RADAR BOGOR - Kenaikan harga Pertamax yang berlaku mulai 10 Juni 2026, membuat banyak pemilik kendaraan mulai menghitung ulang biaya operasional harian mereka.
Harga bahan bakar dengan Research Octane Number (RON) 92 tersebut, kini mencapai Rp16.950 per liter, naik signifikan dibandingkan harga sebelumnya.
Dengan selisih harga yang cukup jauh dibandingkan Pertalite yang masih dibanderol Rp10.000 per liter, tidak sedikit pengguna kendaraan yang mulai mempertimbangkan beralih ke bahan bakar dengan oktan lebih rendah untuk menghemat pengeluaran.
Namun, bagi pemilik mobil Low Cost Green Car (LCGC), keputusan tersebut sebaiknya dipertimbangkan secara matang.
Pasalnya, sejumlah regulasi dan rekomendasi pabrikan menyarankan penggunaan BBM dengan oktan minimal RON 92 agar performa mesin tetap optimal.
Aturan LCGC Sejak Awal Menganjurkan BBM Minimal RON 92
Ketentuan penggunaan bahan bakar untuk kendaraan LCGC sebenarnya telah diatur pemerintah sejak lama.
Dalam Peraturan Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Nomor 29/IUBIT/PER/9/2014 disebutkan, kendaraan bermotor dengan mesin bensin dalam kategori LCGC harus menggunakan bahan bakar dengan angka oktan minimal 92.
Aturan tersebut kemudian diperkuat melalui Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 36 Tahun 2021 tentang Kendaraan Bermotor Roda Empat Emisi Karbon Rendah.
Dalam regulasi tersebut dijelaskan, setiap kendaraan LCGC wajib mencantumkan informasi penggunaan bahan bakar dengan tingkat oktan paling rendah RON 92 pada bagian dalam tutup tangki bahan bakar serta pada sudut bawah kaca belakang kendaraan.
Beberapa model yang masuk dalam kategori LCGC antara lain Toyota Agya, Daihatsu Ayla, Toyota Calya, Daihatsu Sigra, serta Honda Brio Satya.
Bukan Kewajiban, Tetapi Demi Menjaga Kesehatan Mesin
Meski aturan tersebut lebih bersifat rekomendasi dan tidak mewajibkan pengguna memakai BBM RON 92, para pemilik kendaraan tetap disarankan mengikuti spesifikasi yang telah ditetapkan oleh pabrikan.
Perbedaan harga yang mencapai Rp6.950 per liter antara Pertamax dan Pertalite memang cukup menggiurkan.
Namun, penggunaan bahan bakar dengan oktan lebih rendah dari rekomendasi berpotensi memengaruhi kinerja mesin dalam jangka panjang.
"Saya masih pakai pertamax, daripada mobil nanti bermasalah," ucap Sheila (38) salah satu pemilik Agya, Rabu 10 Juni 2026.
Mesin yang dirancang untuk menggunakan RON 92, membutuhkan kualitas pembakaran yang sesuai agar proses kerja di ruang bakar berlangsung optimal.
Ketika menggunakan bahan bakar dengan oktan lebih rendah, risiko terjadinya knocking atau pembakaran tidak sempurna dapat meningkat.
Buku Manual Toyota Agya Ingatkan Risiko Kerusakan Mesin
Peringatan serupa juga tercantum dalam buku panduan resmi Toyota Agya.
Dalam manual kendaraan tersebut, PT Toyota Astra Motor selaku agen pemegang merek Toyota di Indonesia merekomendasikan penggunaan bahan bakar dengan angka oktan 92 atau lebih tinggi.
Pabrikan menjelaskan bahwa penggunaan bahan bakar yang sesuai spesifikasi akan membantu menjaga performa kendaraan tetap maksimal.
Sebaliknya, penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai rekomendasi dapat menimbulkan gangguan pada sistem pembakaran dan berpotensi menyebabkan kerusakan mesin dalam jangka panjang.
Toyota juga menegaskan bahwa penggunaan bahan bakar yang tidak tepat dapat berdampak negatif terhadap usia pakai komponen mesin.
Hemat Sesaat Bisa Berujung Biaya Perbaikan Lebih Besar
Di tengah kenaikan harga BBM, memilih bahan bakar yang lebih murah memang terlihat sebagai solusi cepat untuk mengurangi pengeluaran.
Namun bagi pengguna mobil LCGC, penghematan sesaat tersebut perlu dibandingkan dengan potensi biaya perawatan dan perbaikan mesin yang bisa muncul di kemudian hari.
Karena itu, pemilik kendaraan seperti Toyota Agya, Daihatsu Ayla, Toyota Calya, Daihatsu Sigra, dan Honda Brio Satya disarankan tetap menggunakan BBM dengan spesifikasi minimal RON 92 sesuai rekomendasi pemerintah dan pabrikan agar performa kendaraan tetap terjaga serta usia mesin lebih panjang. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti