Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Menilik Pasar Mobil Listrik Murah di GIIAS 2025, Siapa yang Untung, Siapa yang Rugi?

Yosep Awaludin • Jumat, 5 September 2025 | 13:20 WIB
Ilustrasi mobil listrik
Ilustrasi mobil listrik

RADAR BOGOR - Pasar mobil listrik (EV) di Indonesia tengah mengalami gejolak besar akibat strategi harga agresif yang dilancarkan oleh BYD.

Fenomena mobil listrik ini, yang memicu perang harga di antara berbagai merek, telah mengubah lanskap pasar dan memengaruhi harga mobil baru serta bekas.

Tren ini memaparkan bahwa sebelum acara GIIAS 2025, harga mobil listrik dari beberapa merek seperti Wuling, Chery, dan Hyundai mengalami kenaikan dari harga 2024.

Namun, situasi berubah drastis saat GIIAS 2025 dimulai, hal itu dipicu oleh peluncuran BYD Atta.

Merek-merek lain merespons dengan memotong harga secara signifikan. Sebagai contoh, Wuling Bingo EV, yang sempat naik harga, tiba-tiba turun menjadi Rp195 juta, sebuah penurunan sebesar 43%.

Hyundai Ioniq 5 juga mengalami penurunan harga hingga 31% menjadi Rp620 juta. Menariknya, di tengah fluktuasi harga tersebut, harga mobil baru BYD relatif stabil.

BYD Seal dan BYD Dolphin kembali ke harga tahun sebelumnya atau tetap konstan, menunjukkan pendekatan harga yang lebih konsisten dibandingkan para pesaingnya.

Perang harga ini tidak hanya berdampak pada mobil baru, tetapi juga pada pasar mobil bekas. Nilai jual kembali (resale value) mobil listrik bekas dari merek yang memangkas harga secara drastis, seperti Wuling dan Hyundai, mengalami penurunan signifikan.

Depresiasi model BYD bekas lebih stabil karena harga mobil barunya tidak dipotong secara besar-besaran. BYD Dolphin, misalnya, hanya mengalami depresiasi sekitar 10-11% selama setahun terakhir.

Situasi ini menguntungkan konsumen baru yang ingin membeli EV, tetapi sangat merugikan bagi mereka yang baru saja membeli kendaraan dari merek lain sebelum perang harga dimulai.

Sebagai respons, Wuling dilaporkan sedang mempertimbangkan skema kompensasi, seperti cashback atau perpanjangan garansi, untuk menenangkan para pemilik yang terpengaruh oleh devaluasi mendadak kendaraan mereka.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa calon pembeli EV di masa depan harus mempertimbangkan nilai jual kembali sebagai faktor penting dalam pengambilan keputusan, karena tidak semua merek mengalami depresiasi dengan laju yang sama. (***)

Penulis : Arif Aammar Isbar / Magang UBSI Depok
Sumber : (YouTube) Leon Hartono

Editor : Yosep Awaludin
#mobil listrik #giias #mobil baru