RADAR BOGOR - Bohlam lampu sein atau riting sepeda motor yang baru diganti tetapi kembali putus saat mesin digas bisa menjadi tanda adanya masalah pada sistem kelistrikan.
Kondisi lampi sein mati tersebut tidak selalu disebabkan oleh kualitas bohlam yang buruk, melainkan dapat dipicu oleh kerusakan pada kiprok atau regulator.
Kerusakan pada komponen pengatur tegangan tersebut dapat menyebabkan arus listrik melonjak secara berlebihan ketika putaran mesin meningkat.
Akibatnya, bohlam lampu sein menerima tegangan yang melebihi kapasitasnya hingga akhirnya filamen putus atau bagian dalam bohlam terbakar.
Masalah kelistrikan seperti ini cukup sering ditemukan pada sejumlah motor harian, termasuk sepeda motor bebek lawas seperti Honda Astrea Star.
Salah satu gejala yang mudah dikenali adalah lampu sein tiba-tiba menyala jauh lebih terang ketika gas ditarik tinggi.
Baca Juga: Curug Ciherang: Wisata Alam All-in-One di Puncak 2 Bogor, Cocok untuk Liburan Akhir Pekan
Namun, tak lama kemudian lampu langsung mati karena filamen di dalam bohlam putus atau menghitam akibat panas berlebih.
Jika kondisi tersebut terus dibiarkan, kerusakan tidak hanya terjadi pada bohlam lampu sein.
Lonjakan tegangan berlebih atau overcharge juga berpotensi merusak komponen kelistrikan lainnya, mulai dari aki, lampu utama, hingga flasher sein.
Penyebab Lampu Sein Motor Langsung Putus Saat Mesin Digas
Mengacu pada ulasan teknis Basri Motor Channel, terdapat sejumlah tanda dan penyebab utama yang membuat bohlam lampu sein motor cepat putus atau terbakar saat putaran mesin tinggi.
Kiprok atau Regulator Mengalami Kerusakan
Kiprok memiliki peran penting dalam sistem kelistrikan sepeda motor. Komponen ini berfungsi mengatur sekaligus membatasi tegangan listrik yang berasal dari spul agar arus yang diteruskan menuju sistem kelistrikan, lampu, dan aki tetap berada pada kondisi stabil.
Ketika kiprok mengalami kerusakan atau jebol, fungsi pengatur tegangan tidak lagi bekerja secara normal.
Arus listrik dari spul dapat mengalir dengan tegangan yang terlalu tinggi menuju bohlam lampu.
Kondisi inilah yang membuat bohlam menerima beban listrik berlebihan hingga akhirnya cepat panas, terbakar, dan putus.
Tegangan Listrik Melonjak atau Overcharge
Kerusakan kiprok dapat diketahui melalui pemeriksaan menggunakan multitester atau avometer.
Pengukuran dapat dilakukan pada kabel keluaran kiprok, termasuk kabel merah yang berhubungan dengan sistem pengisian.
Baca Juga: Waspada Penyalahgunaan KTP dan NIK, Hal Ini Bisa Mempengaruhi Pencairan Bansos
Saat mesin diputar pada putaran tinggi, tegangan yang seharusnya dikendalikan justru dapat meningkat secara drastis.
Dalam kondisi tertentu, hasil pengukuran bahkan dapat menunjukkan angka lebih dari 30 hingga 32 Volt ketika mesin digas tinggi.
Padahal, bohlam pada sistem kelistrikan motor umumnya dirancang untuk bekerja pada tegangan 12 Volt.
Tegangan yang terlalu tinggi tentu membuat filamen bohlam tidak mampu bertahan lama.
Catatan Teknis Pemeriksaan Kiprok
Untuk mengetahui kondisi regulator, pengukuran dapat dilakukan menggunakan avometer saat mesin hidup dan putaran mesin dinaikkan.
Pada kondisi normal, tegangan keluaran kiprok ketika mesin berada pada putaran tinggi seharusnya tetap stabil di kisaran 8 hingga 9 Volt.
Namun, apabila angka pada multimeter meningkat secara ekstrem hingga menembus lebih dari 30 Volt, kondisi tersebut menjadi indikasi kuat bahwa kiprok sudah mengalami kerusakan dan tidak lagi mampu menjalankan fungsi pengaturan tegangan.
Dalam situasi seperti itu, kiprok perlu segera diganti agar lonjakan tegangan tidak terus merusak komponen kelistrikan lainnya.
Cara Mengatasi Lampu Sein Motor yang Sering Putus
Mengganti bohlam lampu sein berulang kali tanpa memperbaiki penyebab utamanya hanya akan membuat biaya perawatan semakin besar.
Agar masalah lampu sein yang sering putus dapat diatasi dari sumbernya, beberapa langkah teknis berikut dapat dilakukan.
Baca Juga: Situ Burangkeng, Spot Wisata Gratis Tempat Ngadem di Tengah Panasnya Bekasi
1. Periksa Tegangan dari Spul
Langkah awal yang dapat dilakukan adalah memeriksa suplai listrik yang berasal dari spul.
Pengecekan dapat dilakukan pada kabel putih untuk mengetahui apakah arus AC yang dihasilkan masih berada dalam kondisi normal dan tidak terdapat masalah pada sumber kelistrikan awal.
2. Ganti Kiprok atau Regulator yang Rusak
Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya lonjakan tegangan yang tidak normal, kiprok yang bermasalah perlu diganti dengan unit baru.
Penggunaan kiprok dengan kondisi baik dan kualitas yang sesuai akan membantu sistem kelistrikan kembali bekerja normal karena tegangan dari spul dapat kembali diatur dan dibatasi.
3. Lakukan Pengukuran Tegangan Kembali
Setelah kiprok baru dipasang, lakukan kembali pemeriksaan menggunakan avometer.
Pastikan tegangan keluaran tetap stabil ketika mesin digas hingga putaran tinggi. Dalam kondisi normal, hasil pengukuran diharapkan berada pada kisaran aman sekitar 8 hingga 9 Volt DC sesuai hasil pengujian teknis.
Jika tegangan sudah kembali stabil, risiko bohlam lampu menerima arus berlebihan dapat diminimalkan.
4. Pasang Bohlam Baru dan Periksa Flasher Sein
Setelah sumber masalah pada kiprok diperbaiki, bohlam lampu sein yang sebelumnya rusak dapat diganti dengan yang baru.
Selain itu, periksa juga kondisi flasher sein. Jika bohlam sudah menyala terang tetapi lampu sein tidak berkedip, ada kemungkinan komponen flasher ikut mengalami kerusakan akibat lonjakan arus yang sebelumnya terjadi.
Flasher yang sudah tidak bekerja normal dapat diganti agar sistem lampu sein kembali berfungsi sebagaimana mestinya.
Baca Juga: KPM Bansos Terexclude Kini Bisa Cair Lagi, Simak Cara dan Jadwal Pencairan PKH-BPNT September 2026
Setelah kiprok yang rusak diganti dan tegangan listrik kembali stabil, bohlam lampu sein seharusnya dapat bekerja normal dan tidak mudah putus meskipun mesin berada pada putaran tinggi.
Memahami gejala awal kerusakan sistem pengatur tegangan menjadi langkah penting dalam merawat kelistrikan sepeda motor.
Cara ini jauh lebih efektif dibandingkan terus mengganti bohlam lampu sein baru tanpa mengetahui penyebab utama bohlam tersebut berulang kali terbakar atau putus.
Dengan pemeriksaan kiprok dan sistem kelistrikan yang tepat, pemilik motor dapat mencegah kerusakan yang lebih luas pada aki, lampu utama, flasher, maupun komponen kelistrikan lainnya. (Irsyad/Unpak)
Editor : Yosep Awaludin