RADAR BOGOR – Harga mobil mewah bekas yang terus mengalami penurunan membuat banyak konsumen mulai melirik kendaraan premium keluaran awal 2000-an.
Dengan modal sekitar Rp50 juta hingga Rp100 juta, sejumlah model yang dahulu dibanderol ratusan juta bahkan miliaran rupiah kini sudah bisa dibawa pulang.
Namun, di balik harga belinya yang semakin terjangkau, terdapat biaya kepemilikan yang patut menjadi pertimbangan.
Fenomena depresiasi harga membuat mobil premium seperti Toyota Alphard, Toyota Camry, hingga BMW X5 kini jauh lebih mudah dijangkau dibanding saat pertama kali dipasarkan.
Meski menawarkan kenyamanan, kemewahan, dan citra prestisius, biaya operasional kendaraan tersebut dinilai masih mencerminkan statusnya sebagai mobil premium.
Berdasarkan pergerakan harga di pasar mobil bekas, Toyota Alphard generasi pertama produksi 2003–2005 saat ini dipasarkan di kisaran Rp70 juta hingga Rp80 juta.
Baca Juga: Cara Ikut Pemutakhiran Data Bansos dan Roadmap Digitalisasi Bansos 2027
Sementara Toyota Camry produksi 2002–2005 berada pada rentang Rp55 juta hingga Rp60 juta, sedangkan BMW X5 keluaran 2003–2005 ditawarkan sekitar Rp80 juta hingga Rp100 juta.
Meski harga belinya semakin murah, pengeluaran setelah mobil dimiliki justru menjadi perhatian utama para pengamat otomotif.
Biaya Perawatan Bisa Menyamai Harga Mobil
Dalam ulasan yang dipublikasikan kanal otomotif @fuseboxID, salah satu komponen biaya terbesar berasal dari perawatan dan penggantian suku cadang, terutama pada bagian kaki-kaki kendaraan.
Sebagai contoh, untuk Toyota Alphard tahun 2004, biaya penggantian seluruh komponen kaki-kaki menggunakan suku cadang asli (Original Equipment Manufacturer/OEM) diperkirakan dapat mencapai hampir setengah dari harga beli mobil bekas tersebut.
Bahkan untuk komponen yang tergolong rutin diganti, seperti kampas rem, harganya masih berada di atas mobil keluarga pada umumnya.
Kampas rem aftermarket mobil premium dapat dibanderol mulai Rp375 ribu hingga Rp1 juta, sedangkan mobil harian biasa umumnya berada di kisaran Rp200 ribuan.
Baca Juga: Mengenang Sam Neill, Aktor Legendaris yang Tutup Usia, Ini 5 Film Ikonik yang Dibintanginya
Ongkos Servis Lebih Mahal
Selain harga suku cadang, biaya jasa perbaikan juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.
Mobil premium umumnya memiliki konstruksi mesin yang lebih kompleks dengan banyak pelindung mesin, sensor, serta komponen tambahan.
Akibatnya, proses pembongkaran membutuhkan waktu lebih lama sehingga tarif jasa bengkel pun cenderung lebih tinggi dibanding mobil konvensional.
Konsumsi BBM Lebih Boros
Pengeluaran rutin lainnya berasal dari konsumsi bahan bakar. Mobil mewah dengan mesin berkapasitas besar, seperti Toyota Alphard 2.4 liter maupun 3.0 liter V6, rata-rata hanya mampu menempuh sekitar 5 hingga 8 kilometer per liter untuk penggunaan di dalam kota.
Tak hanya itu, spesifikasi mesin kendaraan premium juga mengharuskan penggunaan bahan bakar beroktan tinggi, minimal RON 92 atau setara Pertamax, sehingga biaya operasional harian menjadi lebih besar.
Pajak Tahunan Tetap Tinggi
Walaupun usia kendaraan sudah lebih dari dua dekade, besaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) mobil mewah masih mengacu pada klasifikasi awal saat kendaraan dipasarkan.
Baca Juga: Mau Beli Hyundai Palisade? Kenali Dulu Kendala yang Sering Muncul pada SUV Premium Ini
Sebagai ilustrasi, Toyota Alphard tahun 2004 masih dikenakan pajak tahunan sekitar Rp3 juta hingga Rp4,6 juta.
Nominal tersebut bahkan sebanding dengan pajak mobil keluarga yang usianya jauh lebih muda, seperti Toyota Innova Reborn produksi 2018.
Fitur Mulai Tertinggal dari Mobil Modern
Dari sisi teknologi, mobil premium keluaran awal 2000-an juga mulai tertinggal dibanding kendaraan keluaran terbaru.
Fitur keselamatan aktif, sistem hiburan, hingga teknologi pendukung berkendara yang kini tersedia pada MPV modern maupun mobil LCGC terbaru sering kali lebih lengkap dan praktis dibanding mobil mewah berusia lebih dari 20 tahun.
Selain itu, desain eksterior yang sudah berumur membuat kesan mewah yang dulu menjadi daya tarik utama tidak lagi terasa sekuat saat mobil tersebut pertama kali diluncurkan.
"Mobil mewah bekas tetap menarik bagi kolektor atau pecinta otomotif yang memiliki dana khusus untuk perawatan. Namun, jika dijadikan kendaraan harian tanpa persiapan anggaran servis yang memadai, biaya kepemilikannya berpotensi membebani kondisi finansial pemilik," demikian kesimpulan dalam ulasan edukatif kanal otomotif @fuseboxID.
Baca Juga: Tiga Mandat Presiden untuk Kemensos: Konsolidasi DTSEN, Bansos Tepat Sasaran, dan Sekolah Rakyat
Bagi calon pembeli, harga beli yang murah sebaiknya tidak menjadi satu-satunya pertimbangan.
Memahami total cost of ownership, mulai dari biaya servis, suku cadang, konsumsi bahan bakar hingga pajak tahunan, menjadi langkah penting agar keputusan membeli mobil mewah bekas tetap sesuai dengan kemampuan finansial dan kebutuhan penggunaan sehari-hari. (Rana/Tazkia)