RADAR BOGOR – Bukan sekadar kendaraan lawas, Guizzo 150 keluaran 1960 milik Melki menyimpan kisah unik yang membuatnya berbeda dari skuter klasik lainnya.
Guizzo 150, skuter langka asal Italia yang dijuluki “Bangkot” itu pernah ditukar dengan tiga unit Vespa sebelum akhirnya mendapat sentuhan modifikasi dan diubah menjadi kendaraan listrik.
Di balik tampilannya yang kusam dan penuh karat, Guizzo 150 tersebut ternyata memiliki nilai sejarah yang tinggi.
Melki bahkan rela melepas tiga Vespa miliknya demi mendapatkan skuter yang usianya kini telah lebih dari setengah abad tersebut.
Tukar Tiga Vespa untuk Guizzo 150
Melki menceritakan, keputusan mendapatkan Guizzo 150 dilakukan setelah melihat keunikan kendaraan tersebut.
Kondisinya yang terlihat tua dan berkarat bahkan sempat membuat sang ibunda mengira skuter itu hanyalah kendaraan rongsokan dengan harga sekitar Rp50 ribu.
Baca Juga: Update Bansos Beras 21 Agustus 2026: Bantuan Tambahan Pangan Kembali Disalurkan
Namun, anggapan tersebut berbeda jauh dengan nilai sebenarnya. Guizzo 150 merupakan skuter klasik produksi Italia yang memiliki karakter serta sejarah tersendiri, sehingga membuat Melki tertarik untuk mempertahankannya.
Bagi Melki, kondisi fisik yang sudah tidak prima bukan alasan untuk membiarkan kendaraan tersebut berakhir sebagai barang bekas. Justru dari kondisi itulah proses perawatan dan pengembangan Guizzo 150 dimulai.
Guizzo 150 Dikonversi Menjadi Kendaraan Listrik
Seiring waktu, Melki menggandeng Elders Garage untuk melakukan konversi pada sistem penggerak Guizzo 150.
Mesin konvensionalnya kemudian digantikan dengan sistem tenaga listrik agar skuter lawas tersebut dapat kembali digunakan dengan teknologi yang lebih modern.
Setelah mendapatkan sistem penggerak listrik, “Bangkot” mampu melaju dengan jarak tempuh sekitar 60 kilometer ketika baterainya berada dalam kondisi penuh.
Meski kini sudah menggunakan tenaga listrik, Melki tidak membuang mesin bensin bawaan Guizzo 150. Mesin asli tersebut masih disimpan dan direncanakan untuk kembali dihidupkan.
Langkah tersebut dilakukan untuk tetap menjaga unsur historis kendaraan sekaligus membuka kemungkinan agar Guizzo 150 dapat kembali merasakan performa mesin aslinya.
STNK dan BPKB Kembali Aktif Setelah Sejak 1973
Keunikan Guizzo 150 milik Melki tidak berhenti pada usia dan proses konversinya. Kelengkapan dokumen kendaraan tersebut juga menjadi salah satu hal yang membuatnya semakin istimewa.
Melki baru saja memperoleh kembali STNK dan BPKB resmi kendaraan tersebut setelah status pajaknya tidak aktif sejak 1973.
Berdasarkan dokumen yang dimiliki, kendaraan tersebut tercatat sebagai Guizzo 150 tahun 1960 dengan asal kendaraan dari Solo, Jawa Tengah.
Baca Juga: Update Pencairan BPNT Tahap 3: Bansos Rp600 Ribu Cair Hari Ini, Cek Nama Penerima
Dengan kondisi tersebut, Guizzo 150 milik Melki disebut-sebut sebagai salah satu unit Guizzo di Indonesia yang masih memiliki dokumen kendaraan lengkap dan nomor pajak aktif.
Bahkan, ada kemungkinan kendaraan tersebut menjadi satu-satunya unit Guizzo di Indonesia dengan kelengkapan surat seperti itu.
Punya Mimpi Touring ke Solo
Melki juga tidak ingin “Bangkot” hanya menjadi koleksi yang tersimpan di garasi. Ia memiliki rencana untuk kembali merestorasi mesin bensin asli Guizzo 150.
Rencana tersebut bukan hanya bertujuan mengembalikan kendaraan ke kondisi awal, tetapi juga membuka peluang bagi Melki untuk menggunakannya dalam perjalanan jarak jauh.
Salah satu tujuan yang ingin dicapai adalah melakukan touring menuju Solo, Jawa Tengah, yang tercatat sebagai daerah asal kendaraan tersebut.
Dengan usia yang sudah mencapai lebih dari 60 tahun, perjalanan Guizzo 150 milik Melki menjadi cerita tersendiri.
Dari kendaraan yang sempat dianggap sebagai rongsokan, ditukar dengan tiga Vespa, hingga dikonversi menjadi skuter listrik dan kembali memiliki dokumen aktif.
Baca Juga: Hujan Lokal Mengintai Jawa Barat Sore Ini, Simak Wilayahnya
Kisah “Bangkot” sekaligus menunjukkan bahwa kendaraan klasik tidak selalu harus berakhir sebagai barang tua yang ditinggalkan.
Melalui perawatan, restorasi, dan pengembangan yang tepat, kendaraan berusia puluhan tahun masih dapat digunakan sekaligus mempertahankan nilai sejarahnya. (Dimas/Unpak)
Editor : Yosep Awaludin