioritas Kemendikdasmen
Herdman juga menilai pengalaman berkarier di luar negeri dapat membantu meningkatkan kualitas pemain Indonesia. Kesempatan tampil di kompetisi dengan level persaingan lebih tinggi dinilai dapat mendukung perkembangan kemampuan individu sekaligus memperkuat tim nasional.
Ia mengambil pelajaran dari pengalaman membangun sepak bola Kanada, termasuk upaya menghasilkan lebih banyak pemain berkualitas melalui sistem pengembangan yang terencana.
“Kami membutuhkan lebih banyak pemain kelas atas. Hal itu harus dirancang, bukan sekadar terjadi secara kebetulan,” ujar Herdman.
Menurutnya, pengembangan pemain dapat ditempuh melalui berbagai jalur, mulai dari mempercepat peningkatan kemampuan hingga memberikan kesempatan bermain yang menjadi batu loncatan menuju kompetisi lebih tinggi.
Baca Juga: Review VW Golf Mk5 GTI Bekas: Harga Rp170 Jutaan tapi Ada Risiko yang Wajib Diwaspadai
Herdman juga menyebut kompetisi di negara seperti Jepang dapat menjadi salah satu pilihan bagi pemain untuk meningkatkan pengalaman sebelum mencoba bersaing di liga-liga elite Eropa.
Baginya, perjalanan karier pemain perlu disiapkan sejak dini dengan mempertimbangkan usia, pengalaman profesional, serta peluang tampil di level internasional.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan Timnas Indonesia tidak hanya berkaitan dengan hasil pertandingan dalam waktu dekat. Herdman juga menyoroti pentingnya budaya tim, komunikasi terbuka, dan pembinaan berkelanjutan agar lebih banyak pemain Indonesia mampu bersaing di panggung sepak bola dunia. (Fauzan Kaifah/MG)
Editor : Rani Puspitasari Sinaga