Jangan Asal Servis! 4 Kebiasaan Merawat Motor Ini Justru Bisa Bikin Mesin Rusak

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 14:00 WIB
Ilustrasi kerusakan terhadap part dari kebiasaan yang dianggap penting pada motor menjadi rusak (Foto: kanal Youtube fuseboxmotoID)
Ilustrasi kerusakan terhadap part dari kebiasaan yang dianggap penting pada motor menjadi rusak (Foto: kanal Youtube fuseboxmotoID)

RADAR BOGOR – Merawat sepeda motor secara rutin memang menjadi salah satu cara untuk menjaga performa kendaraan tetap optimal.

Namun, tidak semua kebiasaan yang dilakukan saat servis atau setelah mencuci motor ternyata baik bagi mesin.

Banyak informasi perawatan kendaraan beredar di media sosial dan kerap dianggap sebagai tips wajib oleh pemilik motor.

Padahal, sejumlah metode yang terlihat sederhana justru berpotensi menimbulkan masalah pada komponen mesin jika dilakukan secara tidak tepat.

Alih-alih membuat kendaraan lebih awet, kebiasaan tersebut justru dapat mempercepat kerusakan komponen dan membuat pemilik harus mengeluarkan biaya tambahan untuk perbaikan.

Berdasarkan edukasi otomotif yang disampaikan melalui kanal YouTube FUSE BOX MOTO, terdapat sejumlah kebiasaan perawatan sepeda motor yang sebaiknya dihindari. Berikut di antaranya:

Baca Juga: Data Desil Salah? Begini Cara Ajukan Perbaikan Agar Bansos PKH-BPNT Tepat Sasaran

1. Semprot Cleaner ke Throttle Body Saat Mesin Menyala

Throttle body (TB) memang perlu mendapatkan perawatan secara berkala. Pemeriksaan dan pembersihan komponen ini umumnya dilakukan setiap 10.000 hingga 15.000 kilometer dengan proses pembongkaran agar bagian dalamnya dapat dibersihkan secara menyeluruh.

Namun, ada metode yang kerap dilakukan sebagian bengkel dengan menyalakan mesin kemudian menyemprotkan cairan injector atau throttle body cleaner langsung ke lubang throttle body.

Cara tersebut memang dapat membuat permukaan terlihat lebih bersih dalam waktu singkat.

Akan tetapi, kotoran yang terlepas tidak selalu keluar dari sistem dan dapat terdorong menuju ruang pembakaran.

Jika kebiasaan tersebut dilakukan berulang, residu kotoran berpotensi menumpuk di ruang bakar.

Kondisi itu dapat memicu knocking atau mesin ngelitik, bahkan berisiko menyebabkan benturan pada piston atau seher.

Dalam kondisi yang sudah parah, kerusakan tersebut bahkan dapat membuat motor membutuhkan proses turun mesin.

2. Geber Motor Setelah Dicuci

Kebiasaan lain yang sering terlihat adalah menggeber sepeda motor setelah selesai dicuci.

Putaran mesin sengaja dinaikkan hingga mendekati limiter dengan alasan untuk membantu menghilangkan sisa air.

Padahal, mesin sepeda motor pada dasarnya telah dirancang agar dapat menghadapi paparan air dalam kondisi penggunaan normal.

Baca Juga: Data Desil Salah? Begini Cara Ajukan Perbaikan Agar Bansos PKH-BPNT Tepat Sasaran

Masalahnya bukan pada air yang menempel setelah motor dicuci, melainkan perubahan suhu mesin dan beban kerja yang terjadi secara tiba-tiba.

Setelah dicuci, temperatur mesin dapat turun cukup drastis. Ketika kondisi tersebut langsung diikuti dengan putaran mesin tinggi, komponen internal dapat mengalami tekanan akibat perubahan temperatur secara cepat.

Kebiasaan tersebut, terutama apabila dilakukan pada sepeda motor matik, berpotensi mempercepat keausan atau kerusakan komponen internal mesin.

Karena itu, setelah mencuci motor sebaiknya biarkan mesin kembali bekerja secara normal tanpa perlu langsung digeber pada putaran tinggi.

3. Pasang Busi Racing di Motor Harian Standar

Penurunan performa motor terkadang membuat pemilik kendaraan mencari cara instan untuk meningkatkan tenaga. Salah satunya dengan mengganti busi standar menggunakan busi racing.

Namun, penggunaan busi racing tidak otomatis membuat tenaga motor harian meningkat.

Busi untuk kebutuhan balap dirancang menyesuaikan karakter mesin dengan kompresi tinggi dan memiliki karakteristik rentang panas yang lebih dingin atau cold spark plug.

Jika digunakan pada motor harian dengan spesifikasi mesin standar, karakter busi tersebut belum tentu sesuai dengan kebutuhan mesin.

Akibatnya, proses pembakaran dapat menjadi kurang optimal. Gejalanya dapat berupa akselerasi yang tidak konsisten, sementara bagian ujung busi lebih cepat menghitam dan masa pakainya menjadi lebih pendek.

Karena itu, pemilik motor sebaiknya memilih busi berdasarkan spesifikasi mesin dan rekomendasi yang sesuai, bukan hanya karena label racing.

Baca Juga: Menembus Ombak 4 Meter, Kisah Mantri BRI Layani Nasabah di Pulau Kaledupa

4. Semprot Angin Kompresor ke Lubang Oli

Saat melakukan penggantian oli, sebagian mekanik terkadang menggunakan kompresor untuk meniupkan udara melalui lubang pengisian oli.

Tujuannya agar sisa oli lama yang berada di dalam mesin dapat keluar lebih cepat. Namun, metode tersebut ternyata memiliki risiko yang perlu diperhatikan.

Udara yang keluar dari kompresor dapat mengandung uap air. Apabila udara tersebut masuk ke ruang mesin, kualitas serta kemampuan pelumasan oli baru berpotensi terganggu.

Selain itu, tekanan udara yang terlalu kuat juga dapat membuat partikel kotoran dari area filter oli kembali masuk ke jalur sirkulasi mesin.

Cara yang lebih aman untuk mengganti oli adalah melakukannya ketika mesin dalam kondisi dingin, misalnya pada pagi hari.

Dalam kondisi tersebut, oli telah mengalir dan mengendap secara alami di bagian bawah mesin sehingga dapat dikeluarkan melalui lubang pembuangan.

Hindari Kebiasaan Perawatan yang Keliru

Merawat motor tidak selalu berarti melakukan lebih banyak tindakan. Justru, pemilik kendaraan perlu memastikan setiap metode perawatan dilakukan sesuai prosedur dan karakter mesin.

Baca Juga: Kirab Merah Putih Kota Bogor Meriah, Lima Bendera Raksasa Terbentang 500 Meter

Kebiasaan seperti menyemprot cleaner langsung ke throttle body ketika mesin menyala, menggeber motor setelah dicuci, menggunakan busi racing pada mesin standar, hingga meniup lubang oli dengan kompresor sebaiknya tidak dilakukan sembarangan.

Dengan menghindari kebiasaan perawatan yang kurang tepat dan mengikuti rekomendasi sesuai spesifikasi kendaraan, pemilik motor dapat membantu menjaga performa sekaligus memperpanjang usia komponen mesin.(Irsyad/Unpak)

Editor : Yosep Awaludin
servis Mesin motor