RADAR BOGOR - Hybrid dikenal sangat efisien di perkotaan dan kemacetan. Namun EV atau mobil listrik murni juga menggunakan motor listrik dan regenerative braking.
Lantas, ketika keduanya digunakan dalam kondisi macet, siapa yang sebenarnya lebih efisien? Pertanyaan ini kerap muncul di benak masyarakat yang setiap hari harus berhadapan dengan kemacetan jalanan kota.
Berikut pembahasan objektif mengenai efisiensi energi, simulasi biaya operasional, hingga pengaruh cuaca tropis dari kedua teknologi ini.
Baca Juga: Bingung dengan Istilah Hybrid di Mobil? Ini Info Lengkap Mild Hybrid, Full Hybrid, PHEV, hingga REEV
Rahasia Irit Saat Macet: Keduanya Sama-sama Cemerlang
Untuk memahami keunggulan kedua teknologi ini, penting mengingat masalah utama pada mobil bensin konvensional.
Saat macet total, mesin bensin harus tetap menyala (idle), sehingga bahan bakar terus terbakar dan terbuang menjadi panas meski mobil tidak bergerak.
Elektrifikasi hadir untuk mengatasi masalah ini, namun dengan pendekatan berbeda:
Baca Juga: Jangan Dibiarkan! Ini 6 Biang Kerok Knalpot Motor 4-Tak Keluar Asap dan Cara Mengatasinya
Mobil Hybrid bekerja seperti simfoni yang harmonis. Saat berhenti, sistem otomatis mematikan mesin bensin sehingga konsumsi langsung nol. Saat mulai bergerak pelan, motor listrik yang mengambil alih.
Saat pengereman, energi yang dihasilkan ditangkap kembali menjadi listrik melalui regenerative braking.
EV (Mobil Listrik Murni) mengambil pendekatan yang lebih elegan dengan menghilangkan mesin bensin seutuhnya.
Saat diam, konsumsi daya penggerak benar-benar nol. Karena baterainya berukuran besar, EV mampu menyerap energi pengereman jauh lebih banyak dan efisien di kondisi stop and go.
Baca Juga: Spesifikasi Wuling Eksion, SUV 7 Penumpang dengan Pilihan PHEV dan EV Jarak Tempuh 1.000 Km
Head to Head Efisiensi: Data Pengujian Perkotaan
Untuk membandingkan secara objektif, mari kita lihat skenario lalu lintas kota dengan kecepatan rata-rata 22 km/jam pada segmen compact SUV.
Toyota Yaris Cross Hybrid mencatat pencapaian fenomenal, mampu menembus 31 km/liter di kondisi macet. Sementara kompetitor EV-nya, BYD Atto 3 mencetak 11,7 km/kWh, dan Hyundai Ioniq berada di angka 8,1 km/kWh.
Karena satuan energinya berbeda (liter vs kWh), perlu dilakukan konversi ke satuan termodinamika yang sama. Dengan asumsi 1 liter bensin setara dengan sekitar 8,9 kWh energi, maka untuk menempuh jarak 100 km:
Baca Juga: Review Lengkap Polytron Fox 350, Penerus Motor Terlaris Polytron dengan Segudang Peningkatan
Mobil hybrid mengonsumsi energi total setara 28,6 kWh
EV dengan efisiensi 11,7 km/kWh hanya membutuhkan sekitar 8,54 kWh
Secara matematis, EV menggunakan energi sekitar tiga kali lebih sedikit dibanding hybrid untuk menempuh jarak yang sama di kondisi kemacetan.
Simulasi Biaya Operasional per 100 Km
Baca Juga: Keren Banget, Ada yang Beda dari Motor Honda Vario 125
Perhitungan energi tersebut tentu berdampak langsung pada pengeluaran finansial. Dengan asumsi harga Pertamax non-subsidi dan tarif listrik PLN saat ini:
- Mobil hybrid: biaya menempuh 100 km sekitar Rp51.000-an
- EV dengan pengisian di SPKLU umum (tarif paling mahal): sekitar Rp21.000-an
- EV dengan pengisian di rumah malam hari (tarif PLN R1 biasa): bisa turun drastis menjadi sekitar Rp7.000-an untuk 100 km
Baca Juga: Honda AMAX 160 Meluncur, Skutik Sporty Ini Diklaim Siap Saingi Yamaha Aerox
Perbedaan pengeluaran finansial yang ditawarkan EV di sini terbilang sangat signifikan dibanding hybrid.
Pengaruh Cuaca Tropis: Realita AC di Bawah Terik Matahari Indonesia
Kondisi cuaca panas di Indonesia turut memengaruhi efisiensi kedua teknologi ini secara berbeda.
Pada mobil hybrid, saat terjebak macet statis dalam waktu cukup lama, AC yang membutuhkan listrik akan menguras daya baterai hybrid yang memang dibuat kecil hanya dalam hitungan menit.
Baca Juga: ALVA Cervo Telah Hadir, Skutik Listrik Karya Anak Bangsa Siap Saingi Yamaha NMAX dan Honda PCX
Akibatnya, komputer mobil terpaksa membangunkan mesin bensin untuk memutar generator pengisi baterai agar kompresor AC tetap menyala. Inilah alasan mengapa angka 31 km/liter bisa menurun saat cuaca sangat panas.
Pada EV, kompresor AC bisa menyedot daya sekitar 2,5-3,0 kW secara terus-menerus. Saat mobil berjalan, angka ini tidak terlalu terasa.
Namun saat EV diam total di kemacetan (0 km/jam), hingga 75% energi baterai bisa habis hanya untuk menjaga kabin tetap sejuk.
Meski demikian, keunggulannya adalah kabin tetap dingin maksimal, suasana senyap, dan tetap nol emisi.
Baca Juga: Yamaha YZF R2 Resmi Meluncur, Motor Sport 200cc Ini Tampil Lebih Galak dari R15
Faktor Deviasi Dunia Nyata
Perlu dipahami bahwa angka pengujian dari pabrikan merupakan tolok ukur ideal. Di dunia nyata, variabel seperti gaya menyetir agresif, muatan penumpang penuh, hingga tekanan ban yang kurang, bisa memangkas efisiensi sekitar 10-20%.
EV juga membawa beban tambahan berupa baterai besar yang berat, namun hal ini berhasil diimbangi dengan sistem regenerative braking yang masif.
Pada akhirnya, secara efisiensi murni, EV tetap memegang posisi teratas, diikuti dengan sangat ketat oleh hybrid di posisi kedua.
Baca Juga: Panduan Lengkap Sebelum Beli Mobil Hybrid, Ini yang Perlu Anda Pahami
Mana yang Lebih Cocok untuk Anda?
Tidak ada satu pemenang mutlak yang cocok untuk semua orang, karena teknologi terbaik adalah yang paling sesuai dengan ritme hidup masing-masing pengguna.
Secara objektif, EV unggul dalam hal termodinamika dan ekonomi untuk kondisi kemacetan kota stop and go, dengan efisiensi yang sulit ditandingi.
Namun hybrid tetap menjadi jembatan yang brilian, menawarkan penghematan signifikan di dalam kota dibanding mobil bensin biasa, sekaligus memberikan kebebasan dan kepraktisan tanpa perlu khawatir mencari lokasi SPKLU saat harus melakukan perjalanan jauh mendadak.
Baca Juga: Honda Luncurkan Skutik Model Baru, Wujud All New Beat Street Bergaya Adventure Bocor ke Publik
EV cocok untuk Anda jika:
- Rute harian yang cukup tertebak dan konsisten
- Sangat memperhitungkan biaya operasional bulanan
- Mendambakan kabin yang senyap tanpa getaran
Baca Juga: Suzuki TVL 350 Diluncurkan, Skutik Maxi Ini Siap Saingi Yamaha XMAX dan Honda Forza
Hybrid cocok untuk Anda jika:
- Gemar melakukan road trip antar provinsi
- Memprioritaskan kepraktisan tanpa khawatir soal jarak tempuh
- Masih nyaman mengandalkan SPBU yang tersedia di mana-mana
Pada akhirnya, pilihan terbaik kembali pada gaya hidup dan kebutuhan masing-masing individu.***
Editor : Eli KustiyawatiSumber : YouTube Omdovlog Channel