RADAR BOGOR - Toyota, produsen otomotif yang selama hampir 80 tahun dikenal membangun hampir seluruh komponen mobilnya secara mandiri, kini mengambil langkah mengejutkan dengan membeli teknologi baterai dari BYD, kompetitor utamanya di pasar kendaraan listrik Tiongkok.
Keputusan ini menjadi sorotan besar industri otomotif dunia, mengingat Toyota selama ini dikenal sebagai perusahaan yang justru mengajarkan dunia cara membuat mobil secara efisien, bukan sebaliknya.
Melansir dari kanal YouTube Trend Populer, bukti nyata kerja sama ini dapat dilihat langsung di dealer Toyota Tiongkok, dimana konsumen bisa membeli sedan bZ3 dengan harga sekitar 169.800 yuan atau setara 24.000 dolar Amerika Serikat.
Baca Juga: Sisi Kota Camp Megamendung, Spot Camping Ground View Puncak yang Lagi Hits
Meski tampilan luarnya khas Toyota dengan penyetelan suspensi dan standar keselamatan bawaan pabrikan Jepang tersebut, baterai, motor listrik, dan teknologi penggerak utamanya justru berasal dari BYD.
Blade Battery, Teknologi BYD yang Bikin Toyota Tertarik
Inti dari kerja sama ini terletak pada Blade Battery milik BYD yang menggunakan kimia Lithium Iron Phosphate (LFP).
Berbeda dari baterai litium-ion berbasis nikel dan kobalt yang lebih umum digunakan, teknologi LFP ini tidak memerlukan kedua logam tersebut sebagai material katodanya, sehingga biaya produksinya bisa ditekan lebih rendah dengan tingkat stabilitas termal yang lebih baik.
Baca Juga: Antisipasi Bahaya Abu Vulkanik Erupsi Gunung Anak Krakatau, Polres Bogor Bagikan Masker ke Warga
Keunggulan Blade Battery semakin terbukti melalui pengujian ekstrem berupa penusukan paku logam langsung ke sel baterai yang terisi penuh.
Pada baterai konvensional, suhu bisa melonjak hingga 500 derajat celsius dalam hitungan detik dan memicu kebakaran, namun Blade Battery hanya mengalami kenaikan suhu pada kisaran 30 hingga 60 derajat celsius tanpa menimbulkan api maupun ledakan.
Bagi Toyota yang identik dengan standar keselamatan tinggi selama puluhan tahun, hasil pengujian tersebut menjadi salah satu alasan kuat untuk mempercayakan teknologi baterai kendaraan listriknya kepada BYD.
Baca Juga: CFD Dijanjikan Rutin Setiap Pekan, Pemkot Bogor Siapkan Aturan untuk Pedagang
Pasar Tiongkok Berubah Drastis, Toyota Kehilangan Pijakan
Keputusan Toyota bermitra dengan BYD tidak lepas dari perubahan pasar otomotif Tiongkok yang bergerak jauh lebih cepat dari perkiraan.
Saat ini, lebih dari separuh mobil baru yang terjual di Tiongkok merupakan kendaraan listrik atau plug-in hybrid, sebuah pergeseran drastis yang terjadi dalam waktu relatif singkat.
Akibatnya, penjualan Toyota dan Volkswagen di pasar tersebut tercatat turun sekitar 15 hingga 20 persen hanya dalam kurun waktu satu tahun.
Baca Juga: Afgan Rilis Lagu Langit Merah Muda, Jadi OST Film Agensi Rumah Tangga
Produsen otomotif asal Tiongkok seperti BYD berhasil menawarkan kendaraan listrik dengan harga lebih terjangkau, pengisian daya lebih cepat, serta fitur-fitur modern seperti layar sentuh besar dan sistem bantuan berkendara pintar yang lebih diminati konsumen.
Kondisi ini membuat strategi Toyota yang selama bertahun-tahun berfokus pada teknologi hybrid dan hidrogen mulai kehilangan relevansinya di mata konsumen Tiongkok yang menginginkan kendaraan listrik sepenuhnya.
Bukan Sekadar Membeli Baterai, Tapi Membeli Waktu
Bagi Toyota, baterai merupakan komponen paling krusial dalam kendaraan listrik yang bisa menyumbang sekitar 30 hingga 40 persen dari total biaya produksi.
Baca Juga: 7 Tips Mengemudi Mobil Manual untuk Pemula agar Lancar dan Tidak Mudah Panik di Jalan Raya
Membangun rantai pasokan baterai sendiri dari nol membutuhkan investasi miliaran dolar serta waktu bertahun-tahun untuk mengamankan bahan baku litium, nikel, dan kobalt, sekaligus membangun fasilitas produksi dan melatih tenaga kerja ahli.
Dibandingkan membangun semuanya dari awal, Toyota memilih memanfaatkan teknologi dan skala produksi yang sudah dimiliki BYD sejak perusahaan tersebut didirikan pada 1995 sebagai produsen baterai ponsel.
Keahlian BYD dalam mengendalikan rantai produksi baterai secara mandiri, mulai dari bahan kimia hingga baterai siap pasang, menjadikan perusahaan tersebut mampu menekan biaya produksi sekaligus mempercepat proses inovasi desain baterai dibandingkan produsen mobil yang masih bergantung pada banyak pemasok eksternal.
Baca Juga: Kabar Terbaru Pencairan Bansos PKH, BPNT, dan PIP, Segini Progresnya
Kerja Sama Toyota-BYD Sejak 2019, Bukan Keputusan Mendadak
Kolaborasi antara kedua raksasa otomotif ini sebenarnya sudah dimulai sejak 2019 melalui pembentukan perusahaan patungan bernama BYD Toyota EV Technology Company Limited dengan kepemilikan saham dibagi rata 50:50.
Dalam kemitraan tersebut, BYD berkontribusi pada aspek baterai, motor listrik, dan teknologi kendaraan listrik, sementara Toyota menyumbangkan pengalaman dalam pengembangan kendaraan, kontrol kualitas, standar keselamatan, dan produksi massal.
Hasil nyata dari kerja sama tersebut adalah Toyota bZ3 yang tersedia dalam dua pilihan kapasitas baterai, yakni 49,9 kWh dan 65,3 kWh, dengan jarak tempuh mencapai 517 hingga 616 kilometer berdasarkan siklus pengujian Tiongkok.
Baca Juga: Honda CBR 250R CBU Bekas Kini Rp15 Jutaan, Dulu Rp60 Juta dan Punya Julukan CBR Sempak
Kendaraan ini bahkan mendukung pengisian cepat dari 30 hingga 80 persen kapasitas baterai hanya dalam waktu sekitar 27 menit, cukup untuk mengisi daya sambil menikmati waktu istirahat singkat sebelum melanjutkan perjalanan.
Rencana Besar Toyota di Balik Kerja Sama dengan BYD
Meski terlihat seperti mengalah kepada rivalnya, langkah Toyota bekerja sama dengan BYD sebenarnya merupakan strategi jangka panjang yang lebih besar.
Di balik layar, Toyota tengah menginvestasikan dana besar untuk mengembangkan teknologi baterai Solid-State yang ditargetkan bisa diterapkan pada kendaraan komersial sekitar tahun 2027 hingga 2028, dengan proyeksi jarak tempuh lebih dari 1.000 kilometer dan waktu pengisian daya yang jauh lebih singkat dibandingkan baterai litium-ion konvensional saat ini.
Baca Juga: Kabar Terbaru Pencairan Bansos PKH, BPNT, dan PIP, Segini Progresnya
Kerja sama antara Toyota dan BYD ini menjadi bukti bahwa aturan lama dalam industri otomotif mulai bergeser, di mana kompetitor sekalipun kini bisa saling berkolaborasi demi bertahan di tengah persaingan pasar kendaraan listrik yang semakin ketat.
Bagi Toyota, langkah ini bukan tanda kekalahan, melainkan strategi cerdik untuk memenangkan persaingan jangka pendek di Tiongkok, sembari terus mempersiapkan inovasi teknologi baterai generasi berikutnya yang berpotensi mengubah kembali peta persaingan industri kendaraan listrik global di masa mendatang.***
Editor : Asep SuhendarSumber : YouTube trend populer