RADAR BOGOR - Motor legendaris era 2000-an, Suzuki Shogun 125 SP, kembali menjadi sorotan setelah Youtuber otomotif ternama, Den Dimas, mendokumentasikan proses restorasi mesin ringan pada unit pribadinya.
Dikutip dari YouTube Den Dimas, Suzuki Shogun 125 SP ini bukan sekadar kendaraan biasa, melainkan saksi bisu perjalanan hidupnya dari masa SMA, sehingga memiliki nilai sentimental yang sangat tinggi bagi sang pemilik.
Suzuki Shogun 125 SP berwarna merah yang dimiliki oleh Den Dimas ini telah menemaninya sejak ia mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) pertamanya sekitar tahun 2005 atau 2006.
Motor bebek kopling manual ini telah digunakan untuk berbagai kegiatan, mulai dari sunmori sendirian hingga menjadi andalan untuk mobilitas saat berkuliah di Yogyakarta, menjadikannya unit yang sangat bersejarah.
Setelah sekian lama jarang digunakan secara intensif, motor tersebut mulai menunjukkan gejala penuaan yang signifikan.
Masalah utama yang mendesak untuk diperbaiki adalah kondisi mesin yang sudah "ngebul," atau mengeluarkan asap berlebihan dari knalpot, serta kesulitan untuk dihidupkan setelah lama tidak dipanaskan.
Motor kemudian dibawa ke bengkel spesialis untuk penanganan lebih lanjut. Diagnosis awal dari sang mekanik, bersama dengan narator, mencurigai adanya keausan pada komponen vital seperti piston atau seher, yang mungkin membutuhkan tindakan oversize (OS) atau penggantian total.
Selain masalah mekanis, komponen pengapian juga menjadi perhatian serius. Shogun SP milik Den Dimas menggunakan CDI (Capacitor Discharge Ignition) legendaris dari Shogun Kebo tanpa limiter pabrikan.
Dan komponen elektronik ini dicurigai sudah mengalami kerusakan atau penurunan kinerja karena usianya yang sudah sangat tua.
Mengingat usianya yang hampir dua dekade dan gejala ngebul yang parah, ekspektasi awal menunjukkan bahwa motor ini akan membutuhkan perbaikan mesin mayor yang tentunya akan menguras biaya cukup besar.
Narator sempat bertanya kepada mekanik mengenai perkiraan harga sparepart dan total pengerjaan motor tersebut.
Namun, terjadi kejutan besar ketika mesin dibongkar. Alih-alih menemukan baret parah atau keausan yang membutuhkan oversize piston, mekanik menemukan bahwa blok mesin dan piston masih dalam kondisi prima, bahkan tercatat masih menggunakan OS nol atau ukuran standar pabrikan.
Temuan ini sontak mematahkan anggapan awal dan sekaligus menjadi bukti nyata akan kualitas material dan ketangguhan mesin Suzuki era 2000-an.
Narator dan mekanik sama-sama memuji daya tahan Shogun yang ternyata sangat "badak" dan awet, meskipun sudah melintasi puluhan ribu kilometer.
Oleh karena itu, tindakan restorasi yang dilakukan menjadi jauh lebih ringan dari perkiraan semula.
Fokus perbaikan kemudian dialihkan pada pembersihan kerak karbon yang menumpuk di head silinder, penggantian paking mesin, dan penyetelan ulang karburator yang ternyata hanya kotor.
Setelah perbaikan selesai, Suzuki Shogun 125 SP kembali menunjukkan performa optimal dan siap dikendarai.
Narator langsung mencoba motor tersebut untuk riding singkat, dan merasakan kembali sensasi berkendara dengan motor bebek kopling yang sangat khas dan sudah lama tidak ia rasakan.
Meskipun sudah enak digunakan, narator mencatat bahwa ia mungkin perlu fokus pada sektor kopling di masa mendatang.
Perpindahan gigi terasa sedikit lebih kasar dari seharusnya, mengindikasikan bahwa kampas kopling atau mekanisme transmisi mungkin sudah mulai aus dan memerlukan perhatian segera.
Sebagai langkah berikutnya, Den Dimas memiliki rencana menarik untuk memodifikasi Suzuki Shogun 125 SP miliknya agar tampil lebih otentik.
Ia berkeinginan untuk melakukan modifikasi dengan konsep "period-correct" atau "period-forex", yaitu menggunakan part dan aksesori yang memang populer di kalangan anak motor pada rentang tahun 2004 hingga 2005.
Untuk merealisasikan rencana tersebut, Den Dimas secara terbuka meminta masukan dari para penonton, khususnya komunitas pemilik Shogun atau motor bebek lawas.
Ia berharap mendapatkan saran mengenai shockbreaker, kaliper, velg, atau knalpot yang sesuai dengan tren modifikasi pada masa motor tersebut pertama kali populer. (Arif/BSI)
Editor : Yosep Awaludin