RADAR BOGOR – Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tak lagi sekadar tren teknologi.
Bagi Kyle Pisani, pemilik sekaligus mitra Drive Point Auto Group di Ohio, Amerika Serikat, AI telah menjadi senjata utama untuk meningkatkan penjualan, memperbaiki operasional, hingga mendongkrak keuntungan bisnis dealer mobil.
Dilansir dari WardsAuto, Pisani mengaku hampir seluruh aktivitas bisnis di jaringan dealer miliknya kini melibatkan teknologi AI.
Meski belum mampu menjawab seluruh tantangan industri otomotif, ia menilai penerapan AI telah menciptakan efisiensi sekaligus meningkatkan profitabilitas perusahaan secara signifikan.
"Kami memanfaatkan AI di hampir setiap lini bisnis," ujar Pisani dalam wawancara melalui panggilan Zoom dengan WardsAuto.
Drive Point Auto Group saat ini mengoperasikan tujuh dealer yang tersebar di Ohio dan menaungi sembilan merek otomotif, yakni Kia, Hyundai, Toyota, Chrysler, Dodge, Jeep, Ram, Chevrolet, dan GMC.
Baca Juga: Real Madrid Kembali Incar Pemain Chelsea, Kali Ini Targetkan Enzo Fernandez
Pisani menjelaskan, setidaknya ada empat fungsi utama AI yang terbukti memberikan dampak nyata terhadap perkembangan bisnis dealer yang dikelolanya.
1. Memanfaatkan Data untuk Meningkatkan Penjualan
Teknologi AI membantu Drive Point mengintegrasikan berbagai sumber data bisnis ke dalam satu laporan yang komprehensif.
Mulai dari riwayat transaksi penjualan, program insentif yang sedang berjalan, hingga kondisi persediaan kendaraan di dealer.
Laporan terpadu tersebut menjadi acuan bagi manajemen dalam menentukan langkah strategis secara lebih akurat.
Sementara itu, tim penjualan dapat dengan cepat mengidentifikasi peluang pasar baru sehingga strategi pemasaran yang dijalankan tetap sejalan dengan ketersediaan stok dan program promosi yang berlaku.
2. Mengungkap Fakta Operasional yang Terlewat
AI juga memberikan wawasan yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh pihak manajemen.
Pisani mengungkapkan bahwa sistem kecerdasan buatan berhasil menemukan praktik penerimaan pembayaran atas pesanan perbaikan sebelum proses administrasinya benar-benar ditutup.
"Itu bukan pertanyaan yang pernah terlintas di benak saya. Tanpa bantuan AI, kemungkinan besar praktik seperti itu tidak akan pernah kami temukan," ungkapnya.
Temuan tersebut menjadi dasar evaluasi untuk memperbaiki proses operasional agar berjalan lebih efektif dan transparan.
3. Mengevaluasi Panggilan Manajemen untuk Pelatihan Tim
Bagi Pisani, setiap percakapan dalam proses manajemen menyimpan peluang pembelajaran yang berharga.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Bansos Stimulus Non Tunai Khusus KPM Desil 4 ke Bawah, Cek Selengkapnya
Karena itu, seluruh sesi panggilan direkam dan dianalisis sebagai bahan pengembangan sumber daya manusia.
Tujuannya bukan untuk melakukan pengawasan berlebihan, melainkan membantu para manajer memberikan arahan, pembinaan, dan pelatihan yang lebih tepat sasaran kepada anggota tim.
4. Menarik KPI dari Berbagai Sistem Dealer
Drive Point juga menggunakan AI untuk mengumpulkan indikator kinerja utama atau Key Performance Indicator (KPI) dari berbagai platform bisnis.
Teknologi tersebut mengintegrasikan data dari sistem manajemen dealer, customer relationship management (CRM), hingga platform solusi ritel digital.
Fokus utamanya adalah mengidentifikasi area strategis yang berpotensi meningkatkan keuntungan sekaligus memperbaiki pengalaman pelanggan.
Tantangan AI: Peralihan dari Mesin ke Manusia
Di balik optimisme terhadap AI, Pisani mengakui masih ada tantangan besar yang belum terselesaikan, yakni transisi interaksi pelanggan dari sistem otomatis menuju pelayanan manusia.
Menurutnya, perpindahan pengalaman tersebut sering kali terasa janggal bagi konsumen.
"Kesenjangan itu cukup menyulitkan. Saya justru lebih nyaman jika seluruh proses ditangani AI sepenuhnya atau sepenuhnya dilakukan manusia," katanya.
AI Bantu Tambah Laba Hingga Rp1,3 Miliar per Bulan
Pada layanan purna jual, Pisani memanfaatkan solusi berbasis AI yang mampu mendeteksi peluang penjualan produk pembiayaan dan asuransi yang belum tergarap.
Sistem tersebut kemudian secara otomatis menghubungi pelanggan, menawarkan produk terkait, hingga memproses keseluruhan transaksi.
Baca Juga: Jalan-Jalan ke Pasar Senen, Ini 7 Destinasi Kuliner, Museum, dan Thrifting yang Wajib Disinggahi
Hasilnya cukup mengejutkan. Menurut Pisani, implementasi teknologi tersebut mampu memberikan tambahan laba bersih sekitar 80.000 dolar AS per bulan atau setara lebih dari Rp1,3 miliar, jika dihitung dari seluruh jaringan dealer yang dimilikinya.
Vendor AI Diminta Lebih Memahami Dunia Dealer
Meski yakin masa depan industri otomotif akan semakin bergantung pada AI, Pisani mengingatkan bahwa investasi teknologi ini membutuhkan biaya yang besar.
Karena itu, dealer harus melakukan kajian mendalam sebelum memilih vendor penyedia layanan AI.
Diskusi secara detail dan proses uji kelayakan dinilai penting agar teknologi yang dipilih benar-benar sesuai kebutuhan bisnis.
Pisani juga menilai perusahaan pengembang AI perlu memahami karakter industri dealer secara lebih mendalam.
Sebagai contoh, ketika kendaraan yang dicari pelanggan tidak tersedia, sistem AI seharusnya mampu menawarkan alternatif yang tetap relevan berdasarkan kebutuhan konsumen, termasuk memahami fitur-fitur kendaraan yang menjadi prioritas pembeli.
Masa Depan AI Ada di Tangan Dealer
Pisani melihat perkembangan AI di industri ritel otomotif telah mengubah peta hubungan antara penyedia teknologi dan pelaku usaha.
Baca Juga: Sambal Rampai Pakansari Bogor, Punya Ayam Berbumbu Meresap yang Bikin Nagih
Menurutnya, kini dealer memiliki kendali lebih besar dalam menentukan bagaimana teknologi tersebut digunakan.
Produk AI dituntut semakin fleksibel dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan nyata di lapangan, bukan sebaliknya.
"Ke depan, dealerlah yang menentukan seperti apa AI bekerja untuk bisnis mereka. Penyedia teknologi harus mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan operasional yang sesungguhnya," tutup Pisani. (Irsyad/Unpak)
Editor : Yosep Awaludin