RADAR BOGOR – Dunia otomotif kembali dihebohkan dengan kemunculan salah satu mobil sport Jepang paling langka yang hingga kini masih menjadi incaran para kolektor dunia.
Honda NSX-R generasi pertama keluaran 1995, yang diproduksi hanya 483 unit, kembali mencuri perhatian setelah diulas dan dikendarai langsung oleh jurnalis otomotif senior Fitra Eri.
Momen istimewa supercar legendaris tersebut dibagikan melalui video di kanal YouTube milik Fitra Eri.
Dalam kesempatan itu, Fitra mendapat akses eksklusif dari JDM Garage Indonesia untuk mengulas sekaligus melakukan test drive Honda NSX-R (NA1), salah satu model paling ikonik dalam sejarah Honda Type R.
Honda NSX generasi pertama lahir pada penghujung era 1980-an dengan ambisi besar untuk menantang dominasi supercar Eropa, terutama Ferrari.
Meski mengusung performa tinggi, mobil bermesin tengah (mid-engine) tersebut tetap menawarkan keandalan serta kemudahan dikendarai yang menjadi ciri khas pabrikan Jepang.
Baca Juga: Bakso Pajero Hadir di Bogor, Sajikan Lebih dari 70 Menu Bakso Viral dengan Porsi Jumbo
Proyek pengembangan NSX dipimpin oleh desainer Shigeru Uehara dan turut mendapat masukan dari legenda Formula 1, Ayrton Senna.
Hasilnya adalah sebuah mobil sport dengan desain yang tetap terlihat modern meski telah berusia lebih dari tiga dekade.
Berbeda dari versi standarnya, Honda NSX-R (NA1) dirancang sebagai varian yang lebih fokus untuk kebutuhan performa di lintasan balap.
Sejumlah perubahan signifikan dilakukan demi meningkatkan karakter berkendaranya.
Diet Bobot Hingga 120 Kilogram
Honda melakukan pengurangan bobot secara besar-besaran hingga sekitar 120 kilogram.
Berbagai komponen peredam suara dihilangkan, begitu pula fitur-fitur kenyamanan seperti jok elektrik.
Sebagai gantinya, mobil ini dibekali sepasang bucket seat Recaro berbahan karbon kevlar yang dibungkus material Alcantara dengan jahitan merah, sehingga bobot lebih ringan sekaligus memberikan posisi duduk yang optimal saat berkendara agresif.
Mesin V6 VTEC Disetel Lebih Agresif
Di balik kap mesinnya tertanam mesin naturally aspirated (NA) 3.000 cc V6 DOHC VTEC.
Walaupun secara resmi tercatat memiliki tenaga 280 PS akibat regulasi pembatasan tenaga di Jepang pada masa itu, Honda tetap melakukan penyempurnaan pada sektor mekanisnya.
Seluruh komponen internal mesin diseimbangkan ulang, batas putaran mesin dinaikkan dari 7.300 rpm menjadi 8.000 rpm, sementara rasio final drive pada transmisi manual lima percepatan dibuat lebih pendek agar menghasilkan akselerasi yang lebih responsif.
Baca Juga: Hotman Paris Geram, Minta Komisioner Komnas Perempuan Dipecat Usai Tanggapi Kasus Taufik Hidayat
Suspensi Direvisi Demi Kendali Lebih Stabil
Karakter suspensi juga mengalami perubahan total dibandingkan NSX biasa. Apabila versi standar menggunakan setelan belakang yang lebih keras sehingga mobil terasa lincah namun cenderung oversteer pada kecepatan tinggi, NSX-R justru mengadopsi setelan depan yang lebih kaku.
Konfigurasi tersebut membuat mobil memiliki pengendalian lebih stabil, presisi, dan mudah dikontrol ketika melaju di lintasan balap.
Masih Menggunakan Lampu Pop-Up Ikonik
Sebagai model pra-facelift, Honda NSX-R tahun 1995 masih mempertahankan lampu depan model pop-up yang menjadi ciri khasnya.
Unit yang diuji juga tampil dengan warna Championship White berpadu aksen two-tone asli pabrikan.
Produksinya yang hanya mencapai 483 unit serta pemasaran khusus untuk pasar domestik Jepang membuat mobil ini menjadi salah satu koleksi paling langka dalam sejarah Honda.
Saat menjajal langsung mobil tersebut di jalan raya, Fitra Eri mengaku terkesan dengan sensasi berkendaranya.
Menurutnya, berbeda dengan mobil sport modern yang banyak mengandalkan turbocharger berukuran besar, mesin V6 VTEC milik NSX-R menghadirkan tenaga yang mengalir secara halus, konsisten, dan semakin bertenaga ketika putaran mesin mendekati 8.000 rpm.
Ia juga menilai visibilitas kabin yang luas, bobot kendaraan yang ringan, serta karakter kemudi yang presisi dan mudah diprediksi membuat pengalaman mengendarai Honda NSX-R terasa sangat alami dan memberikan kenikmatan berkendara yang kini semakin sulit ditemukan pada mobil sport modern.(Dimas/Unpak)
Editor : Yosep Awaludin