RADAR BOGOR - Fenomena motor bermesin 2 tak yang lebih boros bahan bakar dibandingkan motor 4 tak, meski memiliki kapasitas mesin lebih kecil sekalipun, masih menjadi pertanyaan besar bagi banyak penggemar otomotif tanah air.
Sebagai gambaran nyata, Yamaha RX King dengan mesin 132 cc hanya mampu mencatatkan konsumsi bahan bakar sekitar 30 hingga 35 kilometer per liter, sementara Honda Verza yang mesinnya justru lebih besar yakni 150 cc bisa mencapai efisiensi hingga 45 kilometer per liter, dikutip dari kanal YouTube Moto Z.
Fakta ini menjadi bukti bahwa kapasitas mesin bukan satu-satunya faktor penentu tingkat konsumsi bahan bakar sebuah motor.
Baca Juga: Ikat Muatan, Seorang Warga Langsung Meninggal di Parungpanjang Bogor, Begini Penjelasan Kapolsek
Jawaban paling mendasar mengenai borosnya motor 2 tak terletak pada proses pembakaran yang kurang sempurna dibandingkan mesin 4 tak.
Sistem kerja mesin 2 tak memang jauh lebih sederhana, karena hanya membutuhkan satu putaran kruk as dengan dua langkah kerja saja untuk menghasilkan satu siklus pembakaran yang menghasilkan tenaga.
Proses Pembakaran Tidak Sempurna Jadi Biang Kerok Utama
Kesederhanaan sistem kerja mesin 2 tak ternyata justru menjadi sumber masalah utamanya. Karena hanya terjadi dua langkah dalam satu siklus pembakaran, banyak sisa bahan bakar yang ikut terbuang keluar melalui knalpot saat proses pembuangan berlangsung.
Baca Juga: Tarikan Mobil Tiba-Tiba Lemot dan Boros? Bisa Jadi MAF Sensor Kotor, Begini Cara Membersihkannya
Selain itu, mesin 2 tak juga menghisap bahan bakar dua kali lebih sering dibandingkan mesin 4 tak, karena hanya membutuhkan dua langkah untuk menyelesaikan satu siklus pembakaran penuh.
Kondisi ini berbeda jauh dengan mesin 4 tak yang membutuhkan empat langkah dalam satu siklus pembakarannya.
Sayangnya, proses ledakan yang berlangsung sangat singkat pada mesin 2 tak membuat bahan bakar tidak sepenuhnya terbakar dengan sempurna, sehingga banyak yang ikut terbuang percuma ke saluran pembuangan.
Baca Juga: PIP 2026-2027 Diperluas ke Jenjang TK, Ini Rincian Nominal dan Aturan Baru Pengusulan
Faktor Rasio Kompresi dan Efisiensi Mesin
Menariknya, meski siklus kerja dan konsumsi bahan bakar mesin 2 tak dua kali lebih banyak, daya yang dihasilkan justru tidak mencapai dua kali lipat dibandingkan mesin 4 tak.
Hal ini disebabkan oleh faktor efisiensi mesin, di mana lubang intake dan exhaust pada mesin 2 tak sama-sama berada di dinding silinder, sehingga membuat ruang kompresinya menjadi terbatas.
Kondisi tersebut menjadikan rata-rata mesin 2 tak memiliki rasio kompresi yang jauh lebih kecil dibandingkan mesin 4 tak, yakni berkisar di angka 7 banding 1 ke bawah.
Baca Juga: Bomang Bogor Didorong Jadi Sentra Ketahanan Pangan, Lahan Pertanian Mulai Dioptimalkan
Sebagai perbandingan, mesin 4 tak bisa mencapai rasio kompresi 10 banding 1 ke atas. Meski secara power mesin 2 tak cenderung lebih besar pada kapasitas yang sama, efek sampingnya adalah konsumsi bahan bakar yang jauh lebih boros.
Peran Katup dan Oli Samping dalam Borosnya Mesin 2 Tak
Penyebab lain borosnya mesin 2 tak terletak pada ketiadaan katup pengatur bahan bakar, terutama pada mesin-mesin 2 tak generasi lama.
Pada model jadul, alur masuk dan keluar bahan bakar hanya diatur oleh posisi piston, sehingga membuat sebagian bensin ikut lolos keluar saat proses pembilasan berlangsung.
Baca Juga: Kekeringan di Jonggol, Pemkab Bogor dan LAZ Rabbani Salurkan 8.000 Liter Air Bersih
Beruntung, motor 2 tak generasi lebih modern sudah menggunakan sistem katup semacam reed valve untuk mengatur masuknya bahan bakar ke ruang bakar secara lebih presisi.
Faktor lain yang turut menambah beban biaya pemilik motor 2 tak adalah kebutuhan oli samping sebagai campuran bahan bakar.
Oli samping berfungsi melumasi berbagai komponen di area ruang bakar seperti piston ring, piston, kruk as, dan dinding silinder, namun sayangnya oli ini ikut terbakar bersama bahan bakar.
Baca Juga: BRI Teken PKB 2026–2028 dengan Serikat Pekerja, Perkuat Kesejahteraan Insan BRILiaN
Meski konsumsinya tidak terlalu boros karena satu liter oli samping bisa digunakan hingga jarak tempuh 1.500 kilometer, kebutuhan ini tetap menjadi biaya tambahan yang harus dikeluarkan pemilik motor 2 tak, berbeda dengan oli mesin pada motor 2 tak yang justru hanya berfungsi melumasi transmisi dan bisa bertahan hingga 6 bulan sampai satu tahun pemakaian.
Emisi Gas Buang Jadi Alasan Utama Motor 2 Tak Berhenti Diproduksi
Meski faktor boros bahan bakar menjadi salah satu alasan motor bermesin 2 tak sudah tidak lagi diproduksi saat ini, faktor utama penghentian produksinya justru terletak pada emisi gas buang yang tidak ramah lingkungan.
Bercampurnya oli samping yang ikut terbakar membuat asap yang dikeluarkan dari knalpot motor 2 tak jauh lebih banyak dan berpotensi mencemari lingkungan jika terus digunakan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Cumi dan Sotong Beku Asal Caringin Bogor Tembus Pasar Jepang, Diskanak Perkuat Standar Mutu
Meski demikian, pesona motor 2 tak nyatanya masih tetap bertahan hingga saat ini di kalangan penggemar otomotif tanah air.
Sensasi suara khas dan tenaga instan yang dihasilkan mesin 2 tak memang memiliki daya tarik tersendiri yang sulit tergantikan, menjadikan motor jenis ini tetap memiliki basis penggemar setia meski produksinya sudah lama dihentikan oleh para pabrikan demi memenuhi standar emisi gas buang yang berlaku saat ini.***
Editor : Eka RahmawatiSumber : YouTube Moto Z