RADAR BOGOR – Kerusakan transmisi pada mobil matic menjadi salah satu masalah yang paling ditakuti pemilik kendaraan karena biaya perbaikannya tidak murah.
Dalam kondisi tertentu, ongkos perbaikan transmisi otomatis mobil matic bahkan dapat mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah.
Namun, kerusakan tersebut tidak selalu berkaitan dengan kualitas kendaraan. Cara pengemudi memperlakukan mobil matic setiap hari juga dapat memengaruhi usia dan kondisi transmisi.
Sejumlah kebiasaan yang terlihat sederhana justru berpotensi mempercepat keausan komponen apabila dilakukan terus-menerus.
Mengutip informasi dari kanal YouTube Auto Taktik ID, terdapat sejumlah kesalahan yang sering dilakukan pemilik mobil matic.
Mulai dari cara memindahkan posisi tuas transmisi, kebiasaan ketika berhenti di tanjakan, sampai mengabaikan kondisi oli transmisi.
Baca Juga: Sate Ragei Jumbo, Dimarinasi 8 Jam dan Dipanggang Pakai Batok Kelapa
Berikut lima kebiasaan yang sebaiknya dihindari agar transmisi mobil matic tetap bekerja optimal.
1. Langsung Injak Gas Setelah Pindah dari P atau R
Kesalahan pertama adalah langsung menekan pedal gas sesaat setelah memindahkan tuas transmisi dari posisi Park (P) atau Reverse (R) menuju Drive (D).
Ketika posisi transmisi dipindahkan, sistem membutuhkan waktu sejenak untuk membangun tekanan oli hidraulik agar berada pada kondisi yang sesuai.
Karena itu, memberikan beban secara langsung dengan menginjak pedal gas dapat membuat sejumlah komponen bekerja sebelum sistem benar-benar siap.
Kebiasaan tersebut berpotensi memberikan tekanan berlebih pada komponen seperti clutch dan valve body.
Dalam jangka panjang, perpindahan gigi bisa terasa semakin kasar, komponen lebih cepat mengalami keausan, dan kemungkinan terjadinya slip pada transmisi dapat meningkat.
2. Menahan Mobil di Tanjakan Hanya dengan Pedal Gas
Situasi kemacetan di jalan menanjak juga bisa menjadi ujian bagi transmisi mobil matic.
Salah satu kebiasaan yang masih dilakukan sebagian pengemudi adalah menahan kendaraan agar tidak mundur dengan memainkan pedal gas.
Padahal, cara tersebut membuat torque converter bekerja lebih berat untuk mempertahankan posisi kendaraan.
Sebaiknya pengemudi memanfaatkan pedal rem atau fitur auto hold apabila kendaraan memilikinya.
Baca Juga: Heboh Saldo KKS Bansos Cair Dua Kali hingga Rp4,2 Juta, Apakah Error Bank?
Jika dilakukan terus-menerus, kondisi tersebut dapat membuat torque converter mengalami slip dan menghasilkan panas berlebih atau overheat.
Temperatur tinggi dapat mempercepat penurunan kualitas oli transmisi sekaligus meningkatkan risiko keausan komponen yang berada di dalam sistem transmisi otomatis.
3. Pindahkan D ke R Sebelum Mobil Berhenti Total
Kebiasaan lain yang berisiko menyebabkan kerusakan adalah mengubah posisi transmisi dari D ke R ketika kendaraan masih bergerak maju, atau melakukan hal sebaliknya.
Meski kendaraan hanya bergerak dalam kecepatan rendah, perubahan arah secara mendadak ketika roda masih berputar dapat memberikan beban besar terhadap mekanisme transmisi.
Komponen gir internal berpotensi menerima benturan yang tidak seharusnya sehingga risiko kerusakan mekanis menjadi lebih tinggi.
Untuk menjaga transmisi tetap awet, pengemudi sebaiknya memastikan kendaraan benar-benar berhenti total sebelum mengubah posisi tuas ke arah berlawanan.
4. Percaya Oli Transmisi Matic Tidak Perlu Diganti
Istilah lifetime pada oli transmisi juga kerap membuat pemilik mobil beranggapan bahwa cairan tersebut tidak perlu diganti selama kendaraan digunakan.
Padahal, oli transmisi dapat mengalami penurunan kualitas seiring bertambahnya jarak tempuh.
Viskositasnya dapat berubah, kontaminasi dari partikel logam dapat terjadi, dan kemampuan pelumasannya juga dapat berkurang.
Oli transmisi bukan hanya berfungsi sebagai pelumas. Cairan tersebut juga berperan penting dalam sistem hidraulik transmisi otomatis.
Baca Juga: Siap-siap, 8 Bansos Diprediksi Cair Serentak Mulai Awal September 2026
Karena itu, mengabaikan penggantian oli dalam waktu lama dapat memengaruhi kinerja transmisi secara keseluruhan dan meningkatkan risiko kerusakan.
Sebagai patokan umum, penggantian oli transmisi dapat dilakukan secara berkala pada kisaran 40.000 hingga 60.000 kilometer, namun interval terbaik tetap perlu menyesuaikan rekomendasi pabrikan dan kondisi penggunaan kendaraan.
5. Sering Akselerasi Mendadak dan Berkendara Agresif
Mobil dengan transmisi otomatis dirancang untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam berkendara.
Karena itu, kebiasaan mengemudi agresif dengan melakukan akselerasi secara tiba-tiba dapat memberikan beban tambahan pada sistem transmisi.
Ketika pedal gas ditekan secara mendadak dan berulang, komponen transmisi harus bekerja dalam kondisi tekanan yang lebih tinggi.
Selain berpotensi meningkatkan temperatur kerja komponen, gaya berkendara agresif juga dapat mempercepat keausan pada bagian-bagian yang mengalami gesekan di dalam transmisi.
Jika kebiasaan tersebut terus dilakukan, usia pakai transmisi dapat menjadi lebih pendek dibandingkan kondisi penggunaan yang lebih normal.
Kebiasaan Berkendara Berpengaruh pada Umur Transmisi
Merawat transmisi mobil matic sebenarnya tidak hanya bergantung pada kualitas komponen dan jadwal servis.
Kebiasaan pengemudi saat mengoperasikan kendaraan juga memiliki pengaruh besar terhadap daya tahan sistem transmisi.
Baca Juga: Ada 5 Bansos Akhir Agustus 2026, KPM Exclude Masih Punya Peluang
Memberikan jeda setelah memindahkan posisi tuas, menggunakan rem ketika berhenti di tanjakan, memastikan kendaraan berhenti total sebelum mengubah arah transmisi, memperhatikan kondisi oli, serta menghindari akselerasi berlebihan dapat membantu mengurangi beban kerja transmisi.
Dengan menghindari lima kebiasaan tersebut dan mengikuti jadwal perawatan sesuai rekomendasi pabrikan, pemilik mobil dapat membantu menjaga performa transmisi sekaligus mengurangi risiko biaya perbaikan yang besar di kemudian hari. (Renno/Unpak)
Editor : Yosep Awaludin