Ayah dan Anak Kompak Raih Emas kickboxing B2 Unleashed di Bogor, Ini Kisah Dibaliknya

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Senin, 2 November 2026 | 10:40 WIB
Edzard Chalaf Shankara bersama ayahnya Dendi Irfansyah berhasil meraih medali emas Kickboxing B2 Unleashed di Nako Arena Tajur, Kota Bogor.
Edzard Chalaf Shankara bersama ayahnya Dendi Irfansyah berhasil meraih medali emas Kickboxing B2 Unleashed di Nako Arena Tajur, Kota Bogor.

RADAR BOGOR – Momen membanggakan tercipta dalam ajang olahraga kickboxing B2 Unleashed di Nako Arena Tajur, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor Sabtu 31 Oktober 2026.

Seorang anak berusia 7 tahun, Edzard Chalaf Shankara, berhasil meraih medali emas bersama ayahnya, Dendi Irfansyah (33), yang baru pertama kali mengikuti pertandingan kickboxing.

Keduanya sama-sama berhasil menjadi juara dan membawa pulang medali emas Kickboxing B2 Unleashed. 

Prestasi tersebut bukan sekadar keberhasilan di atas arena, tetapi juga menghadirkan kisah perjuangan ayah dan anak yang memilih bertanding dalam kompetisi yang sama.

Ibu Edzard, Fatrina, menceritakan bahwa putranya telah menunjukkan keberanian dan semangat juang sejak usia dini.

Sebelum tampil di B2 Unleashed, Edzard juga telah mencatatkan tiga kemenangan beruntun dalam perjalanan kompetisinya.

Baca Juga: Berangkatkan Jemaah Umrah, Bupati Rudy Susmanto Titip Doa untuk Kabupaten Bogor

Kali ini, pencapaiannya terasa semakin istimewa karena ia bertanding bersama sang ayah yang justru baru menjalani debut sebagai atlet kickboxing pada usia 33 tahun.

"Keduanya pulang membawa medali emas. Usianya baru 7 tahun, tetapi semangat juangnya sudah membawanya melewati berbagai tantangan di arena pertandingan. Edzard berasal dari Kota Bekasi dan bersekolah di SDIT Nur Hikmah Kota Bekasi. Edzard berlatih di Triad Fight Camp," ungkap Fatrina Senin 2 November 2026.

Edzard Belajar Keberanian dan Disiplin dari Pertandingan

Menurut Fatrina, pengalaman Edzard mengikuti B2 Unleashed bukan hanya tentang berlatih dan menguasai berbagai teknik kickboxing.

Setiap pertandingan juga menjadi kesempatan bagi putranya untuk mempelajari banyak hal.

Mulai dari keberanian menghadapi lawan, kedisiplinan menjalani latihan, kemampuan mengendalikan rasa gugup, hingga menerima bahwa setiap pertandingan memiliki tantangan tersendiri.

Bagi anak seusianya, keberhasilan meraih medali emas tentu menjadi pencapaian yang membanggakan.

Namun, ada hal lain yang membuat kompetisi kali ini memiliki arti lebih mendalam bagi keluarga mereka.

Untuk pertama kalinya, sang ayah tidak hanya hadir memberikan dukungan dari pinggir arena, tetapi ikut turun langsung sebagai peserta pertandingan.

Fatrina menilai pengalaman tersebut memberikan pesan bahwa prestasi tidak harus menunggu seseorang beranjak dewasa. Begitu pula keberanian yang tidak dibatasi oleh usia.

Di satu sisi, Edzard yang masih berusia 7 tahun sedang belajar membangun mental sebagai petarung.

Sementara itu, Dendi yang berusia 33 tahun justru memulai perjalanan barunya sebagai atlet.

"Mereka mungkin memiliki usia, pengalaman, dan perjalanan yang berbeda. Namun, hari itu mereka berdiri di arena yang sama, membawa semangat yang sama, dan pulang dengan kebanggaan yang sama. Bagi anak saya bukan hanya tentang memenangkan pertandingan, tapi memiliki seorang ayah yang tidak hanya mengajarkan arti perjuangan, tetapi juga bersedia berjuang bersamanya," jelasnya.

Baca Juga: Berangkatkan Jemaah Umrah, Bupati Rudy Susmanto Titip Doa untuk Kabupaten Bogor

Dendi Irfansyah Sengaja Bertanding untuk Ciptakan Kenangan Bersama Anak

Di balik keputusan mengikuti pertandingan, Dendi Irfansyah memiliki alasan yang sederhana sekaligus menyentuh.

Ia ingin menciptakan pengalaman berharga yang kelak bisa dikenang dan diceritakan bersama putranya.

Dendi tidak ingin hanya menjadi ayah yang menyaksikan perjuangan Edzard dari pinggir arena, memberikan semangat, dan mendukung setiap langkahnya.

Lebih dari itu, ia ingin merasakan secara langsung bagaimana rasanya menghadapi pertandingan dan berjuang di arena yang sama dengan anaknya.

"Saya ingin anak saya punya kenangan bahwa suatu hari, ayah bukan hanya datang untuk menonton dan mendukung dari pinggir arena, tetapi juga pernah berdiri dan berjuang di arena yang sama," jelas Dendi.

Ia menuturkan, persiapan menuju pertandingan dilakukan bersama Edzard. Keduanya sama-sama menjalani latihan, menghadapi rasa lelah, serta membangun mental agar siap menghadapi lawan di arena.

Bagi Edzard, kehadiran ayahnya sebagai sesama peserta tentu memberikan pengalaman berbeda.

Sosok yang selama ini memberikan motivasi dan dukungan kini menunjukkan secara langsung bagaimana menghadapi tantangan dan memperjuangkan kemenangan.

Debut Kickboxing di Usia 33 Tahun, Dendi Berhasil Raih Emas

Dendi mengakui bahwa pertandingan di B2 Unleashed merupakan pengalaman pertamanya mengikuti kompetisi kickboxing.

Baca Juga: Polisi di Kota Bogor Dilarang Pakai Vape, Propam Bakal Awasi Ketat

Pada usia 33 tahun, ia belum memiliki pengalaman bertanding sebelumnya yang dapat dijadikan bekal menghadapi lawan.

Karena itu, seluruh tantangan harus dihadapi dengan keberanian dan mengandalkan proses latihan yang telah dijalani.

Baginya, keputusan untuk ikut bertanding bukan semata-mata bertujuan mengukur kemampuan diri atau mengejar medali.

Ada tujuan yang lebih besar, yakni menciptakan kenangan istimewa bersama putranya.

"Saya di usia 33 tahun menjalani pertandingan pertama, tidak ada pengalaman kompetisi sebelumnya yang bisa menjadi pegangan. Semua harus dihadapi dengan keberanian dan hasil dari proses latihan yang telah dijalani. Keputusan untuk ikut bertanding bukan semata-mata tentang membuktikan kemampuan diri atau mengejar medali, tapi saya ingin menciptakan sebuah memori indah bersama anak," paparnya.

Hasilnya pun menjadi cerita yang sulit dilupakan. Ayah dan anak tersebut sama-sama berhasil meraih medali emas dalam ajang kickboxing B2 Unleashed.

Dendi menilai pencapaian Edzard tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah kemenangan maupun medali yang berhasil dikumpulkan.

Di usianya yang masih sangat muda, putranya sedang membangun fondasi karakter yang kelak bermanfaat dalam berbagai aspek kehidupan, tidak hanya di dunia olahraga.

Sementara bagi dirinya sendiri, pengalaman debut tersebut menjadi pembuktian bahwa tidak ada kata terlambat untuk mencoba sesuatu yang baru.

Usia 33 tahun bukan alasan untuk berhenti belajar maupun menghindari tantangan.

Baca Juga: MotoGP Qatar Terancam Sepi, 19 Pebalap Dikabarkan Menolak Balapan karena Faktor Keamanan

Sebaliknya, kesempatan tersebut menjadi bukti bahwa seseorang tetap bisa berkembang, mengasah kemampuan, dan meraih pencapaian baru pada usia berapa pun.

"Saya memberikan pelajaran yang tidak kalah berharga. Bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baru. Usia 33 tahun bukan menjadi alasan untuk mundur, justru menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa seseorang masih bisa belajar, berkembang dan menghadapi tantangan baru," terangnya.

Kisah Edzard dan Dendi di B2 Unleashed pun menjadi lebih dari sekadar cerita kemenangan.

Dua generasi dengan pengalaman berbeda berhasil berdiri di arena yang sama, berjuang bersama, dan pulang membawa medali emas sekaligus kenangan yang akan terus mereka ingat. (***)

Editor : Yosep Awaludin
kickboxing Nako Arena kota bogor